Avesiar – Jakarta
Godaan dalam hidup bisa datang dari banyak hal. Salah satunya adalah penyakit hati. Penyakit paling tersembunyi dan paling merusak adakah iri hati karena tidak terlihat, tidak bersuara, namun pelan-pelan mengikis ketenangan hati seseorang dari dalam.
Seperti yang dibahas dalam materi khutbah Jum’at berjudul “Jangan Iri Hati Ketika Orang Lain Lebih Sukses” yang dilansir laman Nahdlatul Ulama, Kamis (14/5/2026).
Dituliskan bahwa penyakit iri muncul saat kita melihat orang lain berhasil, sementara kita merasa sudah berusaha. Ia juga hadir ketika orang lain dipuji, sementara hati kita merasa lebih layak.
Manusia kerap dihadapkan pada berbagai perbedaan keadaan sehari-hari. Ada orang yang lebih kaya, lebih cerdas, lebih terkenal, lebih berhasil dalam usaha, bahkan lebih beruntung dalam urusan keluarga dan pekerjaan.
Di tengah derasnya media sosial hari ini, kita semakin mudah melihat keberhasilan orang lain. Namun sayangnya, tidak semua hati mampu menerimanya dengan lapang. Ada hati yang kemudian dipenuhi iri dan dengki.
Ketika melihat orang lain berhasil, ia merasa sempit. Ketika melihat orang lain bahagia, ia merasa gelisah. Bahkan terkadang muncul doa-doa buruk agar nikmat itu hilang dari saudaranya.
Padahal sifat iri dan dengki merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia dapat menghapus pahala, merusak persaudaraan, dan membuat hidup seseorang tidak pernah tenang.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Imam Muslim)
Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui Surah An-Nisa ayat 32 menegaskan bahwa sifat hasad atau iri dengki tidak membawa kebaikan, melainkan dapat memicu permusuhan, merusak hubungan antarmanusia, dan menimbulkan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa, ayat 32)
Iri hati sering muncul karena seseorang terlalu sibuk melihat nikmat orang lain, tetapi lupa mensyukuri nikmat dirinya sendiri. Padahal setiap manusia telah Allah tetapkan jalan hidupnya masing-masing. Sejatinya, rezeki, kedudukan, kemampuan, dan keberhasilan seseorang merupakan bagian dari ketetapan Allah. Karena itu, tidak pantas seorang mukmin membenci keberhasilan saudaranya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zukhruf ayat 32;
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Lebih jauh lagi, sikap iri hati atau hasad dapat memberikan dampak yang sangat merugikan bagi pelakunya, bahkan dapat menghapus nilai-nilai kebaikan yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa hasad bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga berdampak pada kualitas spiritual seseorang.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, riwayat Imam Abu Dawud dari Abu Hurairah:
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam . bersabda: “Hindarilah sifat hasad, karena hasad itu menghapus kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
Agar terhindar dari dampak buruk hasad, Nabi Muhammad Saw. mengajarkan umatnya untuk saling mencintai dan menghargai sesama. Salah satu caranya adalah tidak iri atas keberhasilan orang lain, melainkan menjaga persaudaraan.
Salah satu cara menghindari hasad adalah dengan turut berbahagia atas kesuksesan orang lain serta menjaga persaudaraan.
“Dari Anas, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Janganlah kalian saling hasad (dengki), saling membenci, saling berselisih, akan tetapi jadilah hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)
Semiga kita senantiasa menjaga hati dari sifat iri dan dengki, serta menggantinya dengan sikap syukur dan menghargai keberhasilan orang lain. (adm)













Discussion about this post