Avesiar – Depok
Indonesia begitu kaya akan keanekaragaman budaya yang memesona. Setiap suku di Indonesia memiliki keunikan budaya tersendiri yang jika diselami, akan membuat kita semakin terkagum-kagum akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
Menikmati keberagaman budaya tersebut dalam dilakukan dengan mengunjungi daerah-daerah tertentu baik yang menjadi lokasi wisata, maupun pemukiman yang bukan secara resmi menjadi lokasi wisata, namun dapat dikunjungi.
Videografer muda berbakat Gusti Firly bersama komunitas pendidikan film Doss School, di saat pandemic berlangsung, telah mengabadikan sebuah kehidupan masyarakat suku Baduy yang terletak di Lebak, Banten, dengan gaya videografi tersendiri. Mereka menamakan film dokumenter yang dibuatnya, The Graceful Baduy.
Suku Baduy dapat dikatakan terpencil, kuno, jauh dari teknologi zaman sekarang. Namun, menurut Gusti Firly, ternyata dalam situasi pandemi saat ini (rentang 2020 – 2021), banyak hal menakjubkan yang tidak sangka dari kehidupan suku tersebut.

Pembuatan film dokumenter tersebut bagi Firly dan tim adalah suatu kesempatan menjelajah ke pemukiman suku Baduy sekaligus membuat karya yang dapat dinikmati masyarakat. Diakui sang video director ini, yang menarik dari suku ini yaitu meskipun lokasi pemukiman mereka tidak jauh dari Ibukota, namun kearifan local masih terjaga dengan baik.
“Mereka memperlihatkan kepada dunia bahwa ada budaya yang orisinil dan mereka tidak terpengaruh dengan dunia luar,” ujar Firly kepada avesiar.com baru-baru ini.
Dengan menghabiskan biaya sekitar 14 juta dan waktu pembuatan selama 2 hari 1 malam, pengerjaan film dilakukan oleh 6 orang kru termasuk dirinya. “Semua shoot yang di saksikan bersama adalah 100 persen kultur Baduy dan kita bisa lihat di sana tidak ada teknologi,” jelasnya.

Dia mengaku tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan film documenter itu. Hal tersebut karya itulah yang benar-benar diimpikannya untuk dibuat. Firly mengakui bahwa dia mengambil gambar dengan hati yang senang dan bisa berdialog serta mengarahkan mereka secara langsung.
“Saya berharap banyak teman-teman yang bisa membantu promosikan video ini. Karena ini adalah aset budaya bangsa kita. Di sosial media seperti youtube, instagram, mungkin baru sekitar 20 ribu view saja. Jadi membutuhkan dukungan masyarakat agar film documenter ini dapat ditonton untuk memperkaya “ harapnya. (ave)













Discussion about this post