Avesiar – Jakarta
A. Kelahiran Syaikhona Moh. Kholil
Syaikhona Moh. Cholil, dilansir laman merupakan salah satu ulama besar yang berasal dari Bangkalan Madura Jawa Timur. Ia berperan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara, para santrinya menyebar di nusantara.
Dia guru yang melahirkan alim ulama, cendekiawan, dan pahlawan nasional yang memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan jam’iyah nahdlatul ulama didirikan atas rekomendasi Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan untuk mengumpulkan pengaruhnya dan membentuk organisasi sosial masyarakat terbesar di Indonesia.
Syaikhona Moh. Cholil lahir pada Hari Rabu, malam Kamis Tanggal 9 Safar Tahun 1252 H. bertepatan dengan Tanggal 25 Mei 1835 M di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Pulau Madura Jawa Timur dari pasangan KH. Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah.
KH. Abdul Latif yang merupakan seorang ulama besar dan terkenal di Bangkalan merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya yaitu Nyai Siti Khadijah lahir seorang anak laki-laki yang sehat.
Bayi yang sangat diharapkan kehadirannya ini, dalam benak KH. Abdul Latif diharapkan akan mengikuti jejak leluhur nenek moyangnya. Nenek moyangnya sangat berkhidmad kepada Islam di Tanah Jawa, yaitu Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Doa demi doa selalu dipanjatkan, dengan penuh harapan mudah-mudahan bayi ini kelak melanjutkan jejak perjuangan nenek moyangnya yang memimpin dan memandu umat. Seusai mengadzani telinga kanan dan meng-qamati telinga kiri sang bayi, KH. Abdul Latif memohon kepada Allah agar mengabulkan permohonannya.
Setelah diaqiqahi tujuh hari dari kelahirannya, kemudian diberi nama Moh. Cholil
B. Silsilah Nasab Syaikhona Moh. Kholil
Berdasarkan manuskrip tulisan tangan Syaikhona Moh. Kholil bahwa beliau menulis silsilah keluarganya hanya sampai 4 generasi di atasnya, yaitu:
1. KH. Muharrom
2. KH. Abdul Karim
3. KH. Hamim
4. KH. Abdul Latif
5. Syaikhona Moh. Kholil.
Sementara itu, dalam Buku Biografi Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan yang ditulis oleh Syaifur Rahman yang berjudul “Surat Kepada Anjing Hitam” silsilah Syaikhona Moh. Kholil adalah sebagai berikut:
1. Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
2. Sayyidah Fatimatuz Zahra r.a.
3. Sayyidina Husein bin Ali
4. Sayyidina Ali Zainal Abidin
5. Sayyidina Muhammad Baqir
6. Sayyidina Jafar Shodiq
7. Sayyidina Ali Al Uraidi
8. Sayyidina Muhammad Tsaqib
9. Sayyidina Isa
10. Sayyidina Ahmad Muhajir
11. Sayyidina Al Ardibur
12. Sayyidina Alwi
13. Sayyidina Muhammad
14. Sayyidina Alwi
15. Sayyidina Ali Kholi Qosim
16. Sayyidina Muhammad Shahib Mirbad
17. Sayyidina Ali
18. Sayyidina Abdul Malik
19. Sayyidina Abdullah Adhimah kham
20. Sayyidina Ahmad Syah Jalal
21. Maulana Jamaluddin Akbar
22. Maulana Ali Nuruddin
23. Maulana Umadaduddin Abdullah
24. Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati, Cirebon
25. Syarifah Khodijah (istri Sayyid AbdurRahman Baasyaiban)
26. Sayyid Sulaeman, Mojoagung, Jombang
27. KH. Abdullah
28. KH. Asror Karamah
29. KH. Muharram
30. KH. Abdul Karim
31. KH. Abdul Hamim
32. KH. Abdul Latif
33. Syaikhona Moh. Kholil
C. Riwayat Pendidikan Syaikhona Moh. Kholil
Semasa kecil Syaikhona Moh. Kholil belajar kepada sang ayah, KH. Abdul Latif berbagai pendidikan dasar agama dan akhlak yang mulia diajarkan oleh KH. Abdul Latif kepada Syaikhona Moh. Kholil.
Bakat Istimewa Syaikhona Moh. Kholil sudah tampak sejak kecil. Diantaranya beliau sudah mampu menghafal seribu bait nadzam kitab Alfiyah Ibnu Malik. Disamping itu beliau sangat cepat menguasai ilmu Fiqih dan Nahwu.
Setelah di didik dilingkungan keluarga sendiri, KH. Abdul Latif menyadari bakat yang dimiliki anaknya. Sehingga mengirim Syaikhona Moh. Kholil ke Berbagai Pondok Pesantren. Beliau dalam menuntut ilmu dibagi menjadi dua periode yaitu yang pertama periode Madura dan Jawa, kedua periode Makkah.
A. Periode Madura dan Jawa
Setelah mendapatkan pendidikan dari sang ayah Syaikhona Moh. Cholil melanjutkan pengembaraannya dalam mencari ilmu yang dimulai dari kota kelahirannya sendiri yakni Bangkalan, Madura. Di antara guru Syaikhona Moh. Kholil:
1. Guru Dawuh
Guru Dawuh ini juga dikenal dengan Bujuk Dawuh, bermukim di Desa Mlajah Bangkalan. Sistem yang diajarkan oleh Guru Dawuh ini bisa dibilang unik karena dilakukan secara nomaden, (tidak menetap pada satu tempat) dan kondisional.
2. Guru Agung
Beliau dikenal dengan Bujuk Agung, sewaktu Syaikhona Moh. Cholil belajar kepada Guru Agung ia tak kenal lelah belajar dengan konsisten
Sekitar tahun 1850-an ketika usia Syaikhona Moh. Kholil mau menjelang dewasa, beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke beberapa Pondok Pesantren yang menjadi tempat Syaikhona Moh. Kholil menuntut ilmu antara lain :
1. Pondok Pesantren Langitan Tuban
Tepatnya di Desa Mandungan, Widang, Tuban, Jawa Timur. Syaikhona Moh. Kholil mondok di Pondok Pesantren Langitan untuk memperdalam ilmu Nahwu dan Shorrof. Pada saat itu Pondok Pesantren Langitan Tuban diasuh oleh KH. Mohammad Noer (wafat 1870 M).
Sejak didirikan sampai sekarang, pondok pesantren ini tetap memegang teguh metode salaf dengan motto: “Al-muhafadzatu ala al-qadimi as-sholeh wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah” yang artinya adalah “menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik lagi”
2. Pondok Pesantren Canga’an Bangil, Jawa Timur
Setelah selesai belajar dari Pondok Pesantren Langitan Tuban, Syaikhona Moh. Cholil pindah ke Pondok Pesantren Canga’an Bangil, Jawa Timur. Pada saat itu pesantren tersebut diasuh oleh KH. Abdul Lathif. Di tempat tersebut Syaikhona Moh. Kholil memperdalam ilmu alat dan Fiqih.
3. Pondok Pesantren Darussalam, Kebon Candi, Pasuruan
Sepulangnya dari Pondok Pesantren Canga’an Bangil, Jawa Timur, rihlah pencarian ilmu Syaikhona Moh. Kholil pindah ke Pondok Pesantren Darussalam, Kebon Candi, Pasuruan. Waktu Syaikhona Moh. Kholil belajar di sana, pondok ini diasuh oleh KH. Arif.
4. Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
Saat Syaikhona Moh. Kholil mondok di Pondok Pesantren Kebon Candi, beliau belajar pula kepada KH. Noer Hasan yang menetap di Sidogiri. KH. Noer Hasan dan Syaikhona Moh. Kholil masih mempunyai pertalian nasab. Jarak antara Kebon Candi dan Sidogiri sekitar 7 KM. Namun, untuk mendapatkan ilmu, Syaikhona Moh. Kholil muda rela melakoni perjalanan yang terbilang lumayan jauh setiap harinya.
Setiap perjalanan dari Kebon Candi hingga ke Sidogiri, beliau tidak pernah lupa membaca Surah Yasin. Ini terus dilakukannya, sehingga beliau dalam perjalanan tersebut menyelesaikan Surah Yasin berkali-kali, konon ada yang menceritakan juga sampai selesai 41 kali.
5. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Setail, Genteng Banyuwangi
Pesantren terakhir di Pulau Jawa yang dituju Syaikhona Moh. Kholil muda selanjutnya adalah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Setail, Genteng Banyuwangi yang diasuh oleh KH. Abdul Bashar (wafat1915 M). Kisah Syaikhona Moh. Kholil muda yang mandiri dimulai dari pesantren ini.
Pengasuh memiliki kebun kelapa yang cukup luas dan banyak. Syaikhona Moh. Kholil muda menjadi buruh pemetik kelapa. Sesudah cukup di pesantren ini, gurunya menganjurkan Syaikhona Moh. Kholil belajar ke Makkah. Uang dalam peti yang dihaturkan kepada kiainya, diserahkan kembali pada Syaikhona Moh. Kholil agar dijadikan bekal dalam menuntut ilmu ke tanah suci Makkah.
B. Periode Makkah
Catatan manuskrip yang ditulis oleh Syaikh Mohammad Yasin bin Isa al-Padany, menyebutkan bahwa Syaikhona Moh. Kholil pertama kali berangkat ke Makkah pada tahun 1260 H/1843 M.
Namun, dalam manuskrip kitab Alfiyah yang ditulis oleh beliau sendiri menyatakan bahwa beliau pergi ke Makkah berkali- kali, bahkan tercatat sampai 7 kali. Maka tidak heran jika dalam banyak sejarah yang lain menyebutkan bahwa Syaikhona Moh. Kholil muda juga menimba ilmu ke Makkah setelah dinikahkan dengan seorang putri bangsawan yang bernama Nyai Assek binti Lodrapati.
Pada masa itu belajar ke Makkah merupakan cita- cita semua santri. Untuk mewujudkan impiannya kali ini, Syaikhona Moh. Kholil tidak menyatakan kepada orang tuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua orang tuanya.
Kemudian, setelah Syaikhona Moh. Kholil memutar otak untuk mencari jalan keluar, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi, karena pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukup luas. Selama nyantri di Banyuwangi ini, Syaikhona Moh. Kholil menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen.
Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Syaikhona Moh. Kholil muda menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya. Dari situlah Syaikhona Moh. Kholil muda bisa makan gratis.
Pada tahun 1859 M, saat usia Syaikhona Moh. Kholil mencapai 24 tahun ia memutuskan untuk kembali pergi ke Makkah. Sebelum berangkat, Syaikhona Moh. Kholil menikah dahulu dengan Nyai Assek binti Lodrapati.
Setelah menikah berangkatlah beliau ke Makkah. Sedangkan ongkos pelayarannya diambil dari hasil tabungannya selama menjadi santri di Banyuangi, dan selama perjalan beliau berpuasa dan berdzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Siang hari Syaikhona Moh. Cholil membaca al-quran dan shalawat sedangkan malamnya membaca wirid bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan setelah tiba di Makkah beliau langsung bergabung Bersama teman-teman santri yang berasal dari Indonesia.
Syaikhona Moh. Kholil belajar kepada Syaikh Nawawi al-Bantani yang juga berasal dari Indonesia. Diantara gurunya di Makkah ialah Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syaikh Mushthafa bin Mohammad Al-Afifi Al-Makki, Syaikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani.
Beberapa sanad hadits musalsal diterima dari Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).
Secara lebih detail, berikut nama-nama guru Syaikhona Moh. Kholil muda hingga menimba ilmu di Makkah:
1. KH. Abdul Latif bin Kiai Hamim (w.1806 М), Bangkalan
2. Nyai Hj. Siti Maryam bin KH. Abdul Latif (1831 M), Bangkalan
3. KH. Kaffal bin KH. Abbas bin Hamzah, Bangkalan
4. KH. Dawuh, Tokoh Agama Mlajah Bangkalan
5. KH. Muqoddas bin Abdul Karim bin KH. Abbas, Sembilangan Bangkalan
6. Syaikh KH. Muhammad Nur (w.1880 M), Perintis Pondok langitan Tuban Lasem Rembang Jawa Tengah
7. KH. Abdul Latif (1800 – 1850 M.), Pondok Canga’an Bangil Pasuruan
8. K. Abu Dzarrin bin Abi Husain (1760-an M), Tugu Winongan Pasuruan
9. KH. Arif, Pondok Darussalam Kebon Candi Pasuruan
10. KH. Noer Hasan bin Nur Khotim, Pondok Sidogiri Pasuruan
11.KH. Abdul Bashar (w. 1915 M), Pondok Salafiyah Syafi’iyah Banyuwangi
12. Sayyid Ahmad al-Hulwani (1813 M ), Damaskus
13. Syaikh Utsman bin Hasan al-Dimyathi (1782 M – 1848 M), Dimyath
14. Syaikh Abdul Hamid al-Syarwani (w. 1887 M), Dagistan Rusia15. Sayyid Muhammad bin Husain al-Habsyi (1788 M 1854 M), Hadramaut
16. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1811 M – 1885 M), Makkah
17. Ibrahim al-Bajuri (1784 M – 1859 M), Mesir
18. Syaikh Hasabullah al-Makki (1829 M – 1917 M), Makkah
19. Sayyid Umar Barakat al-Syami, Syam Syiria
20. Syaikh Nawawi Al-Bantani (1815 M – 1897 М), Tanara Serang
21. Abdul Jalil bin Abdussalam Barradan Afandi (1826 M – 1909 M), Madinah
22. Sayyid Abdulah bin Aqil Bin Umar Bin Yahya al- Alawy (1862 M – 1932 M), Hadramaut Yaman
23. Amir Abdul Qadir bin Musthafa al-Jazairi (1807 M – 1855 M), Qaythanah Aljazair
24. Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Al-Dahhan al- Hanafi (1866 M – 1919 M), Makkah
25. Ahmad Ismail bin Zainal Abidin al-Barzanji, Madinah
26. Syaikh Mahmud bin Kinan al-Palimbani (w. 1884 M), Palembang
27. Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusi (1787 M – 1859 M), Mustagonim
28. Syaikh Muhammad Murad al-Qazani (1854 M – 1933 M)29. Abdurrahman bin Sulaiman bin Yahya Umar Maqbul al-Ahdal (1765 M – 1835 M)
30. Syaikh Abdul Ghani al-Mujaddi ad-Dahlawi (1820 M – 1879 M), Delhi India31. Syaikh Abdullah bin Abdul Baqi As-Sya’bi al- Madani, Madinah
32. Syaikh Abdul Ghani bin Subuh Bima (w. 1854 M), Bima
33. Muhammad al-Minsyawi (1920 M), Suhaj Mesir
34. Abdulah bin Abdurrahman Siraj (1786 M – 1848 M), Makkah
35. Muhamad Falih ad-Dhahiri al-Madani (1845 М), Madinah.
36. Abdurrahman al-Kusbari al-Hafid (1771 M-1846 M), Syam Syiria.
37. Husein bin Husein, Makkah
38. As’ad bin Ahmad ad-Dahhan al-Hanafi, Makkah
39. Ahmad bin Hasan al-Atthas (1841 M – 1916 M), Haridhah Haramaut Yaman.
40. Sayyid Hafiduddin Jamalullail, Yaman.
41. Zainuddin al-Sumbawi, Sumbawa NTB.
42. Syaikh Abdul Karim as-Sambasi.
Selain itu Syaikhona Moh. Kholil sering mendatangi ulama besar di Makkah untuk menimba ilmu, dan dalam hal itu dilakukan selama empat tahun dan ada yang unik dalam pembelajaran Syaikhona Moh. Kholil, mencatat pelajaran yang diajari oleh gurunya ke pakaiannya, kemudian dihafalkan. Setelah hafal, maka dicuci bajunya sampai kering dan dipakai lagi.
Cara belajar unik dari Syaikhona Moh. Kholil ini merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh Syaikhona Moh. Kholil.
Konon katanya Syaikhona Moh. Cholil sering memakan kulit Semangka dari pada makanan lain yang lebih layak. Untuk kebutuhan sehari-harinya di sana, Syaikhona Moh. Kholil bekerja mengambil upah dengan cara menyalin pelajaran kitab yang diperlukan oleh para penuntut ilmu di sana.
Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikhona Moh. Kholil dan Syaikh Shaleh (Semarang) untuk menyusun kaidah penulisan huruf Pegon.
Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan Bahasa Melayu. Wallahua’lam. (adm)













Discussion about this post