Avesiar – Jakarta
Stagnasi negosiasi antara Kuba dengan AS dicermati Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Josefina Vidal, sebagai sebuah risiko agresi militer AS terhadap negara Karibia itu semakin meningkat
Dikutip dari TRT World, Jum’at (29/5/2026), Vidal menuduh Washington mengarang dalih untuk menggambarkan Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS guna membenarkan agres. Hal itu dikatakannya saat berbicara dalam sidang legislatif di Gedung Capitol Nasional pada hari Kamis untuk mengecam sanksi AS terhadap impor minyak Kuba.
“Setiap hari bahaya agresi militer terhadap Kuba semakin meningkat,” katanya.
AS secara efektif telah memberlakukan blokade terhadap Kuba dengan mengancam sanksi terhadap negara-negara pemasok bahan bakar, memicu pemadaman listrik dan memperburuk krisis terburuknya dalam beberapa decade, di bawah Presiden Donald Trump.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada hari Rabu bahwa ia yakin dialog antara kedua negara, yang dimulai sekitar bulan Maret, akan menghasilkan “hasil yang baik.”
Sedangkan otoritas Kuba mengatakan mereka tidak akan mengizinkan campur tangan dalam urusan internal dan telah mengkritik AS karena kurangnya itikad baik.
“Saluran pertukaran antara kedua pemerintah tetap terbuka, tetapi belum banyak kemajuan. Kami memiliki alasan untuk meragukan keseriusan dan tanggung jawab pemerintah Amerika Serikat,” kata Vidal.
“Kami berharap jalur dialog akan menang saat ini, ketika tindakan agresif yang dilakukan pemerintah AS terhadap Kuba menimbulkan keraguan tentang keseriusan dan tanggung jawab yang mereka tunjukkan dalam proses ini,” kata Vidal dalam sidang parlemen.
Untuk menghindari pertumpahan darah, pemerintah Kuba sedang mengupayakan dialog. “Tetapi bukan agar AS dapat mencoba mengendalikan nasib Kuba melalui tekanan, paksaan, dan ancaman agresi militer,” tambah Vidal.
Dalam eskalasi terbaru kampanye tekanan Trump terhadap pemerintah Komunis Kuba, AS secara resmi mendakwa mantan Presiden Raul Castro dengan empat tuduhan pembunuhan atas penembakan jatuh pesawat sipil yang dioperasikan oleh para peng exiled yang berbasis di Miami pada tahun 1996.
Tindakan militer apa pun akan menyebabkan “pertumpahan darah” di mana ribuan warga Kuba dan Amerika akan tewas, menurut Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez.
Ia telah meminta bantuan mendesak dari komunitas internasional untuk mencegah bencana di pulau itu selama pidatonya di hadapan Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa.
awal bulan ini, Direktur CIA John Ratcliffe mengadakan pertemuan luar biasa di Havana dengan para pejabat senior Kuba. Di mana pertemuan tersebut menyusul pembicaraan diplomatik tingkat tinggi di Havana pada 10 April, pertama kalinya pesawat pemerintah AS mendarat di pulau itu sejak 2016. (ard)











Discussion about this post