Avesiar – Jakarta
Inggris kembali mencatatkan sejarah dengan kembali mundurnya perdana menteri mereka, Keir Starmer. Pemimpin Inggris itu, dilansir TRT World, Senin (22/6/2026), mengumumkan pengunduran dirinya setelah berbulan-bulan mendapat tekanan, memulai proses yang akan membuat Inggris memiliki perdana menteri ketujuh dalam satu dekade.
Keir Starmer yang menjabat sejak Juli 2024, dalam pidato di luar 10 Downing Street, mengakui pada hari Senin bahwa ia telah kehilangan dukungan dari anggota parlemen Partai Buruh.
Starmer mengatakan telah memberi tahu Raja Charles III tentang keputusannya untuk mengundurkan diri agar pemimpin Partai Buruh yang baru, dan karenanya perdana menteri, dapat dipilih.
“Saya akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sampai kontes selesai, dan saya akan melakukan segala yang saya bisa untuk memastikan penyerahan kekuasaan yang tertib,” ungkapnya.
Disebutkan bahwa otoritas Starmer telah melemah sejak Partai Buruh mengalami kekalahan telak dalam pemilihan lokal dan regional pada bulan Mei.
Perdana menteri tersebut tidak mampu menahan tekanan lebih lanjut setelah konfirmasi pekan lalu bahwa saingannya, Andy Burnham, kembali ke parlemen, membuka jalan bagi tantangan kepemimpinan yang diantisipasi.
“Setiap keputusan yang saya ambil selalu mengutamakan negara yang saya cintai. Itulah mengapa saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh,” tambahnya, sambil menahan tangis dalam pidato yang emosional.
Starmer mengatakan dia telah meminta Komite Eksekutif Nasional Partai Buruh untuk menetapkan jadwal penggantinya, dengan nominasi akan dibuka pada 9 Juli.
“Ini akan memastikan bahwa pemimpin baru sudah ada sebelum parlemen kembali pada bulan September” setelah reses musim panas, jelasnya.
Burnham yang menjadi walikota Greater Manchester pada tahun 2017 — telah menyatakan dengan jelas bahwa ia berniat untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh, memperingatkan dalam pidato kemenangannya pada pemilihan sela bahwa partai yang sedang terpuruk ini memiliki “kesempatan terakhir untuk berubah”.
Jika berhasil, pria berusia 56 tahun ini akan menggantikan Starmer sebagai perdana menteri berkat mayoritas parlemen Partai Buruh yang besar. (ard)










Discussion about this post