Avesiar – Jakarta
Somaliland sebagai sekutu Israel pada hari Rabu menyatakan kesediaan Somaliland untuk mengerahkan 2.000 personel bagi pasukan yang direncanakan akan dipimpin AS di Gaza. Dilansir The New Arab, Kamis (10/9/2026), pernyataan itu disampaikan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi, seraya menambahkan bahwa pihaknya sedang menunggu permintaan resmi dari Washington atau Israel terkait partisipasi tersebut.
Berbicara di sela-sela konferensi MEAD di Washington yang berfokus pada perkembangan di Timur Tengah, Abdullahi menegaskan bahwa wilayah yang memisahkan diri dari Somalia itu tidak secara sukarela menawarkan diri untuk misi tersebut.
“Jika mereka meminta, kami bisa menyediakannya,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa pasukannya “siap” jika diminta, dengan kekuatan militer sekitar 25.000 tentara dan penjaga pantai yang beranggotakan sekitar 1.500 personel.
Sebagai bagian dari rencana perdamaian Gaza yang digagas oleh kelompok yang menamakan diri mereka “Dewan Perdamaian” (Board of Peace) bentukan Presiden AS Donald Trump, sebuah Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) akan dikerahkan ke Gaza untuk mengamankan wilayah tersebut setelah penarikan pasukan Israel. Pasukan ini juga akan melatih kepolisian Palestina yang baru serta mendukung penyaluran bantuan kemanusiaan.
Pernyataan Abdullahi ini muncul setelah Uganda menyetujui pengerahan pasukan darat untuk ISF bulan lalu, menjadikannya negara Afrika pertama yang menyatakan partisipasinya dalam pasukan stabilisasi tersebut.
Namun, rencana pengerahan pasukan Uganda untuk bergabung dalam misi tersebut telah memicu perdebatan di negara itu.
Para anggota parlemen dari pihak oposisi berupaya menggali rincian lebih lanjut mengenai sifat pengerahan pasukan tersebut, sembari mempertanyakan persetujuan dari Kampala serta apakah langkah itu mendapat dukungan luas dari pihak lain di Afrika.
Para politisi di negara tersebut sangat skeptis mengenai apakah Uganda bertindak tanpa berkonsultasi dengan mitra-mitranya di Uni Afrika (AU), mengingat blok tersebut secara konsisten menyatakan dukungan terhadap perjuangan Palestina dan mendukung penerapan solusi dua negara.
Sementara itu, Israel telah menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun untuk membangun hubungan dengan sejumlah negara Afrika; hal ini baru-baru ini ditandai dengan pengakuan resmi Tel Aviv terhadap Somaliland sebagai negara merdeka, sebuah sikap yang ditolak oleh Somalia dan sebagian besar negara lain.
Somaliland kemudian membuka kedutaan besar di Yerusalem pada bulan Juni, bertepatan dengan kunjungan resmi pertama Abdullahi ke Israel. (ard)











Discussion about this post