Avesiar – Jakarta
Presiden AS Donald Trump, dikatakan mantan penasihat keamanan nasional John Bolton, kemungkinan “kembali panik” pada hari Jumat (3/4/2026), setelah Iran menembak jatuh dua jet tempur militer AS kurang dari 48 jam setelah ia meyakinkan rakyat Amerika bahwa AS memiliki supremasi udara di wilayah tersebut, dilansir The Huffington Post, Sabtu (4/4/2026).
Hal tersebut disampaikan Bolton di acara “The Source” di CNN dan menjawab pertanyaan pembawa acara Kaitlan Collins, apakah insiden tersebut merusak kredibilitas Gedung Putih, karena Trump mengklaim pada hari Selasa dalam pidato nasionalnya bahwa Iran “tidak memiliki peralatan anti-pesawat” dan bahwa kemampuan radar mereka “100% hancur.”
“Tentu saja, itu benar-benar merusak kredibilitas Gedung Putih. Dan itu adalah luka yang ditimbulkan sendiri oleh Gedung Putih, bukan oleh Iran. Jika Anda melebih-lebihkan apa yang telah Anda capai dan bukti muncul yang menunjukkan bahwa Anda telah melebih-lebihkan, Anda akan terlihat bodoh,” kata Bolton pada hari Jumat.
Dalam pidatonya pada hari Selasa, Trump mengatakan bahwa AS “tak terhentikan sebagai kekuatan militer” dan telah “mengalahkan dan benar-benar menghancurkan Iran.”
Ia menambahkan bahwa “bagian tersulit telah selesai,” dan bahwa AS telah “mengawasi dan mengendalikan Iran secara intensif melalui satelit.”
Kenyataan pahit berkata lain ketika pada hari Jumat, Garda Revolusi Islam menembak jatuh jet tempur F-15, memaksa dua awaknya untuk melontarkan diri. Satu pilot berhasil diselamatkan, tetapi yang lainnya kini secara resmi dinyatakan hilang di Iran. Negara itu juga menembak jatuh pesawat A-10 Warthog, yang pilotnya berhasil diselamatkan dengan selamat.
Bolton bahkan lebih terus terang ketika ditanya apakah keheningan Trump mengenai masalah ini menarik perhatiannya.
“Eh, tidak. Menurut saya, dia mungkin kembali panik, berharap bisa menemukan cara untuk menyatakan kemenangan dan keluar dari perang ini, terlepas dari apakah dia membuka Selat Hormuz sebelum melakukannya atau tidak. Saya pikir itu juga sebuah kesalahan,” katanya kepada Collins.
setelah AS melancarkan perang, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui seperlima minyak dunia. Perang yang saat ini diklaim telah menelan korban jiwa setidaknya 13 anggota militer AS dan lebih dari 1.900 warga Iran, dan kini mengancam akan memicu krisis energi global.
Trump pada hari Sabtu membagikan pengingat yang mengancam tentang tenggat waktu 6 April yang telah ia tetapkan bagi Iran untuk membuka selat tersebut. Ia menulis di platform Truth Social-nya bahwa mereka diberi waktu 10 hari untuk melakukannya dan memiliki 48 jam sebelum semua malapetaka akan menimpa mereka. (ard)













Discussion about this post