Avesiar – Jakarta
Gelombang panas yang parah membuat otoritas Tunisia menerapkan pemadaman listrik. Hal tersebut karena banyak daerah mengalami gangguan dan pemadaman listrik setelah permintaan listrik meningkat lebih dari 30 persen di atas normal.
Dilansir The New Arab, Jum’at (17/7/2026), dengan suhu mencapai rekor tertinggi, Tunisia telah memasuki periode puncak konsumsi listrik musim panas, mendorong Perusahaan Listrik dan Gas Tunisia (Tunisian Electricity and Gas Company) untuk mengadopsi kebijakan “pemadaman listrik bergilir.”
Kebijakan itu juga dikenal sebagai manajemen beban, untuk mengurangi tekanan pada jaringan listrik dan menghindari pemadaman listrik nasional.
Disebutkan bahwa mekanisme tersebut melibatkan pendistribusian beban listrik dengan melakukan pemadaman listrik secara bergilir di berbagai wilayah dan provinsi sepanjang hari, yang mengakibatkan pemadaman berulang.
Pada hari rabu, Direktur Jenderal perusahaan listrik dan gas milik negara Faisal Trifa, mengumumkan bahwa perusahaan tersebut terpaksa menerapkan pemadaman listrik bergilir untuk menghindari kerusakan yang meluas atau pemadaman total.
Trifa mengatakan kepada stasiun radio lokal Mosaique bahwa perusahaan telah mencatat peningkatan permintaan listrik lebih dari 33 persen dibandingkan dengan periode normal. Hal itu menekankan bahwa permintaan telah melebihi kapasitas pembangkitan yang tersedia sejak Minggu lalu, sehingga kebijakan pemadaman listrik menjadi perlu.
Ia mengatakan pemadaman listrik kemungkinan akan berlanjut hingga gelombang panas berakhir.
Pejabat perusahaan listrik dan gas tersebut mengatakan jam-jam puncak, yang biasanya berlangsung dari siang hingga malam hari, merupakan ujian terbesar bagi jaringan listrik, karena setiap kerusakan teknis atau kekurangan pembangkitan dapat menyebabkan gangguan yang dapat berkembang menjadi pemadaman beruntun jika beban tidak dikelola secara proaktif.
Otoritas Tunisia tahun ini telah mempersiapkan diri lebih awal untuk musim konsumsi tinggi dengan memperkenalkan rencana musim panas yang mencakup peningkatan kesiapan pembangkit listrik, percepatan operasi pemeliharaan, dan pemantauan permintaan setiap hari.
Kerja sama dengan Aljazair juga merupakan salah satu elemen utama dari rencana tersebut, karena Tunisia bergantung pada interkoneksi listrik antara kedua negara untuk mengamankan pasokan tambahan bila diperlukan, memberikan dukungan langsung kepada jaringan selama permintaan puncak atau jika terjadi kerusakan mendadak.
Kerja sama itu merupakan bagian dari kemitraan energi jangka panjang antara kedua negara, yang juga mencakup pasokan gas alam yang diandalkan Tunisia sebagai sumber utama pembangkit listriknya. Lebih dari 95 persen listrik negara tersebut dihasilkan oleh pembangkit listrik berbahan bakar gas. (ard)











Discussion about this post