Avesiar – Jakarta
Interaksi sosial di keluarga, masyarakat, dunia kerja, dan organisasi penuh dengan dinamikanya masing-masing. Masalah tentu saja ada. Namun, penyelesaian masalah agar kerukunan tetap terjaga adalah hal yang perlu menjadi perhatian utama.
Di manapun, ada saja orang yang merasa tersakiti, menjadi korban, atau merasa didzolimi, di mana sebenarnya dialah yang menjadi penyebab terjadinya masalah pada dirinya sendiri. Orang tersebut merasa tidak bisa atau tidak berniat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cara yang bijak, sehingga harus mengajak orang lain terlibat yang justru memperkeruh keadaaan.
Dikutip dari berbagai sumber, sikap atau perilaku demikian disebut playing victim. Ulasan ini akan membuka wawasan agar tidak mudah terbawa dalam konflik yang membutuhkan kebenaran fakta sebagai solusinya.
Playing victim adalah sikap atau pola perilaku ketika seseorang selalu memposisikan dirinya sebagai korban dalam berbagai masalah atau konflik, padahal kenyataannya bisa jadi merekalah yang bersalah atau memicu situasi tersebut.
Dilansir laman Alodokter, Senin (22/4.2024), playing victim adalah perilaku seseorang yang selalu merasa dirinya menjadi korban dan kerap menyalahkan pihak lain atas setiap masalah yang terjadi dalam hidupnya. Perilaku ini tidak termasuk gangguan jiwa, tetapi bisa menimbulkan dampak psikologis dan sosial jika terus dibiarkan.
Dilansir laman Klik Dokter, Ahad (1/12/2024), playing victim adalah perilaku di mana seseorang berusaha menggambarkan dirinya sebagai korban, meskipun dalam kenyataannya mungkin tidak sepenuhnya demikian. Perilaku ini sering kali dilakukan untuk memanipulasi situasi, menghindari tanggung jawab, atau mendapatkan perhatian dan simpati dari orang lain.
Sikap playing victim tidak muncul begitu saja. Victim mentality dapat muncul karena berbagai macam faktor, seperti pengaruh dari pengalaman masa lalu, pola asuh yang kurang tepat, trauma emosional, atau lurangnya coping mechanism yang baik dalam menghadapi masalah.
Selain itu, playing victim juga bisa menjadi tanda kesehatan mental, seperti borderline personality disorder (BPD), gangguan kepribadian narsistik, dan gangguan stres pasca trauma (PTSD). Bila dibiarkan, perilaku ini bisa menimbulkan perasaan frustasi, putus asa, stres, bahkan depresi.
Mengapa Seseorang Berperilaku Playing Victim?
Ada berbagai alasan mengapa seseorang mengembangkan perilaku ini:
1. Pengalaman trauma masa lalu
Beberapa individu yang pernah mengalami trauma cenderung menginternalisasi peran korban dan terus memproyeksikannya dalam hubungan mereka.
2. Mekanisme pertahanan
Playing victim bisa menjadi cara untuk menghindari rasa bersalah atau tanggung jawab dalam situasi tertentu.
3. Kebutuhan perhatian
Beberapa orang bermain sebagai korban untuk mendapatkan perhatian, dukungan, atau validasi emosional dari orang lain.
4. Ketidakmampuan mengelola konflik
Seseorang mungkin memilih menjadi “korban” daripada menghadapi konflik secara langsung.
5. Ketidakpercayaan diri
Orang dengan kepercayaan diri rendah mungkin merasa lebih mudah menjadi korban untuk menghindari penilaian atau kritik. Dalam hubungan, playing victim dalam hubungan dapat muncul sebagai cara untuk mengontrol pasangan atau menghindari konfrontasi.
Tidak hanya berdampak pada diri sendiri, perilaku playing victim juga akan membebani orang-orang di sekitarnya yang percaya bahwa mereka adalah “korban” dari setiap masalah. Oleh karena itu, penting untuk mengenali ciri-ciri playing victim dan cara menghadapinya.
Mengenali ciri-ciri playing victim penting agar Anda lebih memahami perilaku ini. Dengan demikian, Anda bisa menyadari jika ada orang di sekitar yang menunjukkan victim mentality dan mengetahui langkah yang tepat untuk menanggapinya. Berikut adalah ciri-ciri atau tanda playing victim:
1. Selalu menyalahkan pihak lain
Ciri-ciri utama playing victim adalah sering menyalahkan pihak lain ketika terjadi suatu kesalahan atau masalah dalam hidupnya, baik di lingkungan pekerjaan, rumah, atau pun masyarakat. Orang yang playing victim memiliki kesenangan tersendiri saat orang lain merasa bersalah atas kesalahan yang diperbuatnya.
Pada kasus yang ekstrim, orang yang memiliki kebiasaan ini juga mungkin tak segan untuk melakukan gaslighting. (Gaslighting adalah bentuk manipulasi dalam suatu hubungan yang membuat korbannya selalu merasa bersalah dan meragukan diri sendiri. Kondisi ini bisa berdampak serius pada fisik dan psikis korbannya).
2. Menghindari tanggung jawab
Orang dengan victim mentality sering menghindari tanggung jawab, menuding orang lain, dan menempatkan diri sebagai “korban” untuk mendapatkan simpati. Ia juga biasanya menolak bantuan orang lain karena tidak ingin memperbaiki masalah, hanya ingin dikasihani.
3. Selalu merasa dirinya tidak berdaya
Orang yang playing victim sering berbicara negatif tentang dirinya sendiri dengan tujuan membuat orang lain merasa kasihan, seperti berkata, “Segala sesuatu yang buruk selalu terjadi padaku,” atau “Tidak ada yang peduli padaku.”
Seiring berjalannya waktu, pola pikir negatif ini justru mempersulitnya keluar dari masalah. Boleh dibilang, ia secara sadar memanipulasi dirinya sendiri agar tidak melakukan upaya apa pun untuk memperbaiki situasi yang buruk.
5. Kurang percaya diri
Orang yang selalu melihat dirinya sebagai korban sering memiliki rasa percaya diri yang rendah. Mereka mungkin merasa tidak cukup pintar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik atau kurang berbakat untuk meraih kesuksesan. Pikiran ini bisa hadir setelah pengalaman gagal yang membuatnya menempatkan diri sebagai korban.
Akibatnya, perspektif negatif ini menghambat kemajuan dan membuat mereka sulit mencapai tujuan baru. Di sisi lain, mereka juga bisa merasa tidak nyaman atau iri ketika melihat orang lain berhasil.
Cara Menghadapi Orang yang Playing Victim dengan Bijak
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin sulit untuk menghadapi orang yang memiliki sikap playing victim. Meski menjengkelkan, ingatlah bahwa orang yang perilakunya toksik ini mungkin pernah menghadapi peristiwa yang menyakitkan dan menyulitkan dalam hidupnya, sehingga ia mengembangkan sikap playing victim.
Agar tidak salah langkah dan justru memperburuk keadaan, menghadapi individu dengan perilaku ini memerlukan empati dan batasan yang jelas. Berikut adalah cara menghadapi orang playing victim:
• Tetapkan batasan: Jelaskan bahwa Kamu tidak akan mendukung perilaku manipulatif.
• Tawarkan solusi, bukan simpati: Dorong mereka untuk mencari solusi daripada terus-menerus mengeluh.
• Jangan terlibat dalam permainan mereka: Hindari memberikan reaksi emosional yang mereka inginkan.
• Berikan umpan balik dengan bijak: Katakan dengan lembut bahwa perilaku mereka mungkin memperburuk situasi.
• Fokus pada fakta: Jangan biarkan narasi mereka mendominasi tanpa bukti atau fakta yang mendukung.
• Jangan terlalu cepat memberikan validasi “korban” ke orang lain yang sedang menceritakan bahwa dirinyalah yang tersakiti.
• Jangan biarkan diri Anda terjebak dalam cerita dari sudut pandang orang yang playing victim. Tetaplah objektif dan cari fakta sendiri dari beberapa orang yang terlibat dalam ceritanya tersebut.
• Jangan meminta maaf bila Anda merasa bukan Anda yang harus disalahkan.
• Sebaiknya, hindari “menyerang” orang yang playing victim dan tetaplah bersikap tenang.
• Bila dirasa sikapnya telah mengganggu dan berlebihan, ajaklah untuk berbicara dengan psikolog untuk menemukan solusi yang tepat.
Playing victim bukanlah sikap yang dimiliki sejak lahir. Sikap ini bisa muncul sebagai akibat dari trauma masa lalu atau mindset yang salah dan bisa diperbaiki secara perlahan-lahan melalui terapi psikologis. (adm/dari berbagai sumber)











Discussion about this post