Avesiar – Jakarta
Serangan pemukim Israel kepada jurnalis di Tepi Barat yang diduduki, mendapat kecaman sebuah organisasi yang mewakili media internasional di Israel dan wilayah Palestina, dan mendesak otoritas Israel untuk segera menghentikan “kekerasan”.
Dikutip dari The New Arab, Rabu (12/11/2025), Asosiasi Pers Asing (FPA) yang mewakili ratusan jurnalis asing, mengatakan pihaknya “terkejut” oleh serangan baru-baru ini, terutama selama panen zaitun tahun ini.
“Wartawan, baik lokal maupun asing, telah terbukti menjadi target yang jelas karena mereka mendokumentasikan tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak terkendali terhadap warga Palestina selama panen zaitun tahun ini,” kata asosiasi tersebut, mengutip dua insiden yang melibatkan jurnalis dari media internasional.
Pada hari Sabtu, FPA mengatakan bahwa dua karyawan kantor berita Reuters yang mengenakan rompi dan helm pers yang ditandai dengan jelas diserang oleh warga sipil Israel bertopeng yang bersenjatakan tongkat dan batu di dekat desa Palestina, Beita.
“Sekelompok puluhan pemukim memukuli salah satu karyawan, seorang reporter perempuan, saat ia sudah tergeletak di tanah, mengakibatkan luka parah. Mereka juga menyerang orang-orang yang mencoba menolongnya. Seorang petugas keamanan Reuters terkena tembakan, dan dua jurnalis lepas Palestina terluka saat dikejar,” kata FPA.
Para pemukim juga memukuli seorang fotografer veteran AFP dengan tongkat saat merekam panen zaitun di area yang sama pada 10 Oktober lalu.
Mobilnya, bersama beberapa mobil lain yang diparkir agak jauh dari ladang, dilempari batu dan kemudian dibakar oleh para penyerang.
“Fotografer tersebut, yang bersaksi bahwa itu adalah salah satu serangan terburuk dalam 30 tahun kariernya, melaporkan bahwa pasukan Israel di lokasi kejadian menolak untuk campur tangan, malah menembakkan peluru karet dan gas air mata ke arah para pemetik zaitun dan aktivis yang mendampingi mereka,” kata FPA.
Mereka juga menambahkan bahwa beberapa insiden serupa telah terjadi dalam beberapa minggu terakhir.
“Pasukan Israel secara rutin melecehkan dan mengintimidasi jurnalis, dalam beberapa kasus menahan mereka dan mengancam akan dideportasi. Ini semua merupakan bagian dari iklim permusuhan yang semakin dalam terhadap media oleh otoritas Israel,” kata FPA dan mendesak pihak berwenang untuk menyelidiki insiden tersebut dan meminta pertanggungjawaban para pelaku.
Asosiasi tersebut mengatakan juga mendesak secara khusus kepala komando pusat Mayor Jenderal Avi Bluth dan komandan polisi Moshe Pinchi untuk menjunjung tinggi tugas mereka guna memastikan para jurnalis dapat bekerja dengan bebas dan aman.
“Kebebasan pers tidak dapat terwujud di lingkungan di mana jurnalis diancam dan dirugikan dengan impunitas penuh,” lanjutnya.
Sedangkan militer Israel tidak segera memberikan tanggapan. (ard)













Discussion about this post