• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i True Story

Agar Istiqomah Memenuhi Kebutuhan Hidup dengan Mencari Rezeki yang Halal

by Avesiar
19 Juli 2026 | 23:33 WIB
in True Story
Reading Time: 5 mins read
A A
Agar Istiqomah Memenuhi Kebutuhan Hidup dengan Mencari Rezeki yang Halal

Ilustrasi. Gambar: Meta AI dok. Avesiar.com. Gambar adalah hasil rekaan kecerdasan buatan dan bukan nyata.

Avesiar – Jakarta

Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa dan selalu berkeluh-kesah. Kondisi tersebut bahkan sering menghampiri dalam kehidupan melalui godaan dalam mencari nafkah. Terlebih saat kondisi ekonomi berada di tengah ketidakpastian, dalam mencari rezeki sering mengabaikan kehalalan dan cenderung terjerumus dalam harta yang haram.

Pembahasan ini menjadi materi khutbah Jum’at yang dilansir laman Nahdlatul Ulama berjudul, “Tetap Mencari Rezeki Halal di Tengah Tantangan Ekonomi,” Kamis (16/7/2026), yang ditulis oleh Ustadz M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.

Dalam materi khutbah tersebut, diulas bahwa ketidakpastian ekonomi sering menimbulkan kekhawatiran dalam memenuhi kebutuhan hidup dan menunaikan tanggung jawab nafkah. Semoga kita selalu diberikan kemampuan untuk berikhtiar, tidak berputus asa, dan menjaga setiap sumber penghasilan agar tetap halal.

Kita diajak senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu bentuk ketakwaan yang sering kali luput dari perhatian adalah menjaga agar setiap rezeki yang kita bawa pulang kepada keluarga benar-benar berasal dari sumber yang halal dan diperoleh melalui cara yang halal pula.

Dijelaskan bahwa hari ini kita hidup di tengah tantangan ekonomi yang tidak ringan. Harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan pekerjaan semakin kompetitif, biaya pendidikan dan kesehatan terus bertambah, sementara tuntutan kehidupan semakin besar. Kondisi seperti ini dapat menjadi ujian keimanan.

Sehingga, tidak sedikit orang yang akhirnya tergoda untuk mencari keuntungan dengan cara yang dilarang syariat. Di antaranya dengan menipu pelanggan, mengurangi timbangan, menerima suap, memanipulasi laporan keuangan, melakukan korupsi baik kecil-kecilan maupun skala besar, memalsukan data, atau memanfaatkan jabatan demi keuntungan pribadi atau koleganya, dan lain sebagainya.

Padahal Islam mengajarkan bahwa kehalalan rezeki tidak hanya ditentukan oleh apa yang diperoleh, tetapi juga oleh bagaimana cara memperolehnya. Uang hasil penjualan barang yang halal sekalipun dapat berubah menjadi tidak halal apabila diperoleh melalui penipuan.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Begitu pula gaji dari pekerjaan yang baik dapat kehilangan keberkahannya apabila diperoleh dengan mengabaikan amanah, bermalas-malasan, menyalahgunakan wewenang, atau mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Ingatlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut:

  “Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Perintah Allah ini memadukan dua sifat sekaligus, yaitu halal dan thayyib. Halal berarti dibenarkan oleh syariat, sedangkan thayyib berarti baik, bersih, tidak merugikan orang lain, dan membawa kemaslahatan. Keduanya ini tidak boleh dipisahkan dalam rezeki yang kita upayakan, melainkan harus ada secara beriringan.

Karena itu, sebagai muslim, kita tidak cukup hanya bertanya, ‘Apakah barang ini halal?’ tetapi juga harus bertanya, ‘Apakah cara saya memperoleh harta ini juga halal?’

Syariat tidak hanya mengatur hasil, tetapi juga mengatur proses menuju hasil tersebut. Di tengah persaingan ekonomi, sering muncul anggapan bahwa yang terpenting adalah memperoleh uang sebanyak-banyaknya, sehingga seolah-olah cara atau jalan memperolehnya dianggap urusan belakangan.

Selama tidak diketahui orang lain, selama tidak diproses secara hukum, sebagian orang merasa tidak ada masalah. Padahal seorang mukmin seyogyanya sadar bahwa yang menjadi penilai bukan hanya manusia, melainkan Allah Dzat Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi.

Seluruh gerak-gerik mahluk-Nya berada di bawah pantauan-Nya, termasuk mereka yang mendapatkan uang dengan cara-cara yang dilarang oleh-Nya Karena itulah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan pegangan hidup dalam sabdanya:

 “Sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR Muslim)

Imam Nawawi di dalam kitabnya, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim al-Hajjaj, juz 6, halaman 100, mengatakan bahwa maksud Thayyib di sini adalah halal.

Maknanya, Allah hanya menerima hal-hal yang berasal dari dan berstatus halal. Selain itu, hadits yang khatib baca tadi mengandung pesan bahwa Allah tidak hanya memerintahkan kita melakukan amal saleh, tetapi juga menghendaki agar amal tersebut ditopang oleh sesuatu yang baik, termasuk makanan, pakaian, dan nafkah yang berasal dari penghasilan yang halal.

Karena itu, seseorang yang tekun beribadah tetapi mengabaikan kehalalan hartanya sejatinya sedang mengabaikan salah satu fondasi penting diterimanya amal.

Hal lain yang sering dilupakan adalah bahwa keberkahan tidak identik dengan banyaknya harta. Berkah berarti bertambahnya kebaikan yang diberikan Allah pada sesuatu.

Ada orang yang penghasilannya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan, anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh, keluarganya harmonis, dan hidupnya dipenuhi ketenangan.

Sebaliknya, ada yang memperoleh penghasilan yang sangat besar, tetapi tidak pernah merasa cukup, keluarganya dipenuhi konflik, kesehatannya terganggu, dan hartanya habis tanpa memberikan manfaat.

Di sinilah letak perbedaan antara banyaknya harta dan keberkahan rezeki. Tentunya, fenomena seperti ini sudah sering kita lihat, namun tidak menyadari sebab dan hikmah di baliknya.

Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam karyanya, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, halaman 260, mengatakan bahwa mengonsumsi barang halal menyebabkan amal yang kita lakukan berpotensi diterima. Namun, sebaliknya, mengonsumsi sesuatu yang haram akan menyebabkan amal kita tertolak.

Kita menyaksikan berbagai tanda bahwa kondisi ekonomi sedang menghadapi tekanan, di antaranya nilai rupiah melemah, daya beli menurun, pekerjaan sulit diperoleh, dan perdagangan semakin sepi.  Keadaan ini tidak boleh hanya dijawab dengan nasihat agar rakyat terus bersabar dan berhemat.

Pemerintah juga wajib mengevaluasi kebijakan, menjaga harga kebutuhan pokok, memperluas lapangan kerja, melindungi usaha kecil, dan memastikan kekayaan negara dikelola untuk kemaslahatan masyarakat.

Di tengah kesulitan tersebut, kita tetap diperintahkan mencari rezeki dengan cara yang halal. Para pedagang harus menjauhi kebohongan dan kecurangan, para pegawai wajib menjaga amanah, para pengusaha tidak boleh menzalimi pekerja, dan para pejabat dilarang menjadikan jabatan sebagai jalan memperkaya diri.

Rakyat harus menjaga kejujuran, sementara pemerintah wajib menciptakan sistem ekonomi yang adil agar masyarakat tidak dipaksa memilih antara mempertahankan hidup dan melanggar syariat.

Cegahlah diri kita mewariskan kepada anak-anak harta yang banyak, tetapi bercampur dengan keharaman. Harta yang halal akan membawa keberkahan, sedangkan harta yang diperoleh melalui penipuan, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan akan menjadi beban di hadapan Allah. (adm)

Tags: Godaan Mencari RezekiIstiqomah Mencari Rezeki HalalMemenuhi Kebutuhan HidupMencari Rezeki HalalRezeki yang Halal
ShareTweetSendShare
Previous Post

Gelombang Panas Menggila, Tunisia Padamkan Listrik Bergilir untuk Hindari Pemadaman Total

Mungkin Anda Juga Suka :

Nikmat Membawa Sengsara, Deretan Hukuman dan Dosa Riba yang Sangat Berat

Nikmat Membawa Sengsara, Deretan Hukuman dan Dosa Riba yang Sangat Berat

13 Juni 2026

...

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

...

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

28 Maret 2026

...

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

23 Maret 2026

...

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

2 Januari 2026

...

Load More

Discussion about this post

TERKINI

Agar Istiqomah Memenuhi Kebutuhan Hidup dengan Mencari Rezeki yang Halal

19 Juli 2026

Gelombang Panas Menggila, Tunisia Padamkan Listrik Bergilir untuk Hindari Pemadaman Total

19 Juli 2026

Merana Akibat Eskalasi, 6 Negara Arab Kena Hujan Rudal Iran Akibat Jadi Pangkalan Militer AS

18 Juli 2026

Posisi Duduk Memengaruhi Kesehatan, Menurut Ahli Fisioterapi

17 Juli 2026

Penetapan 1 Safar 1448 H Sesuai Rukyatul Hilal Lembaga Falakiyah PBNU

16 Juli 2026

Cinta Ramadhan Baren Mahasiswa TAU, Kecil-kecil Cabe Rawit Juara Taekwondo Nasional & Internasional

15 Juli 2026

“Berintegritasnya” Sagoro Dharmawan, Pengusaha & Ketua Yayasan Undira Memimpin Berbasis Hati & IT

15 Juli 2026

Inggris Pertimbangkan untuk Melarang Import dan Ekspor Empat Bagian Perdagangan dengan Pemukiman Ilegal Israel di Palestina

14 Juli 2026

Jagonya COD, SAPX Express Hadir Sebagai Solusi Pengiriman Barang ke Seluruh Indonesia

14 Juli 2026

Menambah Eskalasi, Trump Lanjut Blokade Laut Terhadap Iran dan Umumkan Kenakan Biaya 20 Persen di Hormuz

13 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video