Avesiar – Jakarta
Nasib Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba masih belum jelas pada Senin (21/7/2025) setelah koalisinya kehilangan mayoritas di majelis tinggi dalam pemilu yang dimenangkan oleh partai populis sayap kanan, dilansir The Guardian.
Pemungutan suara tidak secara langsung tersebut meskipun tidak menentukan jatuhnya pemerintahan minoritas Ishiba, namun memberikan tekanan pada pemimpin yang sedang berjuang tersebut, yang juga kehilangan kendali atas majelis rendah yang lebih kuat pada bulan Oktober dan yang tidak pernah populer di dalam partainya sendiri.
Untuk mengamankan 248 kursi di majelis tinggi dalam pemilu di mana separuh kursi diperebutkan, Partai Demokrat Liberal (LDP) dan mitra koalisinya, Komeito, membutuhkan 50 kursi ,tetapi hanya mengamankan 47 kursi, dengan satu kursi tersisa untuk dideklarasikan, hingga Senin pagi.
Ishiba yang berusia 68 tahun, mengatakan ia “dengan sungguh-sungguh” menerima “hasil yang keras” tersebut, katanya kepada NHK dua jam setelah pemungutan suara ditutup.
“Benar. Ini situasi yang sulit, dan kita harus menanggapinya dengan rendah hati dan serius,” ucapnya ketika ditanya apakah ia berniat untuk tetap menjabat sebagai perdana menteri dan pemimpin partai.
Disebutkan bahwa hasil tersebut juga melemahkan posisi Ishiba beberapa hari sebelum negara tersebut perlu menegosiasikan kesepakatan dengan pemerintahan Trump untuk menghindari pengenaan tarif yang memberatkan di pasar ekspor terbesarnya.
“Kita terlibat dalam negosiasi tarif yang sangat kritis dengan Amerika Serikat … kita tidak boleh merusak negosiasi ini. Wajar saja jika kita mencurahkan seluruh dedikasi dan energi kita untuk mewujudkan kepentingan nasional kita,” kata Ishiba kepada TV Tokyo.
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia Jepang menghadapi tenggat waktu 1 Agustus untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS.
Negara tersebut sudah dikenakan tarif 10 persen untuk importnya. Sementara untuk industri otomotif yang menyumbang 8 persen lapangan kerja, terguncang oleh pungutan sebesar 25 persen.
Anjloknya pengiriman mobil ke AS berdasarkan data ekspor yang lemah pekan lalu, memicu kekhawatiran bahwa Jepang bisa terjerumus ke dalam resesi teknis.
Belum jelas siapa yang akan maju sebagai perdana menteri ke-11 LDP sejak tahun 2000 jika Ishiba lengser. Hal ini mengingat pemerintah membutuhkan dukungan oposisi di kedua majelis. (ard)













Discussion about this post