Avesiar – Jakarta
Teheran melancarkan serangan drone dan rudal terhadap Bahrain dan Kuwait, pada hari Minggu, setelah serangan AS baru di lokasi-lokasi di Iran selatan dan mengancam “penghentian total” negosiasi untuk mengakhiri perang.
Dikutip dari The New Arab, Iran telah melancarkan serangan terhadap pasukan AS di Kuwait dan Bahrain seiring dengan perluasan pembalasan terhadap serangan AS di Iran selatan.
Babak baru serangan yang meningkat antara Iran dan AS terus berlanjut, semakin melemahkan perjanjian perdamaian sementara yang rapuh antara kedua negara, dan mendorong Donald Trump untuk mengancam kekerasan yang akan memastikan Iran “tidak akan ada lagi”.
Trump mengatakan bahwa mungkin akan segera tiba saatnya ia meninggalkan pembicaraan dan AS akan “menyelesaikan pekerjaan secara militer”.
Presiden AS memposting di media sosial: “Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!”
Sementara dikutip dari The Guardian, Ahad (28/6/2026), Kuwait yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS utama, mengatakan telah mencegat dua rudal balistik dan tidak ada laporan cedera atau kerusakan, sementara kementerian dalam negeri Bahrain mengatakan serangan Iran telah merusak sebuah bangunan tempat tinggal di dekat bandara internasional dan tidak ada yang tewas.
Kuwait mengutuk “agresi keji Iran”, sementara Bahrain mengatakan bahwa mereka mencegat drone dan rudal, dengan kementerian dalam negeri mengatakan sebuah bangunan tempat tinggal rusak.
Serangan di Teluk memasuki hari kedua, setelah Iran menyerang kapal-kapal yang melewati Teluk dan AS melancarkan serangan terhadap Iran. Ini terjadi meskipun Nota Kesepahaman telah ditandatangani yang bertujuan untuk mengakhiri konfrontasi tersebut.
Kekerasan terbaru dipicu oleh upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi semua pelayaran tanpa pengawasan langsung Iran. Jalur air yang strategis ini, yang sebelum perang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas cair dunia, telah lama dianggap sebagai jalur internasional.
Dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat AS menyebut bahwa serangan mereka adalah “sebagai tanggapan langsung terhadap agresi Iran yang berkelanjutan terhadap pelayaran komersial” dan menargetkan fasilitas pengawasan militer Iran, komunikasi, pertahanan udara, penyimpanan drone, dan pemasangan ranjau.
Konflik kembali terjadi setelah Washington telah mempromosikan jalur selatan di sepanjang pantai Oman, sementara Teheran, yang pada akhirnya bertujuan untuk mengenakan biaya penggunaan selat tersebut, menginginkan kapal-kapal untuk menggunakan jalur utara melalui perairannya dan di bawah kendalinya.
Ratusan kapal, termasuk kapal tanker yang bermuatan minyak, telah diblokade di dalam Teluk oleh penutupan selat sejak perang pecah. Beberapa kapal telah mencoba melewati selat tersebut dalam dua minggu terakhir, menyebabkan harga minyak turun mendekati level sebelum perang dan membawa kelegaan bagi perekonomian di seluruh dunia.
Militer AS menuduh Iran melanggar gencatan senjata pada hari Sabtu dengan menyerang kapal tanker berbendera Panama, Kiku, yang membawa minyak mentah untuk perusahaan energi milik negara Qatar. Menurut situs web pelacakan kapal, Kiku tampaknya mencoba menggunakan koridor selatan di dekat pantai Oman.
Tidak hanya itu, sebuah kapal kontainer berbendera Singapura juga nahas dihantam oleh drone Iran saat melintasi rute yang sama pekan lalu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan kembali klaim Teheran atas kendali tunggal jalur air tersebut selama kunjungan kenegaraan ke Irak pada hari Minggu.
“Setiap campur tangan dalam masalah ini, setiap upaya untuk menetapkan pengaturan baru atau terpisah dari yang saat ini dilakukan oleh Republik Islam Iran, hanya akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut, menunda pembukaan kembali Selat Hormuz, dan meningkatkan tingkat ketegangan,” Ia mengatakan di Baghdad (ard)










Discussion about this post