Avesiar – Jakarta
Oleh: Ave Rosa A. Djalil, Wartawan Berpengaruh
Sebenarnya saya sangat jarang serius menulis untuk mengomentari hal-hal tertentu yang berkembang di masyarakat atau tentang orang-orang tertentu. Saya lebih suka memengaruhi orang melalui judul dari berita-berita umum dan internasional yang saya tampilkan.
Tapi Profesor yang maestro di dunia komunikasi Indonesia ini seperti ‘memaksa’ saya untuk mengomentari salah satu buku barunya. Apalah daya saya, bagaikan murid, di hadapan guru besar fakultas komunikasi Universitas Padjajaran Bandung 2008 – 2016, yang seorang penulis kelas dunia dari begitu banyak buku-buku berpaham komunikasi.
Baru-baru ini, sebuah pesan Whattsapp masuk ke ponsel saya, dari pria yang suka berpeci hitam itu.
“Ave, saya mau kirim buku kumpulan cerpen terbaru saya. Minta alamatnya.”
Begitu bunyi pesannya. Dan alamat rumah saya berikan.
Cerpen? Buku kumpulan cerpen terbaru? Jujur, saya belum lama-lama amat mengenal secara langsung profesor yang bagi saya cukup low profile itu. Semua orang-orang komunikasi, utamanya di Indonesia, mengenal dia banyak dari buku-buku komunikasi besutannya. Sebagai panduan, bahan referensi, perbandingan, dan macam-macam alasan.
Selang sehari, buku tiba di rumah saya, sore hari. Istri menyampaikan bahwa ada paket datang. Saya yakin, ini pasti buku yang dimaksud. Malam hari, setelah waktu agak luang, saya buka amplop besar warna coklat dengan nama dan alamat rumah yang ditulis tangan oleh pemilik karya masyhur, “Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar” itu.
Usai merobek amplop, saya tarik buku yang bagi saya cukup tebal. Terpampang judul besar, “Pada Suatu Musim Semi”, diikuti sebuah tulisan kecil tepat di bawahnya, “Kisah hati yang bermuara”, tercetak di atas cover dengan paduan warna romantis biru awan, pink muda, dan putih. Syahdu.

Saya penasaran dengan isinya. Di prakata, Prof Deddy mengatakan bahwa ini hasil penyaluran hobi lamanya yang tidak berpretensi sastra, saat dia mengisi waktu luang, di masa lalu, yang justru malah karya-karya awalnya.
Saya ibaratkan seperti Rhoma Irama yang awalnya adalah seorang penyanyi rock, ternyata belakangan menjadi Raja Dangdut. Pun halnya dengan Ahmad Albar, yang awalnya seorang penyanyi dangdut, kemudian cadas dengan lantunan lagu rock-nya hingga kini.
Penulis ilmiah di banyak media nasional itu blak-blakan menyebut karyanya ini kumpulan cerpen fiksi Islami. Berbanding terbalik dengan karya-karyanya yang biasa ‘menjerumuskan’ peminat bidang komunikasi semakin ‘dalam’ dengan konten ilmiah berbahasa popular dan santai.
Kontradiktif, mengernyitkan dahi. Saya geleng-geleng sambil sesekali tersenyum saat mulai membaca halaman-halaman awal dari kumpulan cerpen yang disebut fiksi Islami. Ini seriusan. Dia benar-benar menuliskannya. Seakan mengajak kita ke masa-masa mudanya yang penuh dengan pengalaman-pengalaman breathtaking (baca, memesona).
Tidak tanggung-tanggung, ada 22 cerita pendek fiksi Islami yang membuat kita ingin terus membaca dari satu cerpen, ke cerpen berikutnya. Ada cerminan realitas kehidupan, berbalut situasi kebatinan tentang pergulatan spiritual di sanubari setiap manusia. Bisa mencerminkan tentang kita, keluarga, teman, sekeliling, hal-hal terdekat dengan kita yang disambungkan menjadi tulisan penggugah oleh kelahiran 1958 itu.
Hidayah, Mencari Kedamaian, Bidadari Kerudung Biru, Hari yang Putih, Putri Mesir, Fatimah Suzuki, Gadis Sampul, Langit Makin Mendung, dan Sang Ustadzah. Kemudian; Jamilah Jackson, Azan Telah Memanggil, Khadijah Gonzales, Setelah Tujuh Lebaran, Lebaran di Marion, Sang Penyanyi, Berkurban di California, serta “Maafkan Aku, Mary!”.
Ditambah cerpen lainnya berjudul Rayuan sang Penelpon, Drama Kampung Dhuafa, Pada Suatu Musim Semi, Suatu Siang di Argo Parahyangan, dan Assalamualaikum Sakura San!, adalah perjalanan fiksi Islami dari kisah nyata pribadi-pribadi dengan berbagai latarbelakang dan kebangsaan dalam buku yang tergeletak di meja kerja saya saat menuliskan ini.
Bagi saya, ini sebuah ‘pelanggaran’ serius dari Prof Deddy Mulyana. ‘Pelanggaran’ yang manis. Yang kalau diteruskan, bisa jadi dia akan masuk dalam deretan penulis cerpen dan novelis lain yang masyhur di negeri ini. Wah! (Ave Rosa A. Djalil)













Discussion about this post