Avesiar – Jakarta
Tingginya Perceraian hingga Krisis Mental Remaja menjadi pembahasan yang penting Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur saat Dialog Muharram dan Silaturahim Komisi PPRK MUI se-Jawa Timur di Surabaya, Jumat (19/6/2026).
“Semangat Hijrah, Mempererat Ukhuwah, dan Menguatkan Dakwah,” dilansir laman Majelis Ulama Indonesia, Sabtu (20/6/2026), menjadi tema dari kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus tingkat provinsi hingga kabupaten/kota ini menjadi forum strategis untuk memotret realitas sosial yang tengah mengepung ketahanan keluarga di Jawa Timur.
Melalui paparannya tersebut, Ketua Komisi PPRK MUI Jatim, Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, M.Ag. membuka mata peserta lewat sajian data statistik dan temuan lapangan. Ia menegaskan, persoalan yang melingkupi perempuan, remaja, dan keluarga hari ini sudah berada pada tahap yang menuntut kolaborasi lintas sektor.
Sorotan paling tajam terfokus pada tingginya angka perceraian di Jawa Timur. Berdasarkan pemetaan PPRK MUI Jatim, tren perceraian saat ini didominasi oleh cerai gugat (pihak istri yang mengajukan) serta fenomena perceraian usia dini (early divorce).
Perselisihan berkepanjangan, tekanan ekonomi, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga perselingkuhan menjadi faktor pemicu tertinggi. Kondisi ini diperkeruh oleh rapuhnya pola asuh dan komunikasi keluarga, serta dampak dari masifnya fenomena pekerja migran terhadap keharmonisan rumah tangga.
Tidak hanya itu, persoalan Dispensasi Kawin (pernikahan anak) masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Sepanjang tahun 2024 saja, Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Surabaya mencatat adanya 9.446 permohonan dispensasi kawin.
Ironisnya, hasil riset lokal menunjukkan sebagian besar pasangan hasil dispensasi kawin tersebut berakhir dengan perceraian dalam waktu singkat.
Prof. Mutimmatul juga menggarisbawahi fenomena psikologis baru, di mana standar kecantikan tidak realistis yang dipaparkan media sosial ikut memberi tekanan mental yang besar bagi kaum perempuan.
Sedangkan pada klaster Remaja, alarm bahaya bergeser ke arah krisis identitas dan rapuhnya kesehatan mental. Generasi muda Jawa Timur hari ini dikepung oleh bahaya laten: judi online, penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, pergaulan bebas, perundungan (bullying), hingga kecanduan gawai dan game online.
Tingginya angka putus sekolah di tingkat SMA/SMK serta tren kasus HIV/AIDS pada usia produktif makin melengkapi urgensi penyelamatan generasi bangsa ini. (adm)










Discussion about this post