Avesiar – Jakarta
Sering kita meremehkan perbuatan-perbuatan buruk dalam rutinitas dan keseharian kita. Islam mengajarkan untuk tidak melanggar syariat agama. Melanggar syariat agama tentu akan diganjar dengan dosa dan balasan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dilansir laman Nahdlatul Ulama, di kolom Khutbah, Kamis (6/8/2026), bahwa tidak sedikit di antara kita semua yang sangat berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam dosa-dosa besar, tetapi pada saat yang sama justru meremehkan dosa-dosa yang dianggap sepele.
Padahal, bahaya dan balasan dari perbuatan dosa tidak diukur dari besar atau kecilnya, karena semua perbuatan akan mendapatkan balasan kelak di akhirat.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah, [99]: 7-8).
Ayat yang baru saja kita dengar bersama itu merupakan peringatan bahwa setiap amal perbuatan yang kita lakukan, sekecil apa pun, baik dari orang Islam atau non-muslim, tidak akan pernah lepas dari perhitungan dan pengawasan Allah swt, sehingga kita semua akan melihat balasannya kelak di akhirat.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Ibnu Ajibah al-Fasi, dalam kitab Tafsir al-Bahrul Madid, jilid VIII, halaman 515, mengatakan:
“Tiada seorang mukmin maupun orang kafir melakukan kebaikan atau keburukan di dunia, melainkan ia akan melihat (balasan)nya di akhirat.”
Kita mengetahui bahwa setiap amal perbuatan, akan mendapatkan balasan kelak di akhirat, berikut ini adalah lima dosa yang sering dianggap sepele oleh banyak orang, bahkan termasuk oleh kita bersama, lima dosa itu adalah sebagai berikut:
Pertama, berdusta ketika berkata. Sebagian dari kita sering menganggap bahwa dusta merupakan hal yang lumrah, khususnya ketika sedang bercanda, berjualan, membuat alasan agar terhindar dari teguran, hingga menulis sesuatu di media sosial yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Padahal tanpa kita sadari, kebohongan sekecil apa pun dapat menyeret seseorang kepada dosa yang lebih besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Takutlah kalian terhadap dusta, karena sungguh dusta akan menjerumuskan pada kejahatan, dan sungguh kejahatan akan menjerumuskan pada neraka.” (HR. Muslim).
Kedua, membicarakan keburukan atau aib orang lain (ghibah). Dosa ini sering terjadi dalam obrolan sehari-hari kita, baik di dalam dunia nyata maupun dunia maya. Misalnya ketika berkumpul bersama teman, tetangga, atau keluarga, pembicaraan yang semula biasa akhirnya berubah menjadi membahas kekurangan orang lain.
Bahkan, tidak sedikit dari kita yang berdalih hanya membicarakan apa adanya. Padahal, justru itulah yang disebut dengan ghibah oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Hal ini sebagaimana dalam salah satu riwayat yang berasal dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’, Nabi bersabda, ‘Yaitu engkau menyebutkan saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai.’ Ditanyakan, ‘Bagaimana jika yang aku katakan ada pada diri saudaraku?’ Nabi menjawab, ‘Jika benar ada pada dirinya, maka engkau telah menggunjingnya. Dan jika tidak ada pada dirinya, maka engkau telah menuduhnya’.” (HR. Muslim).
Ketiga, berlaku curang dalam transaksi. Dosa ini sering dianggap biasa. Misalnya, menyembunyikan cacat barang, mengurangi timbangan, atau menjual barang yang tidak sesuai dengan kualitas yang dijanjikan.
Ada pula yang mencampur barang bagus dengan yang buruk demi meraih keuntungan lebih. Padahal, Islam memerintahkan setiap muslim untuk berlaku jujur dan amanah dalam setiap transaksi. Keuntungan yang diperoleh dengan cara curang tidak akan membawa keberkahan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Siapa saja yang menipu, maka bukan golongan kami.” (HR. At-Tirmidzi).
Keempat, mengadu domba (namimah). Dosa ini sering dianggap sebagai hal biasa, padahal dampaknya dapat merusak persaudaraan dan memecah belah hubungan antarsesama.
Misalnya seseorang berkata kepada temannya, “Tadi si Fulan membicarakanmu seperti ini,” dengan tujuan untuk memperkeruh hubungan.
Tidak sedikit pula yang menyebarkan tangkapan layar percakapan maupun rekaman suara, sehingga menimbulkan permusuhan antar sesama.
Padahal, perbuatan yang sering dianggap sepele ini termasuk namimah yang sangat dilarang dalam Islam, dan pelakunya diancam tidak akan masuk surga, sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits, Rasulullah saw bersabda:
“Pengadu domba tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Kelima, meremehkan hak orang lain. Dosa ini sering terjadi tanpa kita sadari, misal menunda membayar utang padahal mampu, meminjam barang tetapi tidak dikembalikan, menggunakan uang titipan untuk kepentingan pribadi, tidak membayar upah pekerja tepat waktu, sengaja menahan hak orang lain, tidak menjalankan amanah dengan benar, dan lainnya. (adm)











Discussion about this post