Avesiar – Jakarta
Ketakutan Presiden AS Donald Trump akan serangan Iran kepada dirinya membuatnya meninggalkan pesawat kepresidenan Air Force One dan pindah ke pesawat lain secara diam-diam.
Dilansir The Huffington Post, Selasa (11/8/2026), menurut para ahli penerbangan, bulan lalu Trump membiarkan awak pesawat Air Force One, agen Secret Service, jurnalis, dan staf Gedung Putihnya sendiri menjadi sasaran pengalih perhatian atau umpan terhadap kemungkinan serangan dari Iran, sementara ia sendiri menjauhkan diri dari bahaya, padahal ada pilihan lain yang tersedia.
Trump, dalam sebuah peristiwa luar biasa yang diungkap oleh Washington Post, meninggalkan pertemuan puncak NATO bulan lalu di Turki menggunakan truk katering maskapai penerbangan yang memungkinkannya keluar dari Air Force One dan pindah ke jet yang lebih kecil untuk terbang ke Inggris.
Ia kemudian diam-diam kembali naik ke pesawat tersebut di Pangkalan Udara Mildenhall, lalu turun di hadapan kamera untuk beralih ke moda transportasi udara pilihannya: pesawat mewah Boeing 747 yang ia dapatkan dari keluarga kerajaan Qatar, namun tidak dilengkapi sistem pertahanan rudal seperti yang dimiliki pesawat Air Force One 747 yang memang dirancang khusus untuk tujuan tersebut.
Pertanyaan The Huffington Post mengenai topik ini tdak mendapat tanggapan dari sejumlah pejabat Gedung Putih, dan Angkatan Udara pun melimpahkan semua pertanyaan terkait masalah tersebut kepada pihak Gedung Putih.
Saat ditanya oleh wartawan pada Selasa malam mengapa staf dan wartawan dianggap aman terbang dengan pesawat yang menurutnya terlalu berbahaya bagi dirinya sendiri, Trump memberikan jawaban yang tidak masuk akal. Ia berdalih bahwa Iran justru lebih mungkin menargetkan pesawat yang—sebenarnya—tidak mungkin mereka ketahui sedang ditumpanginya.
“Menurut saya, justru pesawat yang saya tumpangi itu memiliki risiko lebih besar. Menurut saya risikonya lebih besar karena pesawat itulah yang kemungkinan besar akan mereka incar,” ujarnya di landasan pacu Pangkalan Gabungan Andrews.
Sebanyak 13 anggota kelompok pers (press pool) yang berada di dalam Air Force One tidak menyadari bahwa Trump tidak ada di pesawat, padahal keberadaan mereka di sana justru bertujuan untuk meliput kegiatannya, hingga Washington Post menerbitkan artikel tersebut.
Tidak diketahui secara pasti berapa banyak dari puluhan awak pesawat Angkatan Udara serta staf Secret Service dan Gedung Putih yang juga tidak menyadari adanya tipu muslihat tersebut.
Tidak jelas pula mengapa Trump memilih untuk menempatkan semua orang itu dalam potensi bahaya, yang mungkin berjumlah 100 orang atau lebih, tergantung pada jumlah staf Gedung Putih dan Secret Service yang ada di pesawat, alih-alih memilih opsi lain.
Menurut para ahli penerbangan, sebagai contoh, pesawat tersebut sebenarnya bisa terbang dengan pengawalan jet tempur F-35, yang sering kali dilengkapi dengan teknologi peperangan elektronik anti-rudal yang canggih. Atau, penerbangan itu bisa saja disertai oleh pesawat tanker besar atau pesawat kargo, yang menciptakan berbagai pantulan radar dan sumber panas untuk mempersulit upaya menargetkan Air Force One.
Opsi paling sederhana mungkin adalah Trump diam-diam berangkat menggunakan jet yang lebih kecil, lalu mengumumkannya secara terbuka setelah ia berada dengan aman di atas Laut Tengah atau Eropa Barat, sebelum akhirnya mengizinkan Air Force One untuk lepas landas.
Terlepas dari seberapa besar bahaya yang sebenarnya, tindakan Trump menggunakan rombongan wartawan yang menyertainya sebagai umpan tanpa persetujuan mereka merupakan pelanggaran kepercayaan yang sangat besar.
Reporter National Journal, George Condon, yang pernah menjabat sebagai presiden Asosiasi Koresponden Gedung Putih pada awal tahun 1990-an, mengatakan bahwa kalangan pers memiliki sejarah panjang dalam mendampingi presiden dalam perjalanan sambil menjaga kerahasiaan demi mencegah serangan mendadak.
Franklin Delano Roosevelt membawa serta reporter kantor berita ke zona konflik selama Perang Dunia II. Presiden Joe Biden membawa sekelompok kecil wartawan bersamanya ke Kyiv, Ukraina. Presiden George H.W. Bush membawa wartawan, termasuk Condon, ke Somalia yang porak-poranda akibat perang pada akhir tahun 1992.
“Kami tidak membocorkan informasi. Mereka melibatkan kami dalam kepercayaan mereka. Mereka memercayai kami. Selama delapan dekade, kalangan pers telah membuktikan bahwa mereka dapat dipercaya untuk menjaga kerahasiaan,” kata Condon.
Bahkan pada tahun 2000, saat Presiden Bill Clinton melawat ke Pakistan untuk meredakan ketegangan dengan India, kelompok wartawan yang menyertainya terus diberi informasi mengenai potensi bahaya maupun rencana perjalanan tersebut begitu mereka tiba di Islamabad bersama para staf dengan pesawat angkut C-17. Sebuah pesawat Angkatan Udara yang berfungsi sebagai pengalih perhatian—dengan corak warna biru-putih—tiba lebih dulu, sementara Clinton tiba paling akhir dengan menumpang jet bisnis tanpa tanda pengenal.
Tindakan Trump bulan lalu merupakan kejadian pertama di mana pers, tanpa disadari, dijadikan sebagai pengalih perhatian. (ard)











Discussion about this post