Avesiar – Jakarta
Perubahan seiring bertambahnya usia salah satunya adalah seringnya terjadi lupa sesaat, yang juga membuat banyak orang merasa khawatir saat mengalaminya.
Sangat wajar terjadinya perubahan kognitif semacam ini. Sehingga tidak perlu panik jika sesekali Anda lupa menaruh kacamata hitam atau lupa nama mantan guru anak Anda. Namun, terdapat perbedaan yang jelas antara perubahan kognitif akibat penuaan dengan demensia.
Dilansir The Huffington Post, Ahad (8/11/2026), di Amerika, sekitar 7 juta orang mengidap demensia, dan jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2060. Para ahli menyatakan bahwa pada titik tertentu, gangguan kognitif dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
“Batasan yang menentukan transisi seseorang dari gangguan kognitif ringan menuju demensia adalah ketika salah satu gangguan kognitif tersebut mulai menghambat fungsi keseharian. Bagi saya, itulah salah satu indikator utama untuk menentukan apakah seseorang telah mengalami transisi ke kondisi demensia,” ujar Dr. Stephanie Nothelle, seorang dokter geriatri sekaligus profesor madya di Johns Hopkins School of Medicine, Baltimore.
Menurutnya, kondisi ini bisa berupa ketidakmampuan lagi untuk mengemudikan mobil, tersesat saat melewati rute yang sudah dikenal, atau tidak lagi mampu mengurus laporan pajak—sesuatu yang sebelumnya bisa dilakukan selama berpuluh-puluh tahun. Jika perubahan kognitif membuat seseorang kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, itu merupakan tanda bahaya (red flag), tambahnya.
Nothelle menjelaskan bahwa demensia adalah istilah umum yang mencakup berbagai bentuk gangguan kognitif, termasuk penyakit Alzheimer (bentuk demensia yang paling umum), demensia vaskular, dan penyakit Parkinson.
Manifestasi spesifik dari penyakit ini bergantung pada diagnosis medisnya. Meskipun gangguan kognitif menjadi ciri utama, terdapat pula beberapa gejala fisik yang sering dikaitkan dengan demensia. Berikut adalah gejala-gejala tersebut:
1. Kesulitan Berjalan dan Menjaga Keseimbangan
“Menurut pengamatan saya, banyak manifestasi fisik yang muncul pada tahap lanjut dari demensia,” kata Nothelle. Namun, ada satu masalah fisik yang muncul lebih awal dan cenderung memburuk seiring dengan perkembangan penyakit, yaitu “kemampuan seseorang untuk berjalan dan menjaga keseimbangan.”
“Kemampuan untuk menjaga keseimbangan dan berjalan dengan lancar sebenarnya membutuhkan kerja otak yang cukup berat, karena otak harus memproses berbagai jenis input secara bersamaan,” jelas Nothelle. Anda harus memproses sensasi dari kaki, memproses apa yang dilihat mata dari lingkungan sekitar, dan banyak lagi. “Anda harus bereaksi dengan cepat terhadap hal-hal tersebut, sehingga berjalan merupakan tugas yang sangat melibatkan fungsi kognitif,” ujar Nothelle.
Oleh karena itu, kesulitan berjalan, gangguan keseimbangan, dan sering terjatuh bisa menjadi tanda demensia. (Namun, perlu dicatat bahwa masalah-masalah ini tidak selalu menandakan demensia; bisa saja disebabkan oleh radang sendi atau sekadar kurang hati-hati saat bergerak.)
2. Perubahan Postur dan Cara Berjalan dengan Kaki Diseret
Menurut Dr. Jori Fleisher, seorang profesor madya ilmu saraf di Rush University, Chicago, jenis demensia paling umum kedua adalah demensia tubuh Lewy (Lewy body dementia). Istilah ini mencakup beberapa tipe demensia, termasuk penyakit Parkinson.
Dalam kondisi ini, Anda mungkin melihat adanya perubahan postur tubuh, cara berjalan dengan kaki diseret, atau seseorang yang berjalan lebih lambat dari biasanya, jelas Fleisher.
Meskipun masalah-masalah ini sering dianggap sebagai bagian dari penuaan, kurangnya perhatian, atau radang sendi, “jika kita melihat pola seperti itu, kita perlu lebih waspada,” tambahnya.
3. Perubahan pada Indra Perasa dan Penciuman
Perubahan pada indra perasa atau penciuman bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti infeksi COVID-19 atau riwayat masalah sinus. Namun, jika tidak ada penyebab yang jelas, perubahan pada indra-indra ini bisa jadi berkaitan dengan demensia.
“Terkadang, orang yang bersangkutan tidak menyadarinya, tetapi orang terdekatnya mungkin berkata, ‘Hei, ada sesuatu yang terbakar di atas kompor, kok kamu tidak mencium baunya?'” jelas Fleisher.
Gejala ini sebaiknya mendorong seseorang untuk memeriksakan diri ke dokter. Meski tidak selalu muncul pada semua jenis demensia, kondisi ini dikaitkan dengan demensia tubuh Lewy, menurut Fleisher.
4. Masalah Menelan
Penderita demensia mungkin juga mengalami kesulitan saat menelan makanan maupun minuman.
“Saat sedang makan atau minum, ada kecenderungan makanan atau minuman tersebut secara tidak sengaja ‘masuk ke saluran yang salah’,” kata Nothelle. Dalam kasus ini, makanan benar-benar masuk ke saluran yang salah, ujarnya. “Jika ada makanan atau cairan yang masuk ke saluran pernapasan hingga ke paru-paru, itu seharusnya tidak berada di sana,” catat Nothelle.
Air liur membantu kita menelan makanan dan minuman, padahal “mulut kita penuh dengan bakteri,” katanya. Meskipun sebagian bakteri bersifat baik, ada pula bakteri yang tidak baik (yang dapat menyebabkan gigi berlubang dan penyakit gusi). Jika bakteri jahat tersebut ikut masuk ke paru-paru bersama makanan, hal itu dapat memicu infeksi, jelasnya.
“Kondisi ini disebut pneumonia aspirasi, dan itulah sebabnya pneumonia cukup sering terjadi pada tahap lanjut demensia,” jelas Nothelle.
5. Masalah Pengendalian Kandung Kemih
“Sayangnya, inkontinensia bisa menjadi gejala demensia,” ujar Nothelle.
Pengendalian kandung kemih melibatkan banyak saraf, “dan saraf-saraf tersebut mengalami degenerasi seiring dengan berkembangnya demensia,” jelasnya.
Menurut Fleisher, seseorang mungkin juga mengalami sembelit yang baru muncul di usia lanjut.
“Hal ini juga bisa menjadi tanda penyakit Parkinson dan kondisi terkait lainnya, yang sering kali muncul bertahun-tahun sebelum gejala lain terlihat,” catat Fleisher.
6. Perubahan Pola Tidur
Menurut Fleisher, perubahan pola tidur juga merupakan hal penting yang perlu diwaspadai.
Orang yang mengalami perubahan pola tidur mungkin tidak menyadarinya. Namun, jika Anda tinggal bersama seseorang dan mendapati mereka banyak bergerak di malam hari, seperti memukul, berteriak, atau berbicara saat tidur, penting untuk segera menginformasikannya kepada tim medis mereka, saran Fleisher.
“Kondisi ini mungkin merupakan REM sleep behavior disorder (gangguan perilaku tidur REM), yang sering kali muncul bertahun-tahun sebelum seseorang didiagnosis menderita penyakit Parkinson atau demensia Lewy body,” tambahnya.
Diagnosis dini bisa menjadi langkah yang sangat berarti untuk mempersiapkan masa depan.
Memang sulit untuk mengakui adanya masalah kesehatan atau perubahan tertentu, terutama yang berkaitan dengan fungsi kognitif, namun, hal ini tetap penting untuk dilakukan.
Fleisher mengungkapkan bahwa saat ini kita berada di era inovasi dalam hal pengobatan demensia.
“Banyak penelitian yang sedang berlangsung untuk menemukan metode pengobatan dan pilihan terapi farmakologis bagi para penderita,” tambah Nothelle.
Fleisher menjelaskan bahwa dokter dapat memeriksa biomarker dalam darah atau cairan tulang belakang untuk menentukan jenis demensia yang dialami seseorang, yang kemudian menjadi dasar dalam pengambilan keputusan terkait pengobatan.
Baik Nothelle maupun Fleisher menekankan bahwa apa pun kondisinya, langkah terbaik adalah memulai pengobatan atau intervensi sedini mungkin sejak penyakit tersebut muncul.
Meskipun pengobatan yang ada saat ini belum bisa menyembuhkan, langkah tersebut dapat membantu dalam pengelolaan penyakit. Selain itu, diagnosis dini juga membantu keluarga (maupun individu yang bersangkutan) untuk melakukan persiapan dengan lebih baik.
“Mengetahui kondisi lebih awal sangatlah bermanfaat, terutama untuk perencanaan masa depan dan memberikan kesempatan bagi individu tersebut untuk menentukan arah masa depannya sendiri,” kata Nothelle. Jika diketahui sejak dini, Anda sering kali masih dapat mengambil berbagai keputusan, baik terkait perawatan, tempat tinggal, maupun pilihan keuangan.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan tanda-tanda demensia (baik pada diri sendiri maupun orang terkasih) dan segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda menyadari adanya perubahan yang mengkhawatirkan.
“Meskipun hal ini terasa menakutkan, mendapatkan diagnosis, memperoleh informasi, serta melakukan deteksi dini justru memberi Anda kendali,” ujar Fleisher.
Terlepas dari apakah Anda mengalami gejala-gejala di atas atau tidak, ada langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengurangi risiko demensia atau memperlambat perkembangan penyakit tersebut. Kedua pakar tersebut menyatakan bahwa langkah-langkah ini mencakup berbagai aspek gaya hidup sehat.
Untuk menurunkan risiko demensia, disarankan untuk menerapkan pola makan bergizi (Fleisher merekomendasikan diet MIND), rutin berolahraga, bersosialisasi dengan orang-orang terkasih, serta mengelola kondisi kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan sleep apnea (gangguan pernapasan saat tidur).
Para ahli memperkirakan bahwa 42 persen penduduk Amerika yang berusia di atas 55 tahun akan mengalami demensia semasa hidupnya. Namun, ada berbagai langkah yang bisa Anda lakukan untuk bersiap menghadapi kondisi ini jika terdiagnosis, serta upaya yang dapat dilakukan untuk membantu menurunkan risikonya. (ard)









Discussion about this post