Avesiar – Jakarta
Tragedi selama pembentukan Israel pada 15 Mei 1948, di mana sekitar 700.000 warga Palestina diusir dari negaranya yang disebut sebagai peristiwa Nakba, diperingati pada Rabu, dikutip dari The New Arab, Kamis (15/5/2025).
Para pemimpin Israel terus menyatakan keinginan untuk mengosongkan wilayah Palestina sebagai bagian dari perang yang dimulai pada 7 Oktober 2023 dengan kondisi Puluhan ribu orang telah tewas di Gaza dan blokade bantuan yang Israel lakukan mengancam kelaparan.
Pasukan Israel telah menggusur puluhan ribu orang dari kamp-kamp pengungsi sebagai bagian dari operasi militer besar-besaran di Tepi Barat yang diduduki sejak 1967.
Di kota Ramallah di Tepi Barat, bendera Palestina dan bendera hitam bertuliskan “kembali” berkibar di persimpangan jalan, sementara anak-anak sekolah diangkut dengan bus ke pusat kota untuk mengambil bagian dalam peringatan selama seminggu.
Hampir semua dari 2,4 juta penduduk Gaza telah mengungsi setidaknya sekali selama perang.
Kabinet keamanan Israel pada awal Mei menyetujui rencana untuk memperluas serangan militer di Gaza, yang ditujukan untuk “menaklukkan” wilayah tersebut sambil mengungsikan penduduknya secara massal, yang menuai kecaman internasional.
Sebuah pernyataan yang keji adalah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pemerintahnya tengah berupaya mencari negara ketiga untuk menampung penduduk Gaza, beberapa bulan setelah Presiden AS Donald Trump menyarankan mereka diusir dan wilayah itu dibangun kembali sebagai tujuan wisata.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, dikutip dari The New Arab, militer Israel melancarkan operasi skala besar yang masih berlangsung di Tepi Barat pada bulan Januari yang telah menyebabkan sedikitnya 38.000 orang mengungsi.
Operasi tersebut terutama menargetkan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat utara dan melibatkan perintah evakuasi militer dan pembongkaran rumah. (ard)













Discussion about this post