Avesiar – Jakarta
Anggota parlemen senior Iran Alaeddin Boroujerdi mengatakan bahwa persediaan rudal dan drone Iran “cukup untuk menopang perang selama bertahun-tahun. Hal itu dikatakannya dalam sebuah wawancara dengan kantor berita semi-resmi Tasnim, dilansir TRT World, Rabu (29/4/2026).
Wakil kepala Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran itu, mengatakan pada hari Rabu bahwa Teheran belum mengungkapkan kemampuan penuhnya.
“Kami belum menunjukkan kartu baru kami,” katanya dalam komentar yang dimuat oleh kantor berita semi-resmi tersebut.
Selain menolak blokade angkatan laut AS, Boroujerdi menyebutnya tidak efektif, dan mengklaim bahwa sekitar 120 kapal saat ini menunggu di dekat Selat Hormuz untuk transit.
Ia menambahkan bahwa banyak kapal Iran terus beroperasi tanpa intervensi dari pasukan AS.
Merujuk pada dinamika regional, ia mengatakan Selat Bab al Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden, sama pentingnya secara strategis dengan Selat Hormuz, menambahkan bahwa perkembangan di sana juga dapat memengaruhi jalur maritim.
Iran, lanjut Boroujerdi, tidak akan mundur dari apa yang ia sebut sebagai hak kedaulatannya atas Selat Hormuz, dan menambahkan bahwa hak-hak ini akan diperjuangkan dalam negosiasi.
Sementara itu, asisten politik komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hamad Akbarzadeh, secara terpisah, mengatakan bahwa angkatan laut akan menggunakan kemampuan baru jika terjadi aksi militer AS terhadap negara tersebut.
Ia memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat melakukan aksi militer, Angkatan Laut IRGC akan menggunakan apa yang ia sebut sebagai sistem penargetan canggih dan kemampuan operasional baru, katanya di sebuah pertemuan publik di kota Minab di selatan pada hari Selasa.
Kemampuan tersebut, imbuhnya, dapat digunakan terhadap kapal-kapal angkatan laut besar di wilayah tersebut.
Serangan gabungan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, mendorong Teheran untuk merespons dengan serangan terhadap apa yang digambarkan sebagai kepentingan AS di seluruh wilayah, banyak di antaranya di negara-negara Teluk.
Gencatan senjata diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, diikuti oleh pembicaraan yang diadakan di Islamabad pada 11-12 April, tetapi negosiasi berakhir tanpa kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengatakan gencatan senjata telah diperpanjang atas permintaan Pakistan sambil menunggu proposal dari Teheran.
Pada hari Senin disebutkan bahwa Trump memberi sinyal kemungkinan besar tidak akan menerima proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang setelah Teheran mengusulkan rencana untuk membuka kembali Selat Hormuz sambil menyerahkan pertanyaan tentang program nuklirnya untuk negosiasi selanjutnya. (ard)











Discussion about this post