Avesiar – Pekanbaru
Namanya Haldi Rahmat. Dia berasal dari kampung kecil bernama Subarak, Negeri para Raja; Gunung Sahilan, Kampar. Pada Idul Adha kemarin, Haldi didaulat menjadi khatib. Padahal umurnya baru genap 13 tahun.
Haldi sekolah di Pondok Pesantren Annizham Darussalam, Kampar, Pekanbaru. Riau. Sebenarnya dia baru dua minggu duduk kelas dua. Ilmunya masih sangat dasar. Tapi kepercayaan dirinya luar biasa. 17 menit khutbahnya benar-benar meresap ke sukma jamaah.
Ketika takbir sembilan kali di khutbah pertama, Haldi benar-benar membuat air mata jamaah berderai. Apalagi ketika Haldi melaungkan takbir dengan suara serak dan sebak, ketika dia mengusap air matanya, jamaah pun menemui klimaks pada awal khutbah pertama.
Bukan hanya Haldi yang membuat suasana shalat Idul Adha di lingkungan pondok pesantren itu terkesima. Bilal, yang melaungkan shalawat dan pujian menjelang khatib naik mimbar pun, demikian adanya. Yang bertugas adalah Opix Adrian. Usianya bahkan lebih muda dari Haldi. Lenggok shalawat yang dilaungkannya benar- benar lembut dan menyentuh kalbu.
Cukup? Ya tidak. Atmosfir berbeda shalat hari raya semakin terasa ketika Muhammad Darta didaulat sebagai imam. Ketika dia lantunkan irama Jiharkah, suasana jadi hening. Bening suaranya. Darta juga masih berumur 13 tahun di tahun ini.
Kehadiran Haldi, Opix, dan Darta di mimbar shalat Idul Adha adalah fenomena unik dan menarik di negeri ini. Bagaimana tidak, ketika orang tua ketakutan dengan kenakalan anaknya, dan serbuan game handphone yang mewabah, ternyata mereka hadir dengan cara berbeda.
Mereka menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bisa diandalkan sebagai generasi yang lebih baik. Takkan hilang tradisi keilmuan dan kealiman di negeri ini. Secercah harapan telah menyemburat di tengah kegersangan dunia yang fana.
Ini tentu saja berkat usaha keras mereka dan dibantu oleh guru-guru di Pondok Pesantren Annizham Darussalam Gunung Sahilan. Selain memberi ilmu, mereka juga diberi kesempatan, dan diyakinkan mampu tampil di muka umum.
Matahari mungkin tenggelam ditelan jahatnya kemajuan. Tapi di sini, tradisi keilmuan, budi pekerti, dan amalan, telah menyemburat dengan keyakinannya. (saidul tombang)













Discussion about this post