Avesiar – Jakarta
Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kedatangan tokoh dan ulama ulama asal Yaman, Habib Umar bin Hafidz,
Dilansir laman Nahdlatul Ulama, Selasa (13/10/2026), kunjungan Habib Umar disambut langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah PBNU KH Tajul Mafakhir, KH Afifuddin Dimyathi, KH Zulfa Musthofa, dan Katib Aam Prof M Nuh.
Pengurus lainnya yang hadir, antara lain; Wakil Ketua Umum PBNU KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, Sekretaris Jenderal PBNU H Gudfan Arif, serta Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Nur Hidayat dan H Zaimul Umam Nur Salim.
KH Afifuddin Muhajir menyampaikan bahwa Habib Umar berharap NU dapat terus berjuang meningkatkan peran dan menebarkan manfaat bagi umat.
“NU sekarang mudah-mudahan tambah bermanfaat, baik nasional maupun internasional. Terus berjuang meningkatkan peran dan fungsi daripada jamiyah,” ujarnya.
Kiai Afif dalam pertemuan itu menyampaikan kepada Habib Umar bahwa NU baru saja menyelesaikan Muktamar ke-35 sekaligus membentuk kepengurusan baru untuk masa khidmah 2026–2031.
“Saya sendiri menyampaikan bahwa NU baru saja melaksanakan Muktamar yang ke-35 dan berhasil melahirkan pengurus yang baru. Kemudian mohon didoakan mudah-mudahan amanah, gitu,” katanya.
Katib Aam PBNU Prof M Nuh menyampaikan bahwa Habib Umar berpesan dan mendoakan agar setelah pelaksanaan muktamar, NU terus tumbuh dan berkembang serta memberikan manfaat bagi warga Nahdliyin maupun masyarakat dunia.
“Itulah cita-cita kita semua. Kemanfaatan tidak hanya untuk warga kita, tetapi tentu warga kita plus masyarakat dunia,” katanya.
Prof Nuh menyebut kunjungan tersebut sebagai ajang silaturahim antartokoh dan antarulama besar. Menurutnya, tradisi silaturahim di antara para tokoh penting untuk menjaga hubungan batin, saling mendoakan secara langsung, serta mempererat tali silaturahim.
Selain itu, pertemuan tersebut menjadi momentum bagi para ulama untuk saling memberikan kenang-kenangan berupa kitab karya masing-masing. Dalam kesempatan itu, Habib Umar menerima karya dari KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Dimyathi, dan KH Zulfa Musthofa.
“Tukar-menukar hasil karya itu menjadi simbol sebenarnya dari para ulama itu. Salah satu kebahagiaan atau yang membahagiakan sekali sekaligus membanggakan itu kan bisa memberikan hasil karya berupa karya tulis, buku, kitab, pemikiran-pemikiran kepada para tokoh itu,” katanya.
“Itu bagian dari silaturahim keilmuan yang nanti bisa memperkuat sanad keilmuannya itu sendiri. Saya kira itu esensinya,” pungkasnya. (adm)











Discussion about this post