Avesiar – Jakarta
Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah lisan. Melalui nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan tersebut, seseorang dapat mengungkapkan isi hati, menyampaikan kebenaran, bahkan membangun peradaban.
Sebaliknya, sebagaimana dilansir laman Nahdlatul Ulama, Kamis (2/4/2026), dalam materi khutbah Jum’at, lisan pula yang seringkali menjadi sebab kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.
Sebab itulah Islam memberikan perhatian besar terhadap bagaimana seorang Muslim menjaga dan menggunakan lisannya.
Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa melakukan interaksi dengan sesama, berbincang, berdiskusi dan membahas suatu hal menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Kehadiran media sosial di zaman sekarang menjadikannya ruang tanpa sekat yang menjadi fasilitas untuk aktifitas lisan, baik melalui tulisan maupun perkataan. Sayangnya, kebanyakan ucapan yang dilontarkan merupakan ucapan yang tidak mengandung manfaat di dalamnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Dari sekian banyak ucapan yang keluar dari mulut manusia, terdapat beberapa jenis ucapan yang sangat dicintai oleh Allah.
Ada 3 ucapan yang berisi ajakan yang sangat dianjurkan dan amat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutnya dengan sebutan “pembicaraan yang baik”. Tiga ucapan tadi berupa ajakan terkait sedekah, melakukan kebaikan, dan mendamaikan orang yang sedang berkonflik.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa ayat 114:
“Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.”
Jelas melalui ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan penjelasan dengan sangat tegas bahwa tidak ada kebaikan dalam suatu perbincangan di antara manusia, kecuali di dalamnya terdapat ajakan untuk bersedekah dengan tujuan membantu sesama, ajakan berbuat baik, serta mendamaikan orang yang sedang berkonflik.
Kiai Bisri Musthofa dalam Tafsir Al-Ibriz juz 5 hal 242 berkata yang artinya: “Kebanyakan ucapan itu tidak ada kebaikannya kecuali orang yang memerintahkan sedekah atau memerintahkan amal baik atau mendamaikan di antara manusia. Barangsiapa yang melakukannya karena mengharap ridha Allah, Allah Taala akan memberikan pahala yang besar”.
Pertama, perintah bersedekah. Perintah bersedekah yang dimaksud ayat di atas merupakan anjuran membantu sesama manusia terutama mereka yang sedang dalam kesulitan ekonomi dengan tujuan berbuat baik kepada sesama.
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Baqarah: 195).
Kedua, perintah berbuat baik. Ucapan yang disukai oleh Allah selanjutnya ialah ucapan yang mengajak untuk melakukan kebaikan, yaitu setiap perbuatan baik yang Allah perintahkan untuk dilakukan atau dianjurkan untuk dilakukan.
Sebagaimana Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsir Jamiul Bayan, jilid 9 hal 201 berkata:
“Kebaikan ialah setiap perbuatan baik yang Allah perintahkan atau anjurkan untuk dilakukan.”
Ucapan ketiga yang disukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala ialah ucapan yang berisi ajakan untuk mendamaikan orang yang sedang berkonflik. Dengan tujuan untuk mengembalikan pihak yang bertikai dalam suatu persoalan menemukan jalan keluar terhadap masalah yang terjadi dan kembali rukun.
Imam Ibnu Jarir berkata:
“Mendamaikan di antara manusia maksudnya ialah mendamaikan orang yang sedang berkonflik dengan sesuatu yang Allah perbolehkan agar keduanya kembali dalam balutan kasih sayang dan satu kalimat yang sama sesuai yang diperintahkan Allah.”
Ucapan seperti salam, doa, pujian yang tulus, serta kata-kata yang menenangkan hati orang lain termasuk dalam kategori yang disukai Allah. Sebaliknya, ucapan yang menyakitkan, menghina, atau memecah belah sangat dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ada banyak perselisihan yang terjadi hanya karena satu kalimat yang tidak terjaga. Dan betapa banyak pula hubungan yang kembali harmonis karena satu ucapan yang lembut dan penuh keikhlasan. Maka, seorang Muslim hendaknya menimbang setiap kata sebelum diucapkan: apakah ia akan mendatangkan kebaikan atau justru kerusakan?
Marilah kita merenungkan kembali bagaimana kita menggunakan lisan kita selama ini. Apakah ia lebih sering digunakan untuk hal yang bermanfaat atau justru sebaliknya?
Tiga jenis ucapan tersebut adalah amalan sederhana namun memiliki nilai besar di sisi Allah. Jika kita mampu menjaga lisan dengan tiga hal ini, maka insya Allah kehidupan kita akan dipenuhi keberkahan, ketenangan, dan ridha Ilahi.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa menjaga lisannya dan menggunakan setiap kata untuk kebaikan. (adm)













Discussion about this post