Avesiar – Sidoarjo
Man Jadda Wa Jadda. Siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya. Pepatah ini sesuai dengan perjuangan tiga gadis asli Sidoarjo yang menekuni olahraga silat Tapak Suci.
Kegigihan mereka menjadikan pandemi sebagai berkah. Ini terjadi setelah berhasil menyabet Medali Emas kategori beregu putri pada Kejuaraan Daerah Pencak Silat Jawa Timur 2021 yang diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, 9-13 Desember kemarin.
Uniknya, ketiga dara ini sama-sama kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Qonit Fildza Maizura, Shelsa Odilia Rachman, dan Wita Carissa Amelia terus berlatih bersama coach Rony Hermawanto, yang menggembleng mereka sejak masih di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo.

“Kami sempat merasakan beratnya latihan di kota terpisah. Saya kuliah di Jogja, Aiko SMA di Sidoarjo, sementara Wita kuliah di Semarang,” kenang Shelsa.
Takdir menyatukan trio pesilat Tapak Suci itu. Akhirnya semua jadi mahasiswa Kampus Biru. Namun karena kuliah online, mereka tetap berkumpul di Sidoarjo, kampung halaman. Latihan rutin dijalani selepas Maghrib hingga pukul 10 malam.
“Ini program latihan yang menyesuaikan. Karena anak-anak masih harus membagi waktu dengan kuliah, tidak mungkin saya memaksakan program yang saya siapkan bisa full dijalankan,” papar Rony, sang pelatih.
Beratnya jadi atlet sekaligus kuliah, dirasakan Aiko, sapaan Qonit Fildza. Saat ikut Kejurda Jatim kemarin misalnya. Di sela-sela jadwal tanding, ada jadwal ujian semester.
“Ya tetap ikut ujian lah. Kan online. Meski waktu belajar sambil menahan ngantuk dan capek,” beber mahasiswa Sastra Jepang ini. Dia bersyukur IPK nya masih bisa 3 koma.
Seperti halnya Aiko, Shelsa dan Wita juga mempunyai IPK di atas 3. Kendati mereka masuk UGM jalur prestasi olahraga, mereka berusaha membuktikan bahwa atlet itu juga bisa berprestasi akademis.
“Kami ingin semuanya seiring sejalan. Makanya, dukungan dari kampus sangat berarti. Semoga kami bisa ikut PON. Itu bisa jadi pengganti skripsi. Asyik,” celetuk Shelsa, yang sekarang semester 5 di Sastra Jepang.
Kemenangan atas sejumlah kejuaraan, sangat penting bagi Shelsa. “Saya ingin membuktikan bahwa pilihan untuk menjadi pesilat, berguna untuk masa depan saya,” kata penghobi wisata kuliner ini.
Kendati belum berlimpah, setidaknya Shelsa dan teman-temannya satu regu memang mulai merasakan imbal prestasi dan uang saku. Dari sekolah, pemkab, hingga kampus.
Aiko juga merasakan hal sama. Sebagian bonus itu dia masukkan rekening tabungan. Hasilnya, dia bisa membeli sepeda motor Honda Beat meski second.
“Senang bercampur bangga rasanya bisa mempersembahkan medali emas dan mengharumkan nama Sidoarjo. Apalagi, ini even bergengsi. Setara dengan Porprov (Pekan Olahraga Provinsi, red),. Pesertanya adalah pesilat-pesilat terbaik dari kota maupun kabupaten se-Jawa Timur,” ujar Shelsa.
Butuh waktu empat tahun bagi Shelsa, Wita, juga Aiko untuk mendapatkan emas di Kejurda. Mereka satu tim sejak sama-sama menuntut ilmu di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda).
Tiga dara ini dilatih Rony benar-benar dari nol. Secara bertahap bisa mendapatkan prestasi dari kejuaraan level lokal sampai internasional.
November kemarin, mereka juga mendapatkan emas di POMDA. Ajang kompetisi silat antar perguruan tinggi se-provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Atas kemenangan itu, mereka mengantongi tiket melaju ke POMNAS di Padang tahun depan.
“Pada akhir Oktober, kami menang PORKAB Sidoarjo,” tutur belia penyabet medali emas di kejuaraan antar negara Asean di Universiti Kebangsaan Malaysia pada Februari 2020 itu. (ami)













Discussion about this post