• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i Psikologi

Balasan dari Allah Bagi yang Membantu dan Meringankan Kesulitan Orang Lain

by Avesiar
8 Mei 2026 | 23:10 WIB
in Psikologi
Reading Time: 6 mins read
A A
Balasan dari Allah Bagi yang Membantu dan Meringankan Kesulitan Orang Lain

Ilustrasi. Foto: dok. Avesiar.com

Avesiar – Jakarta

Kesulitan hidup adalah bagian dari apa yang Allah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya. Di mana Allah juga memberikan kemudahan hidup silih berganti. Membantu sesama manusia dan juga makhluk Allah lainnya yang sedang kesulitan adalah amal mulia, karena di dalamnya ada kepedulian, kasih sayang, dan upaya meringankan beban sesama.

Dilansir laman Nahdlatul Ulama, Jum’at (8/5/2026), dituliskan bahwa siapa pun yang memudahkan urusan saudaranya dengan ikhlas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat.

Saat ini, banyak orang sedang menghadapi masa yang tidak mudah. Kebutuhan hidup semakin meningkat, harga sebagian bahan pokok naik, biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan keluarga juga kerap menjadi beban tersendiri. Dalam keadaan seperti ini, tidak sedikit saudara-saudara kita yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, Islam mengajarkan agar orang yang memiliki kelapangan tidak menutup mata terhadap kesulitan saudaranya. Bantuan itu bisa berbentuk sedekah, pemberian bahan makanan, dukungan tenaga, nasihat yang menenangkan, atau pinjaman yang diberikan dengan niat membantu.

Semua bentuk kebaikan itu, apabila dilakukan dengan ikhlas dan tidak merendahkan orang lain, akan menjadi amal yang sangat mulia di sisi Allah.

Sedangkan untuk pinjaman, perlu digarisbawahi bahwa pembahasan tentang keringanan bagi orang yang kesulitan membayar utang bukanlah ajakan untuk meremehkan utang. Orang yang berutang tetap memiliki kewajiban moral dan agama untuk membayar utangnya.

Adapun anjuran memberi kelonggaran ditujukan kepada pemberi utang ketika benar-benar mengetahui bahwa saudaranya berada dalam keadaan sulit, bukan kepada orang yang mampu tetapi sengaja menunda pembayaran.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Membantu orang yang sedang kesulitan adalah amal besar yang dijanjikan kemudahan oleh Allah. Sebagaimana hadits riwayat imam Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Siapapun yang mempermudah atas orang yang kesulitan, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mempermudah atasnya di dunia dan akhirat.” (Sunan Ibnu Majah, Nomor hadits: 2423, hlm. 501).

Hadits ini mengajarkan kelembutan sosial dalam Islam. Orang yang memiliki kemampuan hendaknya tidak mempersulit orang lain yang memang sedang berada dalam kesempitan. Sebab, bisa jadi hari ini kita menjadi orang yang menolong, tetapi pada waktu lain kita yang membutuhkan pertolongan.

Kehidupan manusia selalu berputar, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas dari kebutuhan kepada rahmat Allah dan bantuan sesame.

Sedekah dan bantuan sosial hendaknya dilakukan secara bijak. Orang yang lapang rezekinya dapat membantu lebih banyak. Orang yang sedang terbatas rezekinya tetap dapat membantu sesuai kemampuan, meskipun kecil. Allah tidak menilai semata-mata dari besar-kecilnya jumlah, tetapi dari keikhlasan, kemampuan, dan ketepatan dalam menunaikan kewajiban.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hendaklah orang yang lapang (rezekinya) memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa (harta) yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah kelak akan menganugerahkan kelapangan setelah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Ayat ini memberi pelajaran bahwa setiap orang hendaknya berbuat sesuai kemampuannya. Orang yang lapang jangan pelit, dan orang yang sempit jangan memaksakan diri hingga menimbulkan mudarat baru bagi keluarganya. Inilah keseimbangan ajaran Islam, yaitu mendorong kepedulian, tetapi tetap menjaga tanggung jawab.

Saat ini, banyak ahli keuangan keluarga menyarankan agar setiap keluarga mengatur pemasukan dengan rencana yang jelas. Ada yang membaginya, misalnya, 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk cicilan atau kewajiban, 20 persen untuk tabungan atau investasi, dan 10 persen untuk sosial.

Pembagian ini tentu bukan aturan agama yang baku, melainkan contoh pengelolaan keuangan agar kepedulian sosial tidak hanya muncul ketika ada sisa, tetapi juga dapat direncanakan secara lebih tertib.

Dengan cara demikian, membantu orang lain tidak membuat keluarga sendiri terlantar, dan kewajiban pribadi tetap dapat ditunaikan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Suatu apa pun yang kamu infakkan, pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”

Seperti apa keutamaan bersedekah kepada orang yang membutuhkan? Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi, nomor Hadits: 618, hal: 41)

Selain bersedekah, memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan juga dapat menjadi bentuk pertolongan. Pinjaman yang diberikan dengan niat membantu, tanpa menekan, tanpa mempermalukan, dan tanpa mengambil keuntungan yang haram, dapat menjadi amal yang bernilai besar.

Meski demikian, perlu ditegaskan bahwa pinjaman tetap berbeda dengan pemberian. Pinjaman adalah amanah yang harus dikembalikan. Karena itu, orang yang berutang tidak boleh menjadikan kebaikan pemberi utang sebagai celah untuk lalai.

Seorang Muslim yang baik justru akan berusaha menjaga kepercayaan, mencatat utang dengan jelas, menyampaikan kondisi dengan jujur, dan berusaha membayar sesuai kesanggupan.

Adapun bagi pemberi utang, apabila orang yang berutang benar-benar mengalami kesulitan, maka memberi tenggang waktu atau meringankan tagihan merupakan amal yang sangat mulia.

Sebagaimana dalam hadits riwayat imam Ibnu Majah dari sahabat Hudzaifah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bercerita:

“Sesungguhnya ada seseorang yang telah wafat. Kemudian ia ditanya: ‘Apa yang telah engkau perbuat (di dunia)?’. Boleh jadi dia menyebut atau disebut. Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku memaafkan dalam (menagih) uang (dinar dan dirham) serta aku memberi tenggang waktu bagi yang kesulitan (membayarnya). Kemudian Allah SWT mengampuninya.” (Sunan Ibnu Majah, Nomor hadits: 2426, hal. 502)

Syekh Abdullah Shiddiq Al-Ghumari dalam kitab Tatimmul Minnah fi Bayanil Khishalil Mujibah lil Jannah halaman 25 menambahkan, bahwa tidak sebatas pengampunan dosa, akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala memasukkan orang tersebut ke dalam surga-Nya.

Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan bagi orang yang lapang hati ketika menagih utang. Ia tidak kasar, tidak mempermalukan, tidak menyebarkan aib orang yang berutang, dan tidak memanfaatkan keadaan sulit saudaranya. Ia memberi kelonggaran karena berharap ampunan Allah.

Dalam menagih utang, Islam mengajarkan adab. Jika orang yang berutang benar-benar belum mampu membayar, maka pemberi utang dianjurkan memberi tenggang waktu. Bahkan, jika ia memiliki kelapangan dan mengikhlaskan sebagian atau seluruh utang itu sebagai sedekah, maka hal tersebut lebih baik baginya di sisi Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Jika dia (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Kamu bersedekah (membebaskan utang) itu lebih baik bagimu apabila kamu mengetahui(-nya).” (QS. Al-Baqarah: 280)

Ayat ini sangat indah. Ia mengajarkan kasih sayang dan kelapangan hati. Akan tetapi, ayat ini tidak boleh dijadikan alasan bagi orang yang berutang untuk menghindar, memutus komunikasi, atau sengaja tidak membayar padahal mampu. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang yang benar-benar berada dalam kesulitan, bukan orang yang mampu tetapi menunda-nunda pembayaran.

Karena itu, seorang Muslim yang memiliki utang hendaknya memiliki kesungguhan untuk melunasinya. Jika belum mampu, ia tetap menjaga adab dengan menyampaikan keadaan dengan jujur, meminta tenggang waktu secara baik, tidak menghilang, tidak mengingkari, dan tidak meremehkan hak saudaranya. Sebab, utang sekecil apa pun tetap merupakan tanggungan yang harus diselesaikan.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits tentang bahaya membawa utang hingga wafat dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Nabi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Ruh seorang mukmin terkatung-katung sebab hutangnya sehingga ditunaikan atasnya.” (Sunan At-Tirmidzi, Nomor hadits: 1107, jilid 2 hal. 289)

Hadits ini menjadi pengingat kuat bagi kita semua. Orang yang memberi utang hendaknya bersikap lapang kepada yang benar-benar kesulitan. Tetapi orang yang berutang juga harus sungguh-sungguh menjaga amanah dan berusaha membayar. Keduanya memiliki tuntunan akhlak masing-masing. Wallahua’lam. (adm)

Tags: Balasan Mengikhlaskan HutangMembantu Orang yang KesulitanPahala BersedekahPahala Mengikhlaskan Pinjaman
ShareTweetSendShare
Previous Post

Iran yang Diundang FIFA ke Markas Besar Diskusi Piala Dunia Terpaksa Absen Akibat Dihina Imigrasi Kanada

Mungkin Anda Juga Suka :

Kewajiban Bersikap Adil Menurut Islam Merujuk pada Al Qur’an dan Hadits

Kewajiban Bersikap Adil Menurut Islam Merujuk pada Al Qur’an dan Hadits

5 Mei 2026

...

Tingkatan Rezeki Dalam Islam, Harta Ternyata Ada di Bagian Ini

Tingkatan Rezeki Dalam Islam, Harta Ternyata Ada di Bagian Ini

20 April 2026

...

Luar Biasanya Manfaat Setiap Gerakan Shalat untuk Fisik dan Psikis Menurut Penelitian Medis

Luar Biasanya Manfaat Setiap Gerakan Shalat untuk Fisik dan Psikis Menurut Penelitian Medis

11 April 2026

...

Ayat-ayat Al Qur’an di Mana Allah Meninggikan Derajat Hamba-Nya yang Beriman dan Berilmu

Ayat-ayat Al Qur’an di Mana Allah Meninggikan Derajat Hamba-Nya yang Beriman dan Berilmu

7 April 2026

...

Uzlah di Tengah Keramaian Wujud Menyendiri yang Menguatkan Hati, Pesan Mustasyar PBNU Gus Mus

Uzlah di Tengah Keramaian Wujud Menyendiri yang Menguatkan Hati, Pesan Mustasyar PBNU Gus Mus

23 Februari 2026

...

Load More

Discussion about this post

TERKINI

Balasan dari Allah Bagi yang Membantu dan Meringankan Kesulitan Orang Lain

8 Mei 2026

Iran yang Diundang FIFA ke Markas Besar Diskusi Piala Dunia Terpaksa Absen Akibat Dihina Imigrasi Kanada

7 Mei 2026

Naudzubillah, Nasib Anak yang Dilahirkan dari Hasil Zina Menurut Islam

6 Mei 2026

Mampu Menjangkau 6000 Kilometer, Turki Pamerkan ‘Yildirimhan’ Rudal Balistik Antarbenua

6 Mei 2026

Apa yang Disebut Narcissistic Collapse atau ‘Keruntuhan Narsistik’ dan Cara Melindungi Diri Anda

5 Mei 2026

Kewajiban Bersikap Adil Menurut Islam Merujuk pada Al Qur’an dan Hadits

5 Mei 2026

Kuba Menyebut AS Sedang Cari Alasan untuk Lancarkan Intervensi Militer ke Negara Mereka

4 Mei 2026

Menyayat Hati, 8.000 Jenazah Masih Terperangkap di Puing-puing Reruntuhan di Gaza di Tengah 72.000 Jiwa Korban Genosida Israel

3 Mei 2026

Mencermati Hukum Shalat Fardhu di Akhir Waktu Beralasan Menjaga Wudhu

3 Mei 2026

Mengklaim Perang Telah Berakhir, Lebih Baik Tidak Membuat Kesepakatan Sama Sekali dengan Iran

2 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video