Avesiar – Yogyakarta
Film berjudul “Selendang” yang diproduksi oleh siswa kelas Broadcasting SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta sukses memperoleh gelar juara 1 Short Movie, dalam ajang Moehi National Competition (Monaco) 2022 tingkat SMA/SMK se-Indonesia yang diselenggarakan oleh SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Kamis (29/12/2022).
Pada saat bersamaan, film tersebut juga meraih kejuaraan Short Film Competition dalam ajang Communication Festival (COMMFEST) 2022 tingkat SMA/SMK se-Indonesia yang di inisiasi Universitas Mercu Buana Jakarta. Tak sampai di situ saja, film tersebut berhasil meraih dua penghargaan sekaligus, yakni sebagai Film Terbaik dan Sinematografi Terbaik.
Para pemain dihadirkan dari orang tua siswa, kru dari seluruh kelas Broadcasting, dan anak-anak Sanggar Tari Srikandi Kemuning. Yang keseluruhan para pemainnya berhasil tampil dengan apik dan menjiwai peran yang dimainkannya di dalam film tersebut.
Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Widi Astuti, S.Pd, mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya atas capaian karya dan prestasi yang ditorehkan dari jurusan Broadcasting. Menurutnya, karya yang dilombakan seri kedua itu berhasil meraih tiga penghargaan sekaligus di kancah nasional.
“Saya atas nama pimpinan SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan secara pribadi mengapresiasi kepada jurusan Broadcasting yang telah memberikan karya film terbaik,” ucapnya saat screening film Selendang di ruang Studio SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Kamis (29/12/2022), dilansir Suara Muhammadiyah.
Widi menuturkan, proses panjang dan pergumulan panjang dalam membuka jurusan Broadcasting. Sebab sekolah ini terkenal dengan sekolah jurusan IT (teknologi dan informasi). Sebelumnya, awal mula kelahiran sekolah ini bercorak sekolah bisnis manajemen.
Rafarrel Van Gizza selaku Sutradara film “Selendang” menyebut bahwa proses pembuatan film tersebut cukup lama, yakni 6 bulan. Selama 2 bulan, dilakukan riset film yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan menemukan skenario film agar dapat berjalan dengan baik. Lebih-lebih pesan dan kesannya dapat ditangkap oleh para penonton.
“Film ini kami buat selama 6 bulan. Nah, kami lakukan riset itu setidaknya membutuhkan waktu 2 bulan. Ini merupakan kerja keras kita agar melahirkan film yang berkualitas, tidak sekadar menyaksikan filmnya saja, tapi bagaimana para penonton setelah menyaksikan film ini dapat mengambil pesan yang didapatkan,” ujarnya. (dwi)













Discussion about this post