Avesiar – Jakarta
Di saat para pejabat Israel dan Lebanon terlibat dalam pembicaraan yang dimediasi AS di Washington, Israel mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka belum menetapkan jadwal untuk menarik pasukannya dari Lebanon, Gaza, dan Suriah.
Dilansir The New Arab, Jum’at (26/6/2026), militer Israel telah melancarkan serangan udara secara luas di Lebanon dan pasukannya telah menduduki sebagian wilayah selatan negara itu setelah Lebanon terseret ke dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas, yang dipicu oleh serangan militer gabungan Israel-AS terhadap Iran.
“Kita harus tetap berada di zona keamanan di Lebanon, di Suriah, dan di Gaza, dan bukan untuk waktu yang terbatas, untuk membela penduduk dan komunitas kita dari sana terhadap unsur-unsur jihadis,” kata Menteri Pertahanan Israel Katz pada upacara wisuda di akademi militer.
Ia juga mengatakan bahwa mereka menentang penarikan pasukan IDF dari zona keamanan di Lebanon, terlepas dari semua tekanan yang ada dan yang akan datang.
Sementara itu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ngotot mengatakan pada acara yang sama bahwa pasukan akan tetap berada di Lebanon selatan “selama diperlukan”.
“Saya telah memperjelas kepada IDF: Anda memiliki kebebasan bertindak sepenuhnya,” sesumbar Netanyahu.
Sebelumnya pada hari Kamis, juru bicara pemerintah David Mencer mengatakan kepada wartawan bahwa mereka tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan selama Hizbullah tetap menjadi ancaman, belum dilucuti senjatanya, dan belum didemiliterisasi.
Gencatan senjata baru diumumkan di Lebanon setelah serangan Israel di sana mengancam akan menggagalkan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang Timur Tengah yang lebih luas.
Meskipun pertempuran telah berkurang secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, serangan yang sering terjadi terus berlanjut.
Di bawah tekanan AS, para pejabat Lebanon memulai pembicaraan langsung pada bulan April dengan Israel di Washington. Putaran pembicaraan tiga hari terbaru dijadwalkan akan berakhir pada hari Kamis.
Mengomentari negosiasi tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kedua negara tetangga itu hampir mencapai “komitmen niat”. (ard)










Discussion about this post