Avesiar – Jakarta
Untuk mendukung kemajuan pendidikan nasional, perguruan tinggi swasta harus memiliki kesetaraan dengan kampus negeri, termasuk dalam aspek dukungan pembiayaan, pengembangan institusi, serta akses terhadap program pemerintah.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati, sebagai keynote speech dalam seminar bertema, “Pendidikan Leadership di Era Digitalisasi di Lingkungan Perguruan Tinggi” di Tanri Abeng University, Jakarta, Ahad (17/5/2026).
Menurut dia, perguruan tinggi swasta memiliki kontribusi besar dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul. Sehingga perlu mendapatkan perhatian yang setara dalam kebijakan pendidikan nasional. “DPR akan mengawal Undang-Undang Pendidikan Nasional agar perguruan tinggi swasta disetarakan dengan negeri,” kata Mufidayati,
Wakil ketua komisi X DPR RI itu menyampaikan bahwa mahasiswa harus memiliki visi, cita-cita, kepemimpinan, dan inovasi agar proses pendidikan tidak hanya menjadi rutinitas akademik semata. Perguruan tinggi, lanjutnya, memiliki peran penting dalam melahirkan pemimpin bangsa dan sumber daya manusia unggul yang akan menentukan masa depan Indonesia.
Mufidayati menegaskan bahwa Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada tahun 2045 sehingga pembangunan SDM menjadi prioritas utama yang harus dipersiapkan melalui pendidikan tinggi yang berkualitas.
Pihak legislatif saat ini, imbuhnya, tengah mendorong revisi regulasi pendidikan yang mencakup undang-undang guru dan dosen serta pendidikan tinggi. Menurutnya, guru dan dosen merupakan profesi strategis yang melahirkan para pemimpin bangsa, menteri, akademisi, dan berbagai profesi lainnya di Indonesia sehingga peningkatan kompetensi dan kesejahteraan tenaga pendidik harus menjadi perhatian bersama. Selain itu, ia turut menekankan pentingnya perluasan akses beasiswa dan bantuan pendidikan bagi mahasiswa agar angka putus kuliah akibat keterbatasan ekonomi dapat ditekan.
Mufidayati juga menegaskan bahwa digitalisasi di lingkungan perguruan tinggi merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh seluruh institusi pendidikan. Mahasiswa dituntut untuk mampu menguasai teknologi digital, meningkatkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking skill), serta siap bersaing dengan mahasiswa maupun tenaga kerja dari negara lain. Meski demikian, perkembangan teknologi menurutnya harus tetap diimbangi dengan pendidikan karakter, integritas, etika, serta nilai keimanan agar pemanfaatan teknologi tidak disalahgunakan.

Pembicara lain pada seminar tersebut yaitu; Plt. Rektor Tanri Abeng University Suyanto, Peneliti Pendidikan di Digdaya Indonesia Nazmul Watan, Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi TAU Firmansyah Bachtiar, Dekan Fakultas Manajemen dan Kepemimpinan TAU Awang Darmawan Putra, serta Kepala Biro Kemahasiswaan TAU Akhmad Hairul Umam, sebagai moderator.
Seminar yang dihadiri 4 pembicara tersebut membahas transformasi digital, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta tantangan pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Nazmul Wattab dari Digdaya Indonesia yang membahas kepemimpinan digital di lingkungan pendidikan tinggi. Dalam presentasinya, Nazmul menjelaskan bahwa perubahan global dan perkembangan teknologi pascapandemi telah mengubah sistem pendidikan, pola komunikasi, hingga tata kelola organisasi.
Menurutnya, digitalisasi dan AI kini menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan dan dunia kerja sehingga perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tersebut.
Nazmul menyampaikan bahwa hasil penelitian menunjukkan gaya kepemimpinan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas dan prestasi lembaga pendidikan. Oleh sebab itu, pemimpin perguruan tinggi dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi terhadap teknologi digital dan mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas serta efektivitas pengelolaan institusi pendidikan. Ia menilai bahwa perkembangan AI telah mengubah kebutuhan industri dan pasar kerja sehingga kampus harus segera menyesuaikan kurikulum dan sistem pembelajaran agar lulusan mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja berbasis teknologi.
Dalam pemaparannya, Nazmul juga menyoroti masih adanya tantangan dalam transformasi digital pendidikan di Indonesia, terutama terkait kompetensi digital dosen, mahasiswa, dan infrastruktur teknologi. Menurutnya, masih terdapat kesenjangan akses teknologi, khususnya di wilayah luar Pulau Jawa yang belum sepenuhnya memiliki fasilitas pendukung digitalisasi pendidikan. Selain itu, ia menyebut masih banyak tenaga pendidik yang belum optimal dalam memanfaatkan teknologi digital dan AI sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Sebagai solusi, Nazmul memperkenalkan konsep 4D Digital Leadership Blueprint yang terdiri atas Digital Intelligence, Adaptive Influence, Digital Ecosystem, dan Data-Driven Leadership. Konsep tersebut menekankan pentingnya kemampuan pemimpin dalam memahami teknologi digital, beradaptasi dengan perubahan, membangun budaya organisasi berbasis digital, serta mengambil keputusan berbasis data dan teknologi. Menurutnya, kepemimpinan digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diterapkan oleh lembaga pendidikan agar mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan global.
Selain itu, Nazmul juga mengingatkan bahwa penggunaan AI di lingkungan pendidikan harus dilakukan secara bijak. Menurutnya, mahasiswa dan dosen tetap perlu melakukan validasi informasi serta mengembangkan kemampuan analisis kritis dalam memanfaatkan teknologi AI. Ia menilai bahwa AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas pembelajaran, bukan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan tanpa proses analisis dan evaluasi akademik.
Tanri Abeng University menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi berbasis digital, penguatan karakter, serta pengembangan kepemimpinan generasi muda. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga riset dalam menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global guna mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. (adm/srv)












Discussion about this post