Avesiar – Jakarta
Perang Rusia-Ukraina dan sanksi berikutnya telah meningkatkan risiko terhadap prospek ekonomi global, dengan efek yang akan tergantung pada semakin lamanya dan tingkat keparahan krisis, kata Moody’s Investors Service dalam sebuah laporan.
Pemulihan Eropa akan berisiko jika konflik militer meningkat, menurut VP-Senior Credit Officer di Moody’s Kelvin Dalrymple.
“Seluruh dunia akan terpengaruh oleh guncangan harga komoditas pada saat inflasi sudah tinggi, dan oleh dampak keuangan dari sanksi terhadap Rusia dan dari volatilitas pasar keuangan,” tambahnya, dikutip dari Arab News, Jum’at (4/3/2022).
Sanksi yang dikenakan oleh AS dan sekutunya akan berdampak langsung pada Rusia dan Belarusia, dan dampak tidak langsung pada entitas asing yang melakukan bisnis dengan Rusia, yang akan mempengaruhi ekonomi global.
Menurut analisis Moody’s, naiknya harga komoditas dari wilayah tersebut, seperti minyak, biji-bijian dan logam, meningkatkan tekanan inflasi.
Harga logam naik karena krisis, karena Rusia adalah produsen besar. Negara-negara lain yang memproduksi aluminium, platinum, tembaga dan paladium akan mendapatkan keuntungan dari harga yang lebih tinggi. Sementara, konsumen akan menghadapi biaya yang lebih tinggi karena kenaikan tersebut dibebankan kepada mereka, kata Moody’s.
Rusia dan Ukraina dominan dalam produksi global gas neon, sebuah komponen dalam manufaktur semikonduktor. Dengan demikian, perang Ukraina-Rusia dapat memperburuk kekurangan chip dan masalah pasokan di industri otomotif. (ave)













Discussion about this post