Avesiar – Jakarta
Sedikitnya 21 orang meninggal saat sedang tidur, termasuk 11 anak-anak, dan memaksa tim penyelamat menggali reruntuhan dengan tangan kosong demi mencari puluhan orang yang diduga terjebak, usai sebuah bangunan yang menampung sekitar 100 keluarga pengungsi Palestina runtuh di Kota Gaza.
Bangunan bertingkat yang hancur akibat pengeboman tersebut, yang memiliki empat unit apartemen di setiap lantainya, sebelumnya pernah terkena serangan Israel selama perang, sehingga strukturnya sangat lemah dan berisiko runtuh. Saat bangunan itu ambruk pada hari Rabu, reruntuhannya menimpa tenda-tenda di sebelahnya yang dihuni oleh keluarga-keluarga pengungsi, menurut keterangan para saksi mata.
Dilansir The Guardian, Rabu (16/9/20265), tim penyelamat dari badan pertahanan sipil Gaza menyatakan telah mengevakuasi jenazah lima anak di antara para korban, sementara 25 orang yang terluka dilarikan ke rumah sakit. Sumber medis menyebutkan bahwa tim penyelamat dapat mendengar suara orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan saat mereka berupaya menjangkau para korban.
Runtuhnya bangunan tersebut menyoroti bahaya yang terus mengancam puluhan ribu warga Palestina yang tinggal di sekitar 2.000 bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di seluruh Jalur Gaza.
Seorang pengawas tim pertahanan sipil, Mohammed Abu Dan, yang melakukan evakuasi korban, mengatakan bahwa lebih dari 10 keluarga tinggal di bangunan tersebut, dan para pengungsi terpaksa menetap di sana karena tidak ada tempat penampungan lain yang tersedia.
“Operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan dalam kondisi yang sangat sulit akibat kurangnya peralatan dan sumber daya yang memadai,” ujar Abu Dan.
Para pejabat Palestina dan PBB menyalahkan pembatasan Israel terhadap Gaza sebagai penyebab kurangnya alat berat di wilayah tersebut. Israel menyatakan bahwa pembatasan itu bertujuan mencegah peralatan tersebut jatuh ke tangan kelompok-kelompok militan.
Sebuah video yang diperoleh Reuters memperlihatkan petugas penyelamat berupaya mengeluarkan dua orang dari bawah reruntuhan tembok yang ambruk. Video lain yang beredar di media sosial menampilkan juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal, sedang menggendong seorang anak perempuan yang dibalut syal berlumuran darah.
Direktur layanan pertahanan sipil Kota Gaza, Raed al-Dahshan, mengatakan: “Kami masih mendengar suara-suara dari balik reruntuhan, jadi masih ada harapan untuk menemukan orang-orang.”
Kepala kantor Program Pembangunan PBB (UNDP) di Gaza, Alessandro Mrakic, mengatakan bahwa tim penyelamat dari berbagai badan PBB turut serta dalam operasi tersebut—sebuah upaya yang ia gambarkan sangat sulit akibat minimnya peralatan berat yang memadai. Badan bantuan Mesir juga terlibat dalam operasi ini.
“Ada orang-orang yang benar-benar menggali menggunakan tangan kosong. Kita perlu bersiap [menghadapi kemungkinan bertambahnya korban jiwa],” ujar Mrakic.
Tenda-tenda milik keluarga pengungsi telah didirikan di sepanjang jalan di sisi bangunan tersebut karena tidak ada tempat lain bagi mereka untuk berlindung. (ard)











Discussion about this post