Avesiar – Jakarta
Seorang pria kagum pada tukang ojek yang mangkal di salah satu warung kopi. Saat menunggu penumpang, mereka berbincang soal kehidupan, dan kebetulan ia mendengar obrolan mereka. Di antara para tukang ojek, terdapat sejumlah rencana yang menarik untuk masa depan.
Ada yang menyisihkan pendapatannya untuk menyicil rumah sederhana bersubsidi, ada yang berencana membeli kredit sepeda motor baru, dan ada juga yang menabung untuk membuka warung.
Yang menarik, salah satu tukang ojek bernama Darto memiliki tujuan yang berbeda. Dia dengan tekun menyisihkan sebagian besar pendapatannya untuk Umroh. Tak peduli berapa pun pendapatan yang diterimanya.
Jika mendapat Rp150 ribu, maka Darto akan menyisihkan Rp100 ribu untuk Umroh, sisanya Rp50 ribu untuk dirinya sendiri. Jika mendapat Rp100 ribu, dia akan menyisihkan Rp75 ribu untuk Umroh, sisanya Rp25 ribu untuk dirinya. Bahkan jika hanya mendapatkan Rp50 ribu, dia akan menyisihkan sebagian kecil yaitu Rp10 ribu untuk dirinya, sementara sisanya Rp40 ribu untuk Umroh.
Kisah Darto yang begitu bersemangat untuk Umroh membuat pria itu tertarik mengikutinya. Pria itu penasaran dengan kehidupan Darto dan memutuskan untuk mengunjungi rumahnya suatu hari.
Ketika ia sampai di rumahnya, semakin kagum ia pada Darto. Meskipun hidupnya pas-pasan, Darto dengan tulus mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk mewujudkan cita-citanya.
Ketika pria itu dan Darto berbincang, isterinya keluar menyajikan kopi panas. Ia semakin terkesan dengan kesederhanaan mereka berdua. Tiba-tiba, Darto memperkenalkan isterinya, dan berkata, “Inilah isteri saya, namanya Umroh.”
Saat itu saya baru memahami, sambil tersenyum dan meneguk kopi, bahwa “Umroh” adalah nama isteri Darto.
Pria tersebut menyadari, bahwa meskipun Darto belum bisa naik Haji, dia telah berkali-kali naik Umroh. Kehidupan mereka yang sederhana tetapi penuh dengan keikhlasan dan cinta membuat pria itu terinspirasi. (adm/sumber ketawadotcom)













Discussion about this post