Avesiar – Jakarta
Wisuda Ke-XI Universitas Tanri Abeng (TAU) yang digelar di Jakarta, Sabtu (15/8), diikuti 237 wisudawan dari berbagai program studi sarjana dan magister. Kali ini wisuda mengusung tema “Leading Future Excellence through Technopreneurship and Sustainability.”
Para lulusan berasal dari Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, Manajemen, Sistem Informasi, Teknik Informatika, Akuntansi, Arsitektur, Ilmu Komunikasi, Teknik Perminyakan, dan Teknik Sipil, serta Magister Administrasi Bisnis, yang dibekali semangat technopreneurship dan kepemimpinan berkelanjutan, siap menjadi agen perubahan di tengah bonus demografi dan transformasi nasional Indonesia.
Kegiatan tersebut dihadiri Perwakilan Gubernur DKI Jakarta Prof. Ir. Firdaus Ali, M.Sc., Ph.D., Kepala LLDIKTI 3 Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, SE., MA., para pembina Yayasan Pendidikan Anakkukang Emil Abeng dan Edwin Abeng, Ketua Yayasan Ridwan Rasyul, serta jajaran pimpinan universitas dan yayasan pendiri.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, sebagai keynote speaker, menyampaikan “3 Pesan Wisudawan” yang menekankan pentingnya Future Mindset, Learning Agility, dan Grit.
Ia memaparkan data bahwa Indeks Inovasi Global (GII) Indonesia telah melonjak dari peringkat 85 pada 2020 menjadi 55 pada 2025, dengan target peringkat ke-49 pada 2029 sesuai RPJMN. Arif juga menunjukkan korelasi positif yang kuat antara inovasi dan PDB per kapita, menjadikan inovasi sebagai lokomotif baru ekonomi berkelanjutan.
“Di era ketika keterampilan digital seperti cloud Computing, AI, dan data Science tumbuh paling pesat, sementara keterampilan lama mulai ditinggalkan, persaingan ke depan bukan lagi soal pengetahuan semata, melainkan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan belajar mandiri,” ujar Arif.
Ia mengutip penelitian Thomas J. Stanley yang menempatkan kejujuran dan disiplin sebagai faktor sukses utama, mengalahkan nilai IQ yang hanya berada di urutan ke-21, bersekolah di sekolah favorit urutan ke-23, atau lulus dengan nilai terbaik urutan ke-30. Ia juga mengingatkan pentingnya karakter dan integritas sebagai fondasi kesuksesan jangka panjang.
“Sekali Anda berhenti belajar, Anda mulai mati,” ujarnya mengutip Albert Einstein, seraya menutup dengan pesan inspiratif: “Inspirasi bisa dengan kata-kata, tapi lebih baik dengan karya.”
Sementara itu, wakil ketua Komisi X DPR RI bidang pendidikan dan kebudayaan; pemuda dan olahraga, Himmatul Aliyah, dalam sambutannya menyoroti keselarasan tema wisuda dengan kebijakan transformatif Pemerintahan Presiden Prabowo. Ia menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan SDM yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan.
Peluang itu terbuka lebar melalui 13 proyek hilirisasi nasional tahap II senilai Rp116 triliun, komitmen bisnis dari kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea sebesar Rp575 triliun, serta target pengoperasian 30.000 Koperasi Desa/Kelurahan pada akhir 2026.
“Jangan hanya menjadi job seeker, jadilah job creator. Pemerintah telah membuka Program Magang Nasional dengan 150.000 kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi pada Agustus 2026,” ujarnya.
Di sisi lain, dalam orasi ilmiahnya, Dirjen Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa Indonesia berada di titik kritis untuk menjadi negara maju sebelum bonus demografi berakhir pada 2030.
Pertumbuhan ekonomi harus dinaikkan dari 4,9 persen menjadi 5,4–5,5 persen per tahun Untuk mencapai target Indonesia Emas 2045., Dan selisih itu, imbuhnya, hanya bisa ditutup oleh inovasi.
“Di tengah perubahan global yang menciptakan 170 juta pekerjaan baru dan menghapus 92 juta pekerjaan lama, masa depan ada pada technopreneurship berbasis deep tech, yang terbukti lebih cepat berkembang dan lebih menguntungkan,” terangnya.
Menurutnya, Indonesia harus membangun jaringan inovasi global, memperkuat talenta riset, dan beralih dari “kerja keras” ke “kerja cerdas” berbasis ilmu pengetahuan. Pesan kepada wisudawan: jadilah pemimpin yang menciptakan solusi nyata, karena masa depan bangsa ditentukan oleh kemampuan kita mengubah ide menjadi dampak bagi dunia.
Rektor Universitas Tanri Abeng, Associate Prof. Dr. Suyanto, SE., S.Pd.I., MM., M.Ak., Ak., CA., dalam pidatonya menegaskan bahwa technopreneurship dan sustainability adalah dua pilar utama yang akan menopang langkah para lulusan menghadapi dunia yang berubah cepat.
Ia mengutip visi Industry 5.0 yang berciri human-centric, resilient, dan sustainable dan mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya ditandai oleh loncatan teknologi seperti kecerdasan buatan dan otomatisasi, tetapi juga oleh krisis iklim yang nyata.
“Keunggulan masa depan lahir dari mereka yang mampu menyatukan keberanian mencipta dengan tanggung jawab moral menjaga kelestarian. Setiap inovasi harus membawa dampak baik bagi keuntungan, manusia, dan lingkungan, inilah esensi dari triple bottom line yang harus dipegang teguh,” ujar Rektor.
Suyanto juga menekankan bahwa kepemimpinan sejati tidak cukup hanya piawai membaca data, tetapi harus memiliki empati dan memastikan kemajuan dirasakan oleh semua orang.
Wisuda Ke-XI Universitas Tanri Abeng semakin semarak dengan penampilan spesial dari Rani Zamala, penyanyi berbakat yang namanya melambung lewat ajang D’Academy 3 (Top 4) dan prestasi sebagai Runner Up D’Academy Asia 2.
Dengan karakter vokal yang khas dan perjalanan karier yang menginspirasi, Rani turut memeriahkan prosesi wisuda para lulusan. Kehadirannya terasa istimewa karena Rani juga merupakan mahasiswa Program Sarjana Batch 15 Jurusan Ilmu Komunikasi TAU, menjadikannya simbol nyata bahwa semangat belajar dan berkarya dapat berjalan seiring. (oya)











Discussion about this post