Avesiar – Jakarta
Dalam wawancara dengan penyiar Inggris Piers Morgan pada hari Selasa, 29 September, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed Bin Abdulrahman Al Thani, menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “penjahat perang.” Ia juga menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan di Jalur Gaza merupakan “kejahatan perang”.
Dalam wawancara tersebut, dilansir The new Arab, Rabu (30/9/2026), Sheikh Al Thani menyatakan: “Apa yang terjadi di Gaza adalah kejahatan perang, dan siapa pun yang bertanggung jawab atas hal itu adalah penjahat perang.” Ia menjawab “ya” ketika Morgan secara langsung bertanya apakah sebutan tersebut berlaku bagi Netanyahu.
Al Thani kemudian mengungkapkan adanya laporan media yang menunjukkan bahwa pemerintah Israel sedang mengorganisasi kampanye resmi untuk melawan Qatar, termasuk dengan mendanai berbagai lembaga, kalangan akademisi, media, dan pembuat konten, guna menekan Doha serta melemahkan perannya sebagai mediator untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.
Netanyahu dan “pihak-pihak ekstremis dalam pemerintahannya”, imbuhnya, telah berupaya menggagalkan setiap langkah Qatar untuk menengahi dan mengakhiri perang di Gaza selama dua tahun terakhir.
Menanggapi pertanyaan mengenai tuduhan bahwa Israel telah melakukan genosida, Al Thani berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa tanggal 7 Oktober adalah sebuah pembantaian; hal itu harus dikecam, dan siapa pun yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut harus dimintai pertanggungjawaban.”
“Namun, ketika kita melihat respons terhadap peristiwa 7 Oktober—tewasnya lebih dari 70.000 orang, hancurnya satu kota secara keseluruhan, serta serangan yang menyasar rumah sakit dan sekolah—apa pun pembenaran dan argumen yang dikemukakan, tidak ada yang dapat membenarkan tindakan tersebut,” tambahnya.
Ia mencatat bahwa sejak penandatanganan perjanjian gencatan senjata—yang disponsori dan difasilitasi oleh Presiden AS Donald Trump pada Oktober 2025—lebih dari 1.400 warga Palestina di Gaza telah tewas akibat tindakan Israel.
Ia juga menyoroti fakta bahwa hampir 70 persen wilayah tersebut telah diduduki dan pasukan Israel telah memblokir akses ke wilayah itu.
“Mereka tidak memenuhi kewajiban mereka berdasarkan perjanjian ini, dan hal itu jelas menunjukkan bahwa mereka memiliki niat yang berbeda,” tambahnya. (ard)











Discussion about this post