Avesiar – Medan
Limbah berupa punting rokok sering kita temui di mana-mana. Dengan jumlah yang sangat banyak, puntung rokok memiliki sejumlah risiko bagi lingkungan.
Di sisi lain, penggunaan pestisida kimia oleh petani juga menimbulkan bahaya tersendiri. Bukan saja tidak ramah lingkungan, harga pestisida kimia juga tergolong mahal.
Kedua hal di atas membuahkan ide untuk memberdayakan limbah puntung rokok sebagai sarana yang murah dan dapat mengendalikan hama pada tanaman. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh Tim PKM UMSU yang terdiri dari Rini Susanti, S.P.,M.P (ketua) bersama dua anggotanya Muktar Yusuf, S.P.,M.P, dan Nana Trisna Mei Br Kabeakan, S.P., M.P. Mereka membuat pelatihan pembuatan pestisida alami dari sampah puntung rokok.
Objek kegiatan tersebut yaitu berupa tanaman Pepaya yang terserang hama dan penyakit. Kegiatan ini dilakukan di Desa Situngkit Kecamatan Wampu Kabupaten Stabat.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu peluang besar membantu petani untuk menghemat biaya produksi sekaligus sebagai upaya mengurangi sampah di lingkungan sekitar kita, mengingat bahwa sampah puntung rokok ini sangat mudah didapatkan, dan penggunaaan pestisida alami ini bisa digunakan pada tanaman holtikultura maupun tanaman buah seperti Pepaya dan lainnya,” ujar Rini Susanti, dikutip dari Suara Muhammadiyah, Jum’at (5/8/2022).
Rini mejelaskan bahwa puntung rokok juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman. Salah satunya adalah sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama ulat pada sejumlah tanaman.
Dia juga menjelaskan cara membuat pestisida nabati dari puntung rokok untuk hama tanaman, khususnya ulat. Alat dan bahan yang dibutuhkan adalah, 100 gram limbah puntung rokok, 7 liter air, 1 sendok teh sabun colek, ember, alat semprot atau sprayer, saringan, dan toples.
Caranya dengan membersihkan puntung rokok, kemudian rendam dengan air. Lakukan perendan selama empat hari hingga seminggu, usahakan berada di tempat yang tertutup. Langkah ini bertujuan untuk mengeluarkan zat yang terkandung dalam puntung rokok.
Setelah melalui tahap perendaman, lalu larutan tersebut disaring dengan menggunakan kain. Kemudian akan diperoleh pestisida nabati dari limbah puntung rokok tersebut.
Langkah ini bertujuan untuk memisahkan ampas rokok dan air limbahnya. Untuk menggunakan, tinggal mencampurkan dengan setengah sendok teh sabun colek. Pestisida siap digunakan.
Cara mengaplikasian pestisida nabati ekstrak limbah puntung rokok dilakukan pada pagi dan sore hari. dengan dosis 200 cc per 5 liter air yaitu dengan menyemprotkan pestisida nabati puntung rokok pada tanaman yang teserang hama ulat.
“Walaupun pestisida ini bersifat nabati, kita harus tetap membersihan hasil panen sayur maupun buah sama halnya dengan pestisida alami lainnya agar hasil panen tersebut bisa dikonsumsi dalam keadaan besih” bebernya.
Kelebihan penggunaan pestisida alami dari sampah puntung rokok ini antara lain mencegah kehadiran hama karena baunya yang menyengat, merusak syaraf hama, mengacaukan sistem hormon hama, mengendalikan pertumbuhan jamur dan bakteri, serta dapat menyebabkan gangguan metamorfosa dan gangguan bagi serangga.
”Limbah puntung rokok memiliki kandungan nikotin, fenol, dan eugenol yang masing-masing memiliki peran dalam mengendalikan hama pada tanaman. Nikotin bersifat racun bagi organisme, sedangkan berdasarkan penelitian eugenol dan fenol berperan efektif dalam mengendalikan patogen tanaman,” ungkap Rini. (dwi)













Discussion about this post