• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i Harmoni Keluarga

Kunci Bahagia Rumah Tangga dan Pola Komunikasinya dalam Islam

by Avesiar
29 Mei 2026 | 23:34 WIB
in Harmoni Keluarga
Reading Time: 7 mins read
A A
Kunci Bahagia Rumah Tangga dan Pola Komunikasinya dalam Islam

Ilustrasi. Gambar: Freepik

Avesiar – Jakarta

Suami istri menjaga keutuhan rumah tangga bukan sekedar formalitas pernikahan, namun tentang membangun komunikasi, saling pengertian, dan akhlak mulia dalam keseharian.

Menggali kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan rumah tangga sangatlah penting agar kebahagiaan yang diharapkan tidak sekadar angka statistik, melainkan kenyataan yang dirasakan tiap pasangan.

Dilansir laman Nahdlatul Ulama, Senin (8/9/2025), dalam tulisan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta, Amien Nurhakim, disebutkan bahwa bagaimana pun, rumah tangga ibarat sebuah kapal yang berlayar di lautan luas. Sesekali menghadapi ombak yang tenang, namun tak jarang pula diterpa badai. Al-Qur’an memberikan landasan yang kokoh agar pasangan suami-istri dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan bijaksana. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

wa ‘âsyirûhunna bil-ma‘rûf, fa ing karihtumûhunna fa ‘asâ an takrahû syai’aw wa yaj‘alallâhu fîhi khairang katsîrâ

Artinya, “Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.” (QS An-Nisa: 19)

Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam penjelasannya mengenai ayat di atas menegaskan bahwa perintah Allah untuk “bergaullah dengan istri secara patut” adalah koreksi atas kebiasaan jahiliah yang memperlakukan perempuan dengan kasar dan merendahkan.

Menurut beliau, jika seorang suami merasa kurang suka pada istrinya karena perangai atau penampilan yang tidak cocok, atau kelalaian dalam tugas rumah tangga, maka hendaknya ia bersabar dan tidak tergesa-gesa menyakiti atau menceraikannya. Sebab boleh jadi Allah menanamkan banyak kebaikan dalam diri sang istri, baik berupa ketenangan, akhlak yang akhirnya membaik, maupun anak-anak yang saleh (Syekh Wahbah Az-Zuhaili, Tafsirul Munir, [Beirut: Darul Fikr, 1418 H], jilid IV, hlm. 303).

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Selanjutnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan terbaik dalam membangun rumah tangga. Beliau tidak hanya menjadi pemimpin umat, tetapi juga sosok suami yang penuh cinta dan kasih sayang. Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini relevan bagi pasangan muda yang seringkali lebih sibuk menunjukkan citra baik di luar rumah, di kantor, atau di media sosial, tetapi lalai dalam bersikap lembut terhadap pasangan di rumah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan bahwa tolok ukur kebaikan seseorang adalah bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Hadits di atas menggambarkan dengan sangat indah bagaimana Rasulullah membangun rumah tangga yang penuh kebahagiaan.

Al-Munawi ketika menjelaskan hadits di atas menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak hanya berperan sebagai pemimpin umat, tetapi juga sebagai suami yang penuh perhatian, lembut, dan kreatif dalam membahagiakan istrinya. Beliau meluangkan waktu untuk mendampingi Aisyah bermain, bahkan mengirimkan anak-anak perempuan Anshar untuk menemaninya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga menunjukkan kasih sayang dengan hal-hal sederhana namun bermakna, seperti meminum dari bekas tempat minum Aisyah, membiarkan Aisyah bersandar di pundaknya ketika menonton permainan orang Habasyah di masjid, berlomba lari bersama Aisyah dalam perjalanan, bercanda ketika keluar rumah, hingga tersenyum ketika menghadapi emosi istrinya. (Abdurrauf Al-Munawi, Faydhul Qadir Syarh al-Jami’ al-Saghir, [Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H], jilid III, hlm. 495).

Di sisi lain, dalam perjalanan rumah tangga, pasti ada perbedaan pandangan, pertengkaran kecil, bahkan rasa kecewa. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berpesan:

“Berwasiatlah dengan baik terhadap wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas merupakan wasiat penting dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang menekankan agar para suami memperlakukan istrinya dengan penuh kelembutan, kesabaran, dan kebaikan. Imam al-Qurthubi dalam al-Mufhim menjelaskan bahwa wasiat itu menekankan agar suami menerima pesan Nabi, lalu mengamalkan dengan bersabar, lembut, dan berbuat baik kepada istrinya.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kondisi emosional dan fisik wanita, serta menegaskan pentingnya sikap empati suami dalam menjaga harmoni rumah tangga. Jika wasiat ini benar-benar diamalkan, maka rumah tangga akan dipenuhi kasih sayang, jauh dari kekerasan maupun ketidakadilan, serta mampu melahirkan ketenteraman bagi seluruh anggota keluarga. (Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Umar al-Qurthubi, al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, [Beirut: Dar Ibn Katsir & Dar al-Kalim al-Thayyib, 1996], jilid IV, hlm. 222).

Pesan ini bukan hanya berlaku bagi suami kepada istri, tetapi juga sebaliknya: pasangan harus saling memahami. Di era sekarang, stres akibat pekerjaan, tuntutan gaya hidup, dan tekanan sosial seringkali membuat pasangan muda cepat tersulut emosi. Padahal, rumah tangga yang bahagia hanya bisa terwujud dengan kesabaran, empati, dan komunikasi yang sehat.

Poin selanjutnya yang tidak kalah penting adalah tidak semua rumah tangga runtuh karena masalah besar. Kadang, kebosanan dan kurangnya perhatian kecil justru menjadi penyebab renggangnya hubungan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa rumah tangga harus dihidupkan dengan kehangatan dan keceriaan. Dalam sebuah hadits diceritakan:

“Dari Aisyah ra. ia berkata: ‘Aku pernah bersama Nabi SAW dalam suatu perjalanan. Aku menantangnya untuk berlomba lari, lalu aku mendahuluinya dengan kakiku. Namun ketika tubuhku sudah bertambah berat, aku menantangnya lagi, dan ia yang mendahuluiku.’ Maka beliau SAW bersabda: ‘Kemenangan ini sebagai balasan dari kemenangan yang dahulu’,” (HR. Abu Dawud).

Bagi para pasangan, hadits ini menunjukkan bahwa hubungan suami-istri perlu diisi dengan momen ringan, bercanda, dan melakukan aktivitas bersama atau dalam bahasa yang popular saat ini salah satunya adalah “quality time”. Kehangatan sederhana ini ibarat vitamin yang menjaga rumah tangga tetap sehat dan penuh cinta.

Selain perlunya suami istri melakukan aktivitas bermakna, penting diketahui bahwa salah satu faktor yang kerap menjadi pemicu keretakan rumah tangga masa kini adalah masalah ekonomi. Banyak pasangan muda terbebani gaya hidup konsumtif dan tekanan sosial. Dalam kitab Adabul fi Nizhamil Usrah, Syekh Muhammad Alawi Al-Maliki menulis:

“Termasuk kebaikan seorang istri terhadap suaminya adalah tidak membebani suami dengan sesuatu yang ia tidak sanggup menanggungnya, dan tidak menuntut darinya lebih dari kebutuhan. Hal ini pada hakikatnya merupakan bentuk bantuan bagi suaminya untuk hidup hemat. Sesungguhnya sifat qana’ah (merasa cukup) akan membangun rumah tangga dan memperkuat kasih sayang. Sedangkan sifat serakah dan tamak akan melemahkan cinta dan mendatangkan kebencian,” (Sayyid Muhammad ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani, Adabul Islam fi Nizhamil Usrah, [Makkah: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah atsna’ al-nashr, 1432 H], hlm. 16)

Pesan ini sangat relevan dengan fenomena “flexing” di media sosial yang membuat banyak keluarga terjebak dalam persaingan gaya hidup. Rumah tangga yang bahagia justru lahir dari kesederhanaan, rasa syukur, dan saling mendukung di masa lapang maupun sempit.

Kebaikan istri seperti penjelasan Sayyid Muhammad di atas tentunya harus diiringi dengan kecakapan suami dalam mencari nafkah. Bagi para suami di masa sekarang, kebaikan dalam rumah tangga justru terlihat dari kesungguhannya dalam berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang halal dan terhormat.

Suami tidak boleh bermalas-malasan atau berpangku tangan, apalagi mencari jalan pintas melalui hal yang merusak seperti judi online atau utang konsumtif yang membebani rumah tangga. Upaya yang sungguh-sungguh untuk menafkahi keluarga merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus ibadah.

Selain bekerja keras, suami juga perlu membangun komunikasi yang jujur dan terbuka dengan istri mengenai pengeluaran rumah tangga. Dengan saling merencanakan keuangan, mengatur prioritas, serta menahan diri dari pengeluaran yang tidak perlu, rumah tangga akan lebih stabil dan harmonis.

Sikap giat, bersih dari praktik haram, serta komunikasi yang sehat dengan pasangan adalah kunci menjaga keutuhan dan kebahagiaan keluarga di tengah tantangan zaman.

Kemudian yang terakhir, yang tidak kalah penting adalah rumah tangga harus dijaga dengan doa yang baik dan akhlak mulia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Janganlah kalian berdoa jelek terhadap diri kalian, jangan berdoa jelek terhadap anak-anak kalian, dan jangan berdoa jelek terhadap harta kalian.” (HR. Ibnu Hibban)

Bagi para pasangan, nasihat ini sangat penting. Kadang kala, saat emosi, pasangan tanpa sadar mengucapkan doa buruk atau melampiaskan kata-kata kasar kepada anak dan pasangan. Padahal, kata-kata adalah doa.

Sebagai kesimpulan, kunci kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga dapat diringkas dalam beberapa hal pokok. Pertama, perintah Al-Qur’an untuk memperlakukan pasangan dengan baik menjadi fondasi utama.

Kedua, teladan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan pentingnya cinta, kelembutan, humor, dan perhatian kecil yang konsisten.

Ketiga, wasiat beliau agar memperlakukan istri dengan sabar dan penuh kebaikan menekankan perlunya empati serta komunikasi sehat.

Keempat, kesederhanaan, qana’ah, dan kerja keras suami-istri dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga secara halal menjadi benteng dari berbagai krisis, termasuk godaan gaya hidup konsumtif.

Kelima, rumah tangga harus senantiasa dijaga dengan doa, tutur kata positif, dan akhlak mulia agar tetap penuh kasih sayang dan jauh dari perpecahan.

Dalam perjalanan rumah tangga, tidak ada pasangan yang sempurna. Akan selalu ada kesalahan, kelalaian, atau kata-kata yang melukai, baik dari suami maupun istri. Karena itu, kunci agar bahtera tetap kokoh adalah sikap saling memaafkan.

Memaafkan pasangan bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan membuka ruang untuk perbaikan, sama seperti orang tua yang selalu menyediakan maaf untuk anak-anaknya.

Pasangan pun sejatinya hanyalah manusia biasa, bukan malaikat. Dengan menyediakan lebih banyak maaf daripada amarah, rumah tangga akan tetap hangat, pertengkaran tidak berlarut, dan cinta tetap hidup meskipun diterpa badai masalah. Wallahua’lam. (adm)

Tags: Bahagia Rumah TanggaKunci Bahagia Rumah TanggaPola Komunikasi Rumah Tangga
ShareTweetSendShare
Previous Post

Uranium yang Diperkaya Iran Bukan Bagian dari Negosiasi, Sebut AS-Israel Tetap Niat Menggulingkan Negaranya

Next Post

Risiko Pertumpahan Darah Besar Jika AS Lakukan Agresi Militer Terhadap Kuba Demi Kedaulatannya

Mungkin Anda Juga Suka :

Memahami Talak dan Jenisnya, Perkara Halal yang Paling Dibenci oleh Allah Ta’ala

Memahami Talak dan Jenisnya, Perkara Halal yang Paling Dibenci oleh Allah Ta’ala

23 Mei 2026

...

Menciptakan Keluarga Samawa atau Harmonis ala Imam Al-Ghazali

Menciptakan Keluarga Samawa atau Harmonis ala Imam Al-Ghazali

31 Maret 2026

...

Tuntunan dan Cara Membayar Utang Puasa Ramadhan Bagi Muslimah

Tuntunan dan Cara Membayar Utang Puasa Ramadhan Bagi Muslimah

12 Februari 2026

...

Jenis-jenis Perkawinan yang Bejat di Masa Jahiliyah dan Diganti dengan Pernikahan Suci Islami

Jenis-jenis Perkawinan yang Bejat di Masa Jahiliyah dan Diganti dengan Pernikahan Suci Islami

27 Oktober 2025

...

Apakah Ayah Tiri Wajib Menafkahi Anak Tiri dalam Islam?

Apakah Ayah Tiri Wajib Menafkahi Anak Tiri dalam Islam?

10 Juli 2025

...

Load More
Next Post
Risiko Pertumpahan Darah Besar Jika AS Lakukan Agresi Militer Terhadap Kuba Demi Kedaulatannya

Risiko Pertumpahan Darah Besar Jika AS Lakukan Agresi Militer Terhadap Kuba Demi Kedaulatannya

Discussion about this post

TERKINI

Risiko Pertumpahan Darah Besar Jika AS Lakukan Agresi Militer Terhadap Kuba Demi Kedaulatannya

29 Mei 2026

Kunci Bahagia Rumah Tangga dan Pola Komunikasinya dalam Islam

29 Mei 2026

Uranium yang Diperkaya Iran Bukan Bagian dari Negosiasi, Sebut AS-Israel Tetap Niat Menggulingkan Negaranya

28 Mei 2026

Gagal Berangkat Haji, 118 Calon Haji Ilegal Dicegat di Soekarno-Hatta, Kualanamu, dan Sultan Hasanuddin

28 Mei 2026

Kalori yang Terbakar Jika Berjalan Kaki Selama 30 Menit

27 Mei 2026

Tim Bola Iran Akan Menginap di Meksiko Selama Laganya di Piala Dunia Usai Penolakan AS

27 Mei 2026

Kurban Diterima Allah atau Tidak Dapat Diketahui dari Tanda Tertentu Termasuk Deretan Larangannya

26 Mei 2026

Arafah Akan Dipenuhi Sekitar 1,8 Juta Jemaah Haji

26 Mei 2026

Menuju Arafah, Jemaah Haji Diminta Agar Jaga Kesehatan Selama Armuzna

25 Mei 2026

Ben-Gvir dari Israel Dilarang Masuk ke Prancis Akibat Kebrutalannya Kepada Aktivis Armada Global Sumud

24 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video