Avesiar – Jakarta
Literasi sangat dibutuhkan oleh setiap individu untuk dapat menyikapi berbagai fenomena yang ada di masyarakat di sekelilingnya, maupun secara global. Banyak informasi yang menjadi sumber literasi bisa didapatkan melalui buku, internet, media sosial, media massa (cetak, TV, radio, online), dan lainnya.
Di era digital ini, informasi tercepat yang bisa didapatkan salah satunya melalui media online. Namun, sering timbul pertanyaan, apakah mengklik tautan (link) berita dari media massa online itu berbayar atau memberi keuntungan rupiah bagi situs berita online tersebut dalam bentuk rupiah saat beritanya dibaca.
Menurut wartawan senior yang juga konsultan pengembangan media massa Ave Rosa A Djalil, jika seorang pengguna ponsel pintar (smart phone) atau komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet mengklik sebuah tautan (link) berita yang menurutnya menarik, si pengguna tidak akan dikenakan biaya khusus untuk membacanya. Baik itu dikenakan biaya secara terang-terangan, maupun secara terselubung oleh situs berita penyedia informasi.
“Umumnya, secara fair, membaca berita dengan mengklik sebuah tautan atau biasa disebut link, pengguna ponsel pintar tidak akan dikenakan biaya, kecuali biaya penggunaan internet normal pada umumnya. Kecuali Anda mengklik tautan iklan yang ditampilkan oleh google ads, itu sudah diatur mekanisme keuntungannya oleh google jika situs berita atau website mau dipasangkan iklan-iklan mereka baik berbentuk konten maupun gambar,” terang Ave, melalui keterangannya, Kamis (2/5/2024).
Ditambahkan oleh pengajar di fakultas ilmu komunikasi salah satu universitas swasta ternama di Indonesia itu, masyarakat untuk bisa mendapatkan literasi yang baik, bisa memanfaatkan ponsel pintar mereka dan tidak ragu untuk mengklik tautan atau link dari sumber-sumber terpercaya, untuk informasi-informasi yang dibutuhkan.
“Jadi, memang banyak orang bertanya, apakah kena biaya atau charge ketika kita mengklik tautan atau link berita yang sering beredar melalui media sosial dan internet. Jawabannya secara umum dan fair adalah tidak kena biaya. Namun, pengguna ponsel tetap harus berhati-hati terhadap berbagai jenis penipuan, tautan atau link jebakan, dan kejahatan cyber lainnya. Nah, ini cukup dengan mencermati konten yang dikirim atau share, mencurigakan atau tidak,” tegasnya.
Diakuinya, sering ada pertanyaan, dari mana situs berita online mendapatkan keuntungan, jika tidak dari berita yang terbaca oleh publik. Menanggapi hal tersebut, Ave mengatakan bahwa media massa online atau situs berita online secara langsung tidak mendapatkan keuntungan rupiah dari setiap berita yang dibaca oleh publik.
“Karena secara prinsip bisnisnya, keuntungan media massa dalam platform apapun, adalah dari iklan yang dipasang oleh mitra atau berlangganan konten berita melalui aplikasi, bukan dari klik berita oleh publik. Keuntungan media massa online atau situs berita online adalah jika semakin banyak konten berita yang dibaca oleh publik melalui ponsel pintar atau komputer mereka, maka pembaca berita mereka akan semakin banyak serta dapat menjadi data internal dan secara google analytic. Yang dibutuhkan adalah traffic, lalu lintas berita ke situs berita mereka,” bebernya.
Data tersebut, lanjut Penulis buku fenomenal berjudul Cara Mudah Membuat Media Massa yang Tepat dan Bikin Untung itu, akan ditampilkan ke calon pemasang iklan yaitu perusahaan-perusahaan yang butuh untuk mempromosikan produk dan jasanya di media massa tersebut yang mereka kelola. Atau, imbuhnya, perusahaan-perusahaan atau agency iklan dapat memantau sejauh mana eksistensi media massa online atau situs berita online tersebut di publik melalui data yang mereka kumpulkan.
“Jadi, jumlah pembaca berita atau orang yang mau mengklik tautan berita, itu yang menjadi benefit media massa online sebagai output bisnis medianya. Sehingga mereka berlomba-lomba membuat berita yang baik dan update, judul yang terkadang bombastis juga tidak sesuai ulasan di dalam berita, melakukan sharing tautan berita yang mereka anggap penting bagi publik untuk dibaca, dan macam-macam. Tujuannya agar publik mau membaca dan juga senang kepada situs berita online yang mereka kelola, serta meraih kepercayaan masyarakat agar sering berkunjung membaca berita di tempat mereka,” papar lulusan magister ilmu komunikasi jurusan corporate & marketing communications itu blak-blakan.
Itupun, menurut dia, situs berita online juga memiliki segmen pembacanya masing-masing yang bagi pemasang iklan, menjadi pertimbangan tertentu. Selain jumlah jumlah kunjungan atau klik tautan berita (kuantitas), ada yang segmen pembaca yang menjadi pilihan (kualitas), bagi calon pemasang iklan atau perusahaan-perusahaan produk serta jasa.
Ave menegaskan bahwa ini juga menjadi wawasan yang diperlukan oleh masyarakat agar tidak termakan isu, bahwa mengklik tautan berita media massa online berbayar. Ini yang sering membuat literasi masyarakat pada informasi yang mereka butuhkan menjadi terhalang karena kekhawatiran tersebut. Padahal, literasi akan wawasan positif sangat dibutuhkan masyarakat dalam kehidupan dan menaikkan tingkat kebijaksanaan dan kedewasaan berpikir.
“Tingkatkan wawasan kita dengan banyak membaca hal-hal yang positif. Sumber bisa dari media cetak, televis, radio, atau media massa online. Literasi masyarakat baik akan menaikkan level SDM bangsa. Yang paling penting adalah kita bisa mencermari dengan baik konten yang beredar apakah benar fakta atau hoaks (berita palsu, red). Dan jangan mudah membagikan berita yang belum tentu jelas kebenarannya,” katanya berpesan.
Menyikapi soal penggunaan internet, pengguna ponsel pintar dan komputer dapat dengan bijak dalam pengunaanya yang menentukan banyak atau sedikitnya yang harus dibelanjakan. Apalagi bagi yang biasanya membeli paket kuota atau data internet yang terbatas.
Dikutip dari Riset CNBC Indonesia data pada 2022, Selasa (23/4/2024), aplikasi paling menghabiskan banyak kuota atau boros antara lain:
*Dalam Megabyte
1. TikTok sebanyak 840 MB per jam
2. Instagram sebanyak 720 MB per jam
3. Tidal Music sebanyak 640 MB per jam
4. Youtube sebanyak 300 MB per jam
5. Netflix sebanyak 250 MB per jam
6. Snapchat sebanyak 160 MB per jam
7. Facebook Video sebanyak 160 MB perjam
(tim)













Discussion about this post