Avesiar – Jakarta
Istilah thoriqoh atau lazim diucapkan tarekat sangat familiar di Indonesia. Membahas mengenai hal ini, dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, Selasa (2/6/2026), dituliskan bahwa tarekat yaitu sebuah praktek keagamaan Islam yang melibatkan semua aspek lahir dan bathin manusia.
Ada yang eksoteris dan isoteris. Yang intrinsik dan instrumental. Yang sir dan jahr. Tidak hanya hari ini namun juga disinyalir kuat semenjak masuknya Islam ke Nusantara. Bahkan menjadi strategi utama syiar Islam pada saat itu.
Kata thoriqoh/tarekat sendiri berasal dari bahasa Arab طريقة yang berarti jalan, petunjuk, cara, metode, system, uslub, mazhab, aliran, haluan, keadaan, tiang tempat berteduh, tongkat, payung dll.
Secara terminologis, KH Muhammad Sholeh bin Umar (KH. Sholeh Darat) menjelaskan dalam kitabnya Minhajul Atqiya’ fi Syarhi Ma’rifatil Adzkiya’ ila Thariqatil Auliya’, Thariqah itu sebuah pelaksanaan ibadah dengan semangat keseriusan, tidak memilih ibadah yang ringan saja, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Teknisnya menjaga dari barang haram dengan cara riyadlah (beribadah dengan penuh khusyu’).
Sehingga, yang dinamakan mengamalkan thoriqah, adalah melaksanakan syari’ah dengan benar secara dhahir dan bathin. Secara dhahir menghindari hal-hal haram, secara bathin dengan ‘azimah (mengharap dengan sungguh-sungguh) dengan cara riyadlah. Ontologi thoriqoh adalah Ihsan
Epistimologi thoriqoh adalah Ilmu Tasawuf ( تصوف ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi.
Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud dalam Islam, dalam perkembangannya melahirkan tradisi sufistik/mistisme Islam, yang kemudian melembaga dan mentradisi dalam berbagai bentuk, warna dan aliran tarekat/thoriqoh yang dipelopori oleh para sufi besar dan diikuti para muridnya hingga hari ini.
Dengan demikian thoriqoh/tarekat memiliki dua pengertian. Pertama, berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan segenap kehidupannya untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala hingga ma’rifatullah.
Kedua, thoriqoh/tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood), dengan sistem bai’at pada guru pembimbing (mursyid/muqoddam/khalifah dll.) Di dunia Islam ada istilah thoriqoh/tarekat mu’tabaroh dan ghoiru mu’tabaroh.
Hal ini sebenarnya mirip dengan ulumul hadis untuk mengukur kualitas hadis (shohih, hasan dan dlo’if) dengan kriteria tertentu yang disepakati oleh ulama hadis, demikian halnya dengan thoriqoh/tarekat, dianggap tidak mu’tabaroh apabila misalnya tidak Ittisholussanad/sanad tidak sampai pada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tentu berdasarkan ittifaq ulama sufi.
Tarekat merupakan salah satu elemen penting dalam perjalanan spiritual umat Islam. Perjalanan spiritual ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, zikir, dan pengabdian kepada guru spiritual yang dikenal dengan istilah mursyid.
Sejarah mencatat beberapa tokoh tasawuf dan tarekat memainkan peran penting dalam mengembangkan tradisi tasawuf di berbagai belahan dunia Islam. Mereka dikenal sebagai pendiri atau pengembang tarekat yang punya pengaruh besar dalam sejarah spiritual Islam.
Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, nerikut biografi singkat para tokoh tasawuf dan tarekat yang terus mewarnai perjalanan spiritual umat Islam di berbagai belahan dunia:
1. Imam Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)
Nama lengkap beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Thusi Al-Ghazali. Beliau sering dijuluki sebagai ‘hujjatul Islam’ atau ‘zainuddin’, karena keluasan ilmu beliau di bidang keagamaan. (Syamsuddin Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, Jilid 19, Cetakan III, [Muassasah ar-Risalah, 1985], hal. 322)
Al-Ghazali lahir di Thus, Khurasan, Persia (Iran) pada tahun 450 H/1058 M. Beliau kemudian berpindah ke Naisabur, Baghdad, Hijaz, Syam, dan Mesir, untuk menimba ilmu kepada para ulama di berbagai negara. Beliau wafat pada tahun 505 H/1111 M. (Khoiruddin Az-Zarkali, Al-A‘lam, [Darul ‘Ilmi lil Malayin, 2002], Jilid 7, Cetakan XV, hal. 22)
Ajaran tasawuf Al-Ghazali dititikberatkan pada pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan penghayatan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penyatuan antara syariat dan tasawuf, dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui pengetahuan dan ibadah.
Al-Ghazali memandang bahwa hanya melalui pendekatan spiritual yang mendalam, seorang muslim bisa mencapai ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah). Dalam karyanya yang terkenal, Ihya’ Ulum al-Din, beliau menyusun berbagai metode praktis untuk meningkatkan spiritualitas dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari, dan di dalam kitab tersebut, beliau memadukan antara teologi, fiqih, dan tasawuf.
2. Syekh Ahmad At-Tijani (1150-1230 H/1737-1815 M)
Nama lengkap beliau adalah Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad at-Tijani. Beliau lahir pada tahun 1150 H/1737 M di desa ‘Ain Madhi. Kampung ini letaknya di Gurun Sahara bagian timur negara Maghrib, yaitu di sebelah selatan Aljazair. Beliau wafat pada tahun 1230 H/1815 M di Fez, Maroko, dan dimakamkan di sana.
Syekh Ahmad At-Tijani merupakan pendiri Tarekat Tijaniyah yang memiliki tiga pokok amalan berupa bacaan yang dibaca secara rutin, yaitu:
1. Wirid Lazimah, wirid ini diamalkan setiap pagi hari (mulai selesai shalat shubuh sampai datangnya waktu dhuha) dan sore hari (mulai selesai shalat ashar sampai datangnya waktu isya). Bacaannya berupa istighfar, shalawat, dan tahlil.
2. Wirid Wadzifah, yakni amalan yang dilaksanakan satu kali dalam sehari semalam. Bacaannya berupa shalawat kepada Nabi saw, dan shalawatnya berupa shalawat al-fatih dan shalawat jauharat al-kamal,
3. Wirid Hailalah, yakni wirid yang dilaksanakan satu kali dalam seminggu di hari Jum’at setelah shalat ashar dengan membaca lâ ilaha illa Allah secara berjamaah sampai masuk waktu maghrib. (Yuslia Styawati, “Mengenal Tarekat di Dunia Islam: Qadiriyah, Syadziliyah, dan Syattariyah”, Jurnal Spiritualis, Vol.5, No.1, [Maret, 2019], hal. 63-86)
3. Abu Hasan Asy-Syadzili (593-656 H/1197-1258 M)
Nama lengkapnya adalah ‘Ali bin Abdallah bin ‘Abdal Jabbar Abu Hasan Asy-Syadzili. Lahir di Ghumara, dekat Ceuta saat ini, di utara Maroko, tahun 593 H/1197 M, wafat tahun 656 H/1258 M. Di antara guru rohaninya adalah ulama besar di zamannya bernama ‘Abdus Salam ibn Masyisy (w. 628 H/1228 M) yang juga dikenal sebagai Quthab dari Quthub para wali, seperti halnya Syekh ‘Abdul Qadir al-Jilani.
Syekh Abul Hasan As-Syadzili merupakan pendiri Tarekat Syadziliyah yang berpendapat moderat dalam masalah syariat dan tasawuf. Beliau berpendirian bahwa ilmu agama sangat penting, dan perlu dimiliki untuk menjaga diri dari kesesatan dan membantu mendekatkan diri kepada Tuhan. (Yuslia Styawati, Mengenal Tarekat di Dunia Islam…, hal. 63-86]
4. Syekh Ahmad Rifa’i (w. 578 H/1182 M)
Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Ali Ar-Rifa’i. Lahir di Wasit, Irak pada tahun 1106 M dan wafat tahun 578 H/1182 M. Beliau merupakan pendiri Tarekat Rifa’iyah yang ajarannya berfokus pada kerendahan hati, khidmat, dan cinta kepada Allah.
5. Syekh Abdul Qadir al-Jilani (470-561 H/1077-1166 M)
Nama lengkap beliau adalah Abdul Qadir bin Abi Shalih al-Jailani. Lahir di Gilan, Persia (Iran) pada tahun 470 H/1077 M dan wafat tahun 561 H/1166 M di Baghdad. Beliau belajar dari berbagai ulama di Baghdad. Ulama sufi terkemuka ini mendirikan Tarekat Qadiriyah yang ajaran intinya menitikberatkan pada mencapai kesucian hati melalui ibadah dan pengabdian penuh kepada Allah, serta menjauhi dunia yang bersifat material.
6. Imam Qusyairi (375-465 H/986-1074 M)
Nama lengkap beliau adalah Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad, Abul Qasim Al-Qusyairi. Beliau lahir pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 376 H dan wafat pada tanggal 16 Rabi’ul Akhir tahun 465 H di Naisabur.
Di antara guru beliau adalah Abu al-Husain Ahmad bin Muhammad al-Khaffaf, Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Abd al-Muzakki, Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan bin Faurak, Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah al-Hakim, dan yang lainnya.
Adapun murid-muridnya adalah anak-anaknya sendiri: Abu Nasr, Abdul Mun’im, Abu Abdillah al-Farawi, Zahir al-Shahhami, serta saudaranya Wajih dan lain-lain.
Imam Qusyairi juga banyak menulis kitab yang mengupas tentang ilmu tasawuf. (Muhammad bin Abdul Ghani Ibn Nuqtah, Al-Taqyid li Ma’rifati Ruwwat al-Sunan wal Masanid, [Darul Kutub Al-‘Ilmiyah], Cetakan I, hal. 366)
Imam Qusyairi termasuk salah seorang ulama yang ahli dalam bidang fikih, tafsir, hadis, usul fikih, sastra, dan syair. Di antara karya beliau adalah Tafsir Al-Kabir yang dianggap sebagai salah satu tafsir terbaik.
Selain itu, beliau juga menulis kitab Al-Risalah Al-Qusyairiyah, yang membahas tokoh-tokoh dalam dunia tasawuf dan tarekat. (Syamsuddin Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, [Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1985], Jilid XVIII, Cetakan III, hal 228)
7. Abu Thalib al-Makki (d. 996 M)
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ali al-Harits al-Makki. Lahir di Makkah dan wafat tahun 996 M. Ia menulis kitab Qutûl Qulub, yang menjadi landasan awal pemikiran tasawuf mengenai keutamaan hati dan ibadah.
8. Bahauddin an-Naqsyabandi (717-791 H/1318-1389 M)
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi. Lahir di Bukhara, Uzbekistan pada tahun 1318 M dan wafat tahun 1389 M. Beliau merupakan pendiri Tarekat Naqsyabandiyah yang ajaran intinya menekankan dzikir khafi (diam) dan pentingnya mengikuti syariat secara ketat.
9. Ibnu ‘Atha’illah (1250-1309 M)
Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Muhammad Ibn ‘Athaillah as-Sakandari. Lahir di Iskandariyah, Mesir pada tahun 1250 M di masa kekuasaan Dinasti Mamluk dan wafat pada tahun 1309 M. Dalam bidang sufi, beliau merupakan guru ketiga dari Tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Abu Hasan al-Syadzili (w. 656 H/1258 M), sedangkan di bidang fiqih, beliau menganut dan menguasai Mazhab Maliki.
Syekh Ibnu Atha’illah merupakan ulama yang tergolong produktif. Karya yang telah beliau hasilkan tidak kurang dari 20 kitab, meliputi bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadis, nahwu, dan ushul fiqih. Karya monumentalnya yang paling terkenal adalah kitab Al-Hikam yang di dalam kitab tersebut berisi rangkuman ajaran sufi. (Azizah Aryati, “Pemikiran Tasawuf Syeikh Ibn ‘Atoillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam”, Jurnal Manhaj, [Januari-April, 2017], Vol.5, No.1)
10. Jalaluddin Rumi (604-676 H/1207-1273 M)
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Al-Husein bin Ahmad al-Balkhi al-Rumi, dan biasa dikenal dengan nama Jalaluddin al-Rumi. Lahir di Balkh, Persia pada tahun 604 H/1207 M. Beliau merupakan salah satu ulama fiqih mazhab Hanafi yang juga seorang pendiri Tarekat Maulawiyah.
Adapun ajaran inti dari tarekat yang beliau dirikan adalah mengenai cinta Ilahi dan transformasi spiritual dengan mengajarkan pentingnya kecintaan terhadap Tuhan melalui seni, terutama puisi dan tarian.
Di antara karya monumental beliau adalah kitab Al-Matsnawi yang berbahasa Persia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Turki. Kitab Al-Matsnawi ini berisi bait-bait nadzam seputar ajaran sufi yang terdiri dari 6 jilid. (Khoiruddin Az-Zarkali, Al-A‘lam…, VII/30)
11. Abdullah asy-Syattar (w. 890 H/1485 M)
Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Muhammad al-Syattar. Beliau merupakan pendiri Tarekat Syattariyah yang pertama kali muncul di India pada abad ke-15 M.
Awalnya, tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah, sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bustamiyah. (Yuslia Styawati, “Mengenal Tarekat di Dunia Islam…, hal. 63-86)
12. Ibnu ‘Arabi (560-638 H/1165-1240 M)
Nama lengkap beliau adalah Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn al-‘Arabi al-Ta’ i al-Hatimi. Lahir di Murcia, Andalus (Spanyol) pada tahun 560 H/1165 M dan wafat tahun 638 H/1240 M di Damaskus. Gelar yang disandang oleh beliau adalah Muhyiddin dan al-Syaikh al-Akbar.
Beliau merupakan salah satu tokoh tasawuf falsafi dengan ajarannya yang terkenal, yakni Wahdat al-Wujud(Kesatuan Wujud) yang menyatakan bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari esensi Tuhan.
Di antara karya beliau yang monumental adalah al-Futuhat al-Makkiyah dalam bidang tasawuf dan psikologi, Muhadarat al-Abrar wa Musamarat al-Akhyar dalam bidang sastra, al-Jam’ wa Tafshil fi Haqaiq al-Tanzil, dan masih banyak lagi lainnya. (Dewi Nur Asiyah, “Pandangan Ibn al-‘Arabi mengenai Wahdat al-Wujud dan Konsep Kebahagiaan”, Jurnal Fuda IAIN Kediri, Vol.5, No.2, [Desember, 2021]: 73-83)
13. Amin al-Kurdi (w. 1332 H/1914 M)
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Amin al-Kurdi. Ia merupakan penganut dan mursyid tarekat Naqsyabandiyah dan merupakan penulis kitab Tanwirul Qulub fi Mu’amalah ‘Allamul Ghuyub. Ajaran inti tarekat Naqsyabandiyah itu fokus pada penyucian diri dan ketaatan syariat. Beliau wafat pada tahun 1332 H/1914 M di Kairo, Mesir. (Khoiruddin Az-Zarkali, Al-A‘lam…, VI/43)
(adm/sumber laman Nahdlatul Ulama)











Discussion about this post