Avesiar – Depok
Sering kita mendengar istilah yang populer dalam kehidupan kita, yang seakan lebih modern disebutkan dalam bahasa Inggris, Life Begins at Forty.
Dalam istilah tersebut, diibaratkan kesuksesan manusia, terutama seorang pria, terlihat tatkala ia memasuki usia 40 tahun.
Jika ditilik dari anggapan dunia barat, maka kesuksesan tersebut tentu lebih banyak bermakna pada kesuksesan seseorang dalam karir, kemapanan hidup, status sosial dan ekonominya, serta kedewasaan dalam berpikir.
Namun, pernahkah kaum Muslimin mengingat sejarah di masa lalu, yang justru teladannya berasal dari Nabi Akhir Zaman, penutup para Nabi dan Rasul, pembawa berita gembira yaitu Al Qur’an sebagai tuntunan hidup?
Kebanggaan teladan dari istilah, Life Begins at Forty, justru datangnya dari junjungan kita, Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Mengapa demikian?
Jika dilihat dari riwayat kesuksesan Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, kenabian beliau Allah Subhanahu Wa Ta’ala sematkan pada usia 40 tahun, ketika Baginda Shallallahu Alaihi Wasallam menerima wahyu pertama yang menjadi awal diturunkannya Al Qur’an, yaitu Surat Iqra (bacalah).
Diriwayatkan, pada usia ke-40, Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam didatangi Malaikat Jibril Alaihissalam dan menerima wahyu pertama dari Allah. Inilah saat di mana Baginda benar-benar mencapai sebuah kadar tertinggi dari kematangan manusia (Wallahua’lam).
Di usia 40 tahun, seorang Muslim/ah akan diukur terutama dari segi ibadah dan ketaatannya (taqwa) kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apakah pada usia 40 bertambah, tetap, atau malah berkurang ibadahnya (naudzubillah).
Jika bertambah, maka ia digambarkan sebagai Mukmin/at yang beruntung. Namun, jika tetap atau malah berkurang, maka merugilah dia.
Bisa dibayangkan, ketika kesuksesan materi dan status sosial ekonomi kita mengalahkan bertambahnya ketaqwaan kita kepada Allah. Kita tentu berharap tidak mengalami hal yang demikian.
Karena sesungguhnya, di dalam sanubari kita sebagai seorang Muslim, ketaatan kepada Allah dan meneladani Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah impian hidup.
Apakah kita akan menjalani ketaqwaan tersebut? Tidak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam urusan agama. Dan tentu pula dalam berbakti kepada kedua orang tua kita.
Seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al Qur’an,
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa :
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)
Menurut Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, Al-Kalbi, Wahab bin Munabbih, dan Masruq (Radhiyallahu ajma’in), yang dimaksud dengan “umur panjang dalam masa yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut tidak lain adalah ketika berusia 40 tahun.
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini memberikan petunjuk bahwa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh.
Apabila itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah memberikan janji-Nya dalam ayat setelah itu, yaitu kematangan. Usia 40 tahun adalah usia matang untuk kita bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak heran tokoh-tokoh pemimpin muncul secara matang pada usia ini.
Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam seperti yang disebut oleh Ibn ‘Abbas RA: “Diutusnya Rasulullah (yaitu) pada usia 40 tahun” (HR Bukhari).
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain, kecuali Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS.
Mengapa umur 40 tahun begitu penting? Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) periode, yaitu:
1. Anak-Anak (Aulad): sejak lahir hingga akil baligh,
2. Pemuda (Syabab) : sejak akil baligh hingga 40 tahun,
3. Dewasa (Kuhul): 40 tahun hingga 60 tahun,
4. Tua (Syuyukh): 60 tahun ke atas.
Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,
“Seorang hamba Muslim bila usianya mencapai 40 tahun Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai 60 tahun Allah memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai 70 tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai 80 tahun Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya.
Dan bila usianya mencapai 90 tahun Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya serta Allah akan mencatatnya sebagai tawanan Allah di bumi”. (HR Imam Ahmad)
Abdullah bin Abbas RA dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”
Imam Asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, jawab beliau,
“Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”
KIta tentu memiliki impian yang begitu indah melebihi apapun di dunia ini. Yaitu bertambahnya ketaqwaan, ketaatan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Wallahua’lam.
(ave/dari berbagai sumber)












Discussion about this post