Avesiar – Jakarta
Menteri Keamanan Nasional Israel dari sayap kanan jauh, Itamar Ben-Gvir, mengatakan bahwa Israel seharusnya membunuh “30 hingga 40” orang setiap malam di Gaza, sementara permukiman Yahudi harus didirikan di seluruh wilayah kantong yang terkepung tersebut.
Dikutip dari The New Arab, Sabtu (22/8/2026), ia menyatakannya dalam sebuah siniar (podcast) yang memicu kontroversi, di mana ia menyebut sebagian warga Palestina “bahkan bukan manusia”.
Ben-Gvir, yang juga seorang pemukim dan dikenal karena komentar-komentarnya yang memecah belah serta bernada genosida, menyampaikan hal tersebut dalam siniar bersama Rom Braslavski, sosok yang sempat disandera pada 7 Oktober 2023.
“Menurut saya, kita seharusnya melakukan 30 hingga 40 operasi pembunuhan terarah setiap malam. Bukan hanya terhadap mereka yang menimbulkan ancaman langsung. Ada orang-orang di sana yang tidak pantas hidup… Mereka bahkan bukan manusia,” ujar Ben-Gvir
Menteri tersebut juga secara terbuka menyerukan pembangunan permukiman Israel di seluruh wilayah Gaza serta pengusiran massal warga Palestina dari wilayah kantong tersebut.
“Saya membayangkan adanya permukiman, tidak hanya di Gush Katif tetapi di seluruh Gaza, serta mendorong emigrasi, semakin banyak, semakin baik,” ujarnya.
Ia menegaskan penolakannya terhadap langkah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang memenuhi tuntutan AS untuk mengurangi skala operasi militer Israel di Gaza—wilayah tempat serangan terus berlangsung meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober.
Yang lebih mengerikan, Ben-Gvir kemudian menyatakan bahwa warga Palestina yang ia anggap sebagai “teroris” tidak boleh diizinkan meninggalkan Gaza, melainkan harus dibunuh.
“Dan bagi para teroris, tidak boleh ada emigrasi. Kita harus membunuh mereka satu per satu,” ujarnya.
Menteri provokator tersebut, yang pernah divonis bersalah pada tahun 2007 atas tuduhan menghasut rasisme dan mendukung organisasi teroris, telah berulang kali menyuarakan kebijakan yang menargetkan warga Palestina dan menjadi salah satu pendukung paling vokal untuk membangun kembali permukiman Yahudi di Gaza.
Israel membongkar permukimannya di wilayah kantong tersebut pada tahun 2005, namun Ben-Gvir dan tokoh-tokoh sayap kanan Israel lainnya mendesak agar permukiman itu didirikan kembali selama masa perang, sembari mendorong apa yang mereka sebut sebagai “emigrasi sukarela” bagi penduduk Palestina di Gaza.
Ia telah berulang kali menyombongkan kondisi yang kian memburuk bagi para tahanan Palestina serta gencar mendorong pengesahan undang-undang yang menerapkan hukuman mati bagi warga Palestina yang terbukti membunuh warga Israel.
Para kritikus mengecam usulan hukuman tersebut karena dianggap diskriminatif; hukuman itu pada praktiknya akan diberlakukan terhadap warga Palestina yang terbukti membunuh warga Israel, namun tidak mencakup warga Israel keturunan Yahudi yang terbukti membunuh warga Palestina.
Komentar terbaru Ben-Gvir menambah panjang daftar retorika provokatif yang dilontarkan oleh para pejabat senior Israel selama perang di Gaza. (ard)











Discussion about this post