Avesiar – Jakarta
Late post. Seperti dejavu. Sesuatu yang ada di alam bawah sadar manusia (the unconscious mind), bahwa ia pernah pernah bertemu seseorang, kemudian terwujud dan diwujudkan.
Kisah pertemanan (berdasarkan expertis) antara saya dan Profesor Deddy Mulyana sangat unik dan Allah ciptakan karena memang, seorang ahli akan bertemu seorang ahli.
Ya, beliau yang seorang Guru Besar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dan Penulis kelas internasional ini, sebenarnya manusia yang belum pernah saya bayangkan akan menjadi bagian dari catatan panjang pengalaman saya selama hampir 30 tahun di media massa, mulai dari hulu ke hilir, redaksi hingga ke semua bidang bisnis media.
Awalnya, saya hanya tahu nama itu dari seorang teman yang berteman dengan Sang Begawan Komunikasi Indonesia saat ini (saya mem-plot beliau sebagai Begawan karena pengalaman saya bertemu banyak tokoh dan sepak terjangnya dalam pengamatan saya).
Saya coba meminta dia untuk memberikan pengantar pada buku saku (pocket book), tentang bagaimana membuat media massa, buku pertama di Indonesia bahkan mungkin di dunia, yang mengulas dari hulu ke hilir bagaimana memulai membuat media massa, tetek bengeknya, hingga ke bisnisnya (tentu dengan contoh-contoh), yang hanya saya saja yang membuatnya pertama kali, berjudul “Cara Mudah Membuat Media Massa yang Tepat dan Bikin Untung.”
Gayung bersambut, beliau minta dikirimkan copy buku saya. Kemudian sebuah pengantar, ia torehkan selain pengantar singkat dari Raja Media, Pak Dahlan Iskan. Pengantarnya, kini tersurat di dalam buku dan back cover halaman belakang buku itu.
Tak lama, beliau juga meminta saya untuk mengulas bukunya melalui sudut pandang saya sebagai seorang wartawan dan pengajar. Dua kali beliau meminta saya untuk 2 bukunya, Pada Suatu Musim Semi (kumpulan cerpen) – Juni 2022 dan Absurditas komunikasi – Februari 2023. Kemudian, beliau sibuk membanggakan dan menyebut nama saya di berbagai media massa karena mengulas buku kumpulan cerpennya itu. Karena apa? Karena saya kasih kalimat istilah khas untuk beliau, “Pelanggaran yang Manis”
Saya, seorang yang biasa menangani permasalahan di media massa, mengelola manusia media, dan menciptakan media, bertemu di persimpangan dengan seorang ahli komunikasi dan the real penulis buku (genuine himself). Namun, kami belum pernah copy darat. Wow, hahaha. Orang-orang hebat memang kadang tidak perlu bertem untuk menghasilkan “pencapaian bersama”. Sometimes.
Tapi, kali ini, setelah sekian tahun, saya mantapkan untuk bertemu beliau. Inilah hasilnya, Di saat saya coba mengajak anak-anak dan istri (sekeluarga besar) ke Bandung selama 2 malam, saya agendakan di Sabtu pekan lalu bertemu Prof Deddy yang setia dengan pecinya itu.
Ini pertemuan dahsyat, senior dan junior, komunikasi dan media massa. Awalnya, beliau memberi saya buku langka ini, ”Communication technology & Society”. Namun, tak lama kemudian, beberapa mangkuk Cuangki disuguhkan oleh Sang istri, untuk saya dan 6 orang keluarga yang saya ajak.
Tinggal saya menanti Prof Deddy ada kesempatan bertemu saya di Jekardah, di sela-sela kesibukannya. Gimana, Prof? (*)











Discussion about this post