Avesiar – Jakarta
Badan keamanan maritim Inggris menyebutkan bahwa sebuah kapal tanker yang sedang berlayar di lepas pantai utara Qatar diserang, menyebabkan jumlah korban yang belum diketahui.
Dilansir The Guardian, Kamis (8/10/2026), serangan terjadi saat Iran menyatakan akan menutup jalur di Selat Hormuz yang digunakan untuk menghindari blokade lalu lintas yang diberlakukan Teheran.
Kapal tersebut berada di kawasan Teluk, sekitar 500 km (300 mil) di sebelah barat Selat Hormuz, ketika melaporkan terkena “serangkaian proyektil”, demikian pernyataan UK Maritime Trade Operations pada hari Rabu. Otoritas Inggris tersebut tidak merinci asal-usul kapal itu.
Serangan pada hari Rabu ini terjadi di tengah lonjakan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz hingga mencapai tingkat mingguan tertinggi sejak perang Iran dimulai, menurut perusahaan-perusahaan keamanan maritim, di saat harga minyak naik melampaui angka 100 dolar per barel.
Setidaknya terjadi 12 serangan terhadap kapal tanker minyak, gas alam cair (LNG), dan gas minyak cair (LPG) di sekitar selat tersebut dalam kurun waktu sepekan hingga 5 Oktober, menurut data dari tiga sumber keamanan.
Kementerian luar negeri India, pada hari Selasa (6/10/2026), menyatakan bahwa 12 awak kapal terluka setelah serangan terhadap sebuah kapal tanker minyak berbendera Panama yang sedang melintasi Selat Hormuz.
Serangan, upaya serangan, dan tindakan gangguan, termasuk penerbangan pesawat nirawak (drone) dan kegiatan pengintaian oleh Garda Revolusi Iran, terus terjadi di selat tersebut, demikian pernyataan sebuah badan yang dipimpin Angkatan Laut AS pada hari Minggu.
“Tindakan-tindakan ini terus menunjukkan niat Iran untuk menegaskan keberadaannya di sepanjang jalur transit utama dan mempertahankan tekanan terhadap kapal-kapal yang melintas,” ujar Joint Maritime Information Center (Pusat Informasi Maritim Gabungan).
Kapal-kapal di kawasan Teluk dan kapal yang hendak melintasi selat tersebut, satu-satunya akses keluar-masuk bagi kapal-kapal di wilayah kaya minyak itu, telah berulang kali diserang sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Pada hari Rabu, Teheran menyatakan akan semakin memperketat akses di Hormuz dengan mengumumkan bahwa jalur transit di selat tersebut yang dianggap ilegal oleh Iran akan segera ditutup; pernyataan ini merujuk pada jalur selatan yang membentang di sepanjang pesisir Oman.
Mohammadreza Naqdi, penasihat Komandan Garda Revolusi, mengatakan bahwa “beberapa jalur” tersebut terbentuk akibat peledakan dan kerusakan pada sejumlah celah berbatu, serta digunakan oleh “kapal-kapal kecil untuk menyelundupkan minyak dan memindahkannya ke kapal tanker”—meskipun terdapat bukti bahwa ekspor minyak Teluk telah kembali ke tingkat sebelum perang.
“Selat Hormuz ditutup, dan angkatan bersenjata Republik Islam Iran memegang kendali penuh atas selat tersebut,” ujarnya kepada kantor berita Fars.
IRGC secara konsisten membantah bahwa arus pengiriman minyak mentah melalui selat tersebut kembali meningkat berkat bantuan Angkatan Laut AS. Penasihat IRGC, Majid Mirahmadi, mengatakan pada hari Kamis bahwa rata-rata 10 kapal melintasi jalur perairan tersebut setiap harinya, dibandingkan dengan rata-rata 125 kapal sebelum perang.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, membantah pernyataan tersebut pada hari Rabu, dengan mengatakan bahwa Iran telah “kehilangan kendali penuh” atas selat itu. “Jumlah minyak yang mengalir keluar saat ini hampir sama banyaknya dengan sebelum konflik ini dimulai.”
Akibat konflik Trump dengan Iran, masyarakat Amerika harus menghadapi tingginya harga bensin dan melonjaknya biaya solar.
AS telah menerapkan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan sesekali melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal yang terkait dengan Teheran. AS juga telah membom sejumlah target Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap kapal-kapal, meskipun tidak ada laporan mengenai serangan semacam itu sejak 1 September. (ard)











Discussion about this post