Avesiar – Jakarta
Di dunia perbankan, wanita ini menjadi salah satu yang sangat diperhitungkan dalam kinerja yang mumpuni. Dia senantiasa yakin bahwa setiap tantangan akan dapat dilaluinya dengan baik. Pantang menyerah dan setiap pindah divisi, meskipun di level pimpinan, tidak ada ‘bulan madu’ baginya.
Wartawan senior Ave Rosa A. Djalil, berkesempatan mewawacarai secara khusus kelahiran Semarang, 15 Juli 1970, yang pernah bercita-cita menjadi ‘tukang insinyur’ ini, tentang kesibukannya kini.
Dhias Widhiyati atau akrab disapa Dhias, seorang bankir yang kini menjabat General Manager Division Small Medium Enterprise (SME) PT. Bank Negara Indonesia Tbk, mengakui senantiasa menghargai nilai-nilai yang berlaku di mana dia berada dan tetap bekerja secara profesional.
Wanita yang sebelumnya menjabat Direktur Bisnis SME di BNI Syariah ini tengah sibuk menjalankan tugasnya di bidang pengembangan usaha kecil dan menengah. Bagi Ibu tiga putra ini, UMKM punya peranan penting untuk pertumbuhan ekonomi. Dijelaskannya, 61 persen GDP Indonesia adalah kontribusi dari UMKM dan 97 persen tenaga kerja di Indonesia diserap oleh UMKM.
“UMKM memiliki peran terhadap ekonomi Indonesia. Sementara, UMKM adalah segmen yang paling terdampak cukup parah selama pandemi terjadi. Hal ini menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab kami utk membantu percepatan recovery bagi UMKM.
Namun, dikatakan Dhias, misi saat ini agar upaya itu tidak berhenti hanya pada recovery, namun juga membantu UMKM agar mampu sustain menjalankan, bahkan mendorong mereka untuk mengembangkan bisnis yang dijalankan.
“Saat ini kami berusaha mendampingi UMKM, membangun kapabilitas mereka melalui penguatan permodalan, mendukung UMKM untuk mendapatkan akses informasi mengenai usaha yang mereka jalankan, membantu layanan transaksi perbankan secara digital, mengenalkan digitalisasi usaha mereka agar berjalan lebih efisien, dan membantu mengembangkan UMKM memperluas usahanya bahkan hingga menembus pasar export,” beber wanita yang pernah menjabat Senior Executive Vice President Bisnis SME BNI Syariah itu.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, lulusan magister keuangan dari Universitas Gajah Mada ini memiliki prinsip dan nilai-nilai tersendiri yang selalu dijaganya. Dhias menyebutnya antara passion dan tantangan. Setiap pindah di unit baru, kata dia, ada challenge yang dihadapi.
“Saya tipikal menyukai challenge dan berusaha untuk bisa membuktikan bahwa tantangan di depan mata bisa dilalui dengan baik. Untuk itu, adaptability kunci utama untuk masuk ke unit-unit baru dengan memegang amanah baru, fast learning juga suatu keharusan. Apalagi level pimpinan, tidak ada ‘bulan madu’. Improvisasi dan semangat melakukan perbaikan dalam setiap unit yang kita masuki juga sangat diperlukan,” ulas wanita berkacamata itu.
Dhias mengatakan bahwa harus berupaya agar unit di mana dia berkarya menjadi lebih baik dalam kinerja atau performa, dari sisi proses contoh perbaikan Service Level Agreement (SLA), memperkenalkan cara kerja baru yang lebih sistematis, dan digital literate atau digitalisasi proses. Sedangkan dari sisi kualitas human capital (HC), lanjutnya, menyiapkan suksesor yang berkualitas jauh lebih baik dari kita.

Kesuksesan yang dicapainya saat ini tidak lepas dari pendidikan orang tua yang dicintainya. Dhias mengakui terlahir dari keluarga besar, bungsu dari 9 bersaudara. Keluarganya, bukan keluarga berlebihan, namun juga tidak kekurangan.
“Almarhum Ayah saya adalah perwira ABRI dan almarhumah Ibu adalah Ibu rumah tangga. Alhamdulillah, putra-putri Ayah dan Ibu kami semuanya berhasil dalam profesi mereka masing-masing. Apa yang kami capai saat ini tidak terlepas dari peran kedua orang tua kami yang mendidik kami untuk bekerja keras, memegang teguh integritas, dan punya prinsip dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai ini yang terus kami bawa dan terapkan di keluarga, lingkungan pekerjaan, dan dalam kehidupan bermasyarakat,” kenang Dhias Widhiyati bangga.
Di sisi keluarga, wanita low profile ini tidak menampik bahwa memang tidak mudah untuk memerankan fungsi sebagai seorang istri, ibu, dan wanita karier. Menurut dia, ada saat-saat di mana ada pengorbanan yang harus terjadi.
“Saya sendiri menyadari masih terus struggling untuk menjadi istri, ibu yang baik, yang sesuai harapan suami dan anak-anak. Sampai saat ini saya belum mastering untuk hal ini. Belum bisa balance sesuai dengan apa yang saya harapkan. Jujur pasti ada saat-saat di mana harus mengorbankan salah satu,” ungkap Ibu dari 1 putra dan 2 putri itu.
Bagi Dhias, yang bisa dilakukan adalah membuat skala prioritas dari setiap keadaan yang dihadapi. Impact mana yang lebih luas, baik yang positif maupun yang negarif, dalam setiap penentuan skala prioritas.
“Balancing dengan memberikan sebaik mungkin yang bisa saya berikan dari setiap roles yang diamanahkan pada saya. Baik sebagai istri, Ibu, karyawan, atasan, anak buah, dan bagian dari masyarakat. Masih jauh dari sempurna, namun tetap berusaha yang terbaik,” ungkap wanita yang rutin gowes saat weekend bersama suami ini blak-blakan.
Sebagai seorang Ibu, Dhias bersama suami menekankan nilai-nilai tersendiri kepada putra-putri mereka. Dikatakanya, values yang dtanamkan kepada mereka adalah integrity, capabilities yang senantiasa diasah dan dikembangkan, energy atau semangat untuk terus maju, dan mampu menghadapi masalah serta memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi dengan tetap bergantung pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Soal profesinya menjadi bankir seperti saat ini, sebenarnya Dhias mengaku dahulu bercita-cita masuk ke teknik elektro. “Kemudian kerja di manufacture, jadi tukang insinyur. Ternyata Allah menentukan nasib yang berbeda,” ujar lulusan Universitas Satya Wacana Salatiga jurusan Ekonomi Pembangunan ini. (Ave Rosa A. Djalil)













Discussion about this post