Avesiar – Jakarta
Manusia senantiasa mencari rezeki dalam kehidupannya. Namun, dilansir laman Nahdlatul Ulama, dalam materi khutbah Jum’at, Kamis (16/4/2026), ternyata rezeki bukan sekadar harta yang tampak, tetapi mencakup kesehatan, keturunan yang saleh, ilmu yang bermanfaat, hingga puncaknya adalah ridha Allah.
Sebagai seorang Muslim, maka hendaknya tidak hanya sibuk mengejar materi, tetapi juga mensyukuri nikmat yang lebih tinggi serta menjadikan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan.
hakikat dan tingkatan rezeki sebagaimana dijelaskan oleh
Ulama terkenal Syekh Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi menjelaskan bahwa rezeki memiliki tingkatan, bukan sekadar harta yang kita miliki. Syekh asy-Sya’rawi menjelaskan 4 tingkatan rezeki dalam ungkapan yang sangat indah:
“Harta adalah rezeki paling rendah, kesehatan adalah rezeki paling tinggi, anak saleh adalah rezeki paling utama, dan ridha Allah adalah rezeki yang paling sempurna.”
Harta dipahami masuk pada tingkatan rezeki yang pertama. Harta adalah kebutuhan dasar kita. Dengan harta kita bisa makan, berpakaian, dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ternyata harta adalah tingkatan rezeki yang paling rendah.
Mengapa? Karena harta bisa dimiliki oleh siapa saja, baik orang beriman maupun orang yang ingkar. Bahkan terkadang harta bisa diperoleh dengan cara yang tidak benar. Maka jangan sampai kita menjadikan harta sebagai tujuan hidup, tetapi jadikan ia sebagai sarana menuju kebaikan karena semua akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan,” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).
Tingkatan rezeki yang kedua adalah kesehatan. Kesehatan adalah nikmat yang luar biasa. Dengan sehat, kita bisa melakukan banyak kegiatan dan ibadah. Bagi yang memiliki banyak harta tetapi dalam kondisi tidak sehat atau sakit, tentu tidak akan bisa menikmati hartanya.
Namun, orang yang sehat meski hidup sederhana, akan merasakan kebahagiaan yang besar. Maka menjaga kesehatan adalah bagian dari mensyukuri rezeki Allah.
Sehat merupakan hal yang sering diabaikan sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
”Ada dua kenikmatan di mana banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas)
Tingkatan rezeki yang ketiga adalah anak yang saleh dan ilmu yang bermanfaat. Kita perlu menyadari, tidak semua orang diberikan anak yang saleh. Anak yang saleh adalah karunia yang sangat besar. Ia menjadi penyejuk hati di dunia dan penolong di akhirat.
Ilmu yang bermanfaat, adalah cahaya yang akan menerangi kehidupan. Ilmu yang diamalkan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan ketika kita telah meninggal dunia.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara): shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.” (HR Imam Muslim)
Kemudian tingkatan rezeki keempat, dan justru ini adalah yang paling tinggi, adalah ridha Allah. Inilah puncak dari segala rezeki. Ketika Allah ridha kepada kita, maka hidup kita akan penuh dengan keberkahan, hati kita akan tenang, langkah kita akan ringan, dan ujian akan terasa lebih mudah dihadapi.
Ridha Allah adalah jaminan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah ridha, maka balasannya adalah surga.
Sebagai seorang Muslim perlu menyadari bahwa rezeki tidak hanya tentang berapa banyak yang miliki, namun juga tentang sejauh mana rezeki bisa menjadikan kita dekat dengan Allah. Janganlah khawatir terhadap rezeki. Namun, sebagai Muslim, diperintahkan untuk melakukan ikhtiar dalam mencarinya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa seluruh makhluk telah dijamin rezekinya:
“Tidak satu pun makhluk di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(adm/sumber: nu.or. id)











Discussion about this post