Avesiar – Jakarta
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah Thailand melancarkan serangan udara pada hari Senin (8/12/2025) terhadap negara tetangganya, Kamboja.
Dikutip dari The New Arab, Senin (8/12/2025), kedua belah pihak saling menyalahkan atas pertempuran baru di perbatasan yang disengketakan serta telah menewaskan empat warga sipil Kamboja dan seorang tentara Thailand.
Menurut otoritas Wilayah Angkatan Darat Kedua Thailand, sekitar 35.000 orang telah dievakuasi dari daerah perbatasan.
Pertempuran lima hari antara Thailand dan Kamboja musim panas ini menewaskan 43 orang dan membuat sekitar 300.000 orang mengungsi di kedua sisi perbatasan sebelum gencatan senjata diberlakukan.
Bulan lalu, Thailand menunda kesepakatan lanjutan yang didukung oleh Presiden AS Donald Trump untuk meredakan permusuhan, dengan mengatakan ledakan ranjau darat di perbatasan telah melukai beberapa tentara.
Akibatnya, para pejabat Kamboja dan Thailand telah melaporkan pertempuran sporadis di sepanjang perbatasan mereka, yang kembali terjadi pada hari Minggu dan Senin.
Menteri Penerangan Kamboja, Neth Pheaktra, mengatakan kepada AFP bahwa setidaknya empat warga sipil Kamboja tewas akibat penembakan yang dilakukan Thailand pada hari Senin di provinsi perbatasan Preah Vihear dan Oddar Meanchey.
Sekitar 10 warga sipil lainnya terluka, termasuk seorang jurnalis Kamboja yang terkena pecahan roket Thailand, kata Neth Pheaktra.
Sementara itu, tentara Thailand mengatakan satu tentaranya tewas dan 18 lainnya luka-luka sejak pertempuran baru dimulai pada hari Minggu.
Neth Pheaktra, menteri tersebut, mengatakan kepada wartawan bahwa setidaknya 1.157 keluarga telah dievakuasi ke tempat aman di Oddar Meanchey saja.
Konflik ini berpusat pada perselisihan yang telah berlangsung selama seabad mengenai perbatasan yang dipetakan selama masa penjajahan Prancis di wilayah tersebut, dengan kedua belah pihak mengklaim beberapa kuil di perbatasan. (ard)













Discussion about this post