Avesiar – Cerpen dan Puisi
Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Percakapan yang Menentramkan
Tak lama, seorang anak kecil berlarian dan tanpa sengaja menabrak bangku tempat Ruqayyah duduk. Ruqayyah tersenyum dan membantu anak itu berdiri.
“Hati-hati, adik kecil. Jangan lari terlalu kencang, ya,” katanya lembut.
Anak itu mengangguk lalu berlari kembali ke arah ibunya. Zakariyah yang menyaksikan kejadian itu pun menghampiri, dengan tetap menjaga adab.
“Umm… Assalamu’alaikum, Ukhti Ruqayyah,” sapa Zakariyah dengan suara tenang.
Ruqayyah sedikit terkejut, namun segera membalas salam. “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Akhi Zakariyah. Apa kabar?”
“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa memberi nikmat. Ukhti sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan saya bernafas dan berbuat baik.”
Zakariyah tersenyum, lalu berkata, “Saya sering melihat Ukhti di kajian kampus, dan sekarang di pasar membantu keluarga. Semoga Allah memberkahi setiap langkah Ukhti dalam kebaikan.”
Ruqayyah merunduk sedikit, merasakan ketulusan dalam kata-kata Zakariyah. “Jazakallah khair, Akhi. Setiap kita punya peran masing-masing. Saya hanya melakukan yang terbaik untuk membantu keluarga.”
“MasyaAllah, semoga Allah memberi keberkahan kepada keluarga Ukhti.”
Mereka berbincang sejenak, namun tetap menjaga jarak dan menghindari percakapan yang tidak perlu. Dalam hati, mereka mulai merasakan kekaguman satu sama lain—Zakariyah mengagumi kelembutan dan keteguhan hati Ruqayyah, sementara Ruqayyah merasa damai setiap kali berbincang dengan Zakariyah.
Menjaga Batas Syariat
Meski hati mulai dipenuhi perasaan yang tak terucap, keduanya tetap menjaga batas. Tidak ada pesan singkat di malam hari, tidak ada pertemuan tanpa keperluan. Jika mereka bertemu di majelis ilmu, itu semata karena Allah mempertemukan mereka dalam kebaikan.
Suatu hari di Balekambang, Ruqayyah bertanya kepada Zakariyah dengan hati-hati, “Akhi, bagaimana seseorang mengetahui apakah perasaannya adalah cinta yang benar atau hanya sekadar nafsu?”
Zakariyah terdiam sejenak, lalu menjawab, “Cinta yang hakiki adalah yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Jika perasaan itu membuat kita menjaga diri, mendorong kita menjadi lebih baik, dan tidak menodai batas syariat, maka insyaAllah itu adalah cinta yang benar. Namun, jika sebaliknya, itu hanya bisikan hawa nafsu.”
Ruqayyah mengangguk, merenungi setiap kata yang diucapkan. “Jadi, jika suatu perasaan membawa ketenangan dan mendekatkan kita kepada Allah, itu adalah tanda kebaikan?”
“Benar, Ukhti. Namun, cinta sejati adalah yang kita titipkan dalam doa, bukan yang kita paksakan dalam kenyataan,” jawab Zakariyah dengan penuh makna.
Mereka berdua terdiam. Hati mereka seolah berbicara dalam sunyi, menyadari bahwa ada rasa yang tumbuh, namun tetap berada dalam genggaman aturan Allah.
Doa yang Menguatkan
Malam itu, Ruqayyah menutup mushaf setelah membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Dalam sujudnya, ia berdoa,
“Ya Allah, jika rasa ini adalah bagian dari rencana-Mu, tuntunlah kami dalam kebaikan. Namun, jika ini hanya ujian yang harus kami lalui, berilah kami kekuatan untuk merelakan.”
Di tempat lain, Zakariyah pun bermunajat,
“Ya Rabb, Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Mu. Jangan biarkan hati ini condong kepada sesuatu yang tidak Engkau ridhai.”
Mereka sama-sama memilih untuk menyerahkan segalanya kepada Allah. Karena mereka tahu, cinta sejati bukan tentang memiliki, tetapi tentang menjaga kesucian hati dan meraih ridha-Nya.
Dan demikianlah, mereka terus melangkah dalam batasan syariat, membiarkan cinta itu tetap menjadi rahasia di antara mereka dan Rabb mereka.
Ujian Cinta: Pinangan Tak Terduga
Langit sore di Surakarta mulai meredup. Awan kelabu menggantung seolah memahami gelombang perasaan yang tengah bergemuruh di dada Ruqayyah.
Di dalam rumahnya yang sederhana, ia duduk termenung di sudut kamar, menatap hamparan sajadah yang masih basah oleh air matanya. Bibirnya bergetar mengulang doa yang terus ia panjatkan sejak fajar menyingsing.
Di ruang tamu, kedua orang tuanya berbincang dengan nada serius. Mereka telah menerima lamaran dari keluarga seorang pria terpandang, sosok yang menurut mereka akan membawa kebaikan bagi Ruqayyah dan keluarganya.
“Ruqayyah, anakku,” suara lembut ibunya menggema di ambang pintu. “Kami ingin berbicara denganmu.”
Dengan hati berdebar, Ruqayyah melangkah ke ruang tamu. Ayahnya, seorang pedagang kain di Pasar Klewer, menatapnya dengan mata teduh. Di hadapan mereka, secarik surat undangan dari keluarga terpandang itu telah terbuka.
“Anakku, kami telah menerima lamaran dari keluarga Haji Salman untukmu. Insya Allah, ini adalah jalan terbaik bagi kita semua,” ucap sang ayah, suaranya bergetar.
Ruqayyah terdiam. Dadanya bergemuruh. Ia ingin bertanya, ingin menolak, tetapi bagaimana mungkin ia mendurhakai orang tua yang telah membesarkannya dengan penuh kasih?
“Tapi Ayah, apakah aku tidak bisa memilih sendiri?” tanyanya lirih.
Ibunya meraih tangannya dengan lembut. “Cinta, Nak, bukan sekadar perasaan. Ini adalah amanah, sebuah takdir yang harus diterima dengan lapang. Kami hanya menginginkan kebahagiaanmu.”
Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia tahu bahwa dalam Islam, restu orang tua adalah berkah. Tetapi hatinya, hatinya telah lama terpaut dalam doa-doanya yang tersembunyi.
Senja mulai merayap ketika Ruqayyah melangkah ke Terminal Tirtonadi. Tempat ini sering ia kunjungi untuk menunggu ayahnya yang pulang dari luar kota. Namun kali ini, ia datang hanya untuk menenangkan hati yang kalut. Duduk di salah satu bangku panjang, ia menatap hiruk-pikuk manusia yang berlalu lalang, tetapi pikirannya melayang ke tempat lain.
Tanpa ia sadari, dari kejauhan, Zakariyah melihat sosoknya. Ia yang baru saja hendak menuju masjid untuk shalat Maghrib, terhenti sejenak. Wajah Ruqayyah tampak sendu, matanya sembab.
Zakariyah menghela napas panjang. Ia bisa menebak bahwa ada sesuatu yang membebani hati gadis itu. Tetapi ia tak berhak bertanya, tak berhak mendekat lebih dari yang seharusnya.
“Hasbunallah wa ni’mal wakil,” bisiknya lirih, menyerahkan segalanya kepada Allah.
Ia lalu berbalik, melangkah menuju masjid dengan hati yang berat. Ia sadar, mungkin inilah cara Allah mengajarkan makna cinta yang sejati: melepaskan dalam keikhlasan, dan menerima dalam ketundukan pada takdir-Nya.
Munajat Cinta dalam Linangan Air Mata
Malam merayap perlahan di langit Surakarta. Cahaya bulan seakan meredup, membiarkan kegelapan mengambil alih sudut-sudut kota. Di Kampus UNS, di sebuah sudut masjid yang sepi, seorang pemuda bersujud dalam keheningan.
Air matanya jatuh membasahi sajadah, menggambarkan beban yang tengah ditanggungnya. Zakariyah berbisik lirih di antara doa-doanya, meminta petunjuk dalam istikharah.
“Ya Allah, Engkau yang Maha Mengetahui segala isi hati. Jika perasaan ini bukan dari-Mu, maka hapuskanlah, tetapi jika ia Engkau takdirkan, kuatkanlah hamba dalam kesabaran.”
Sujudnya semakin dalam, tubuhnya bergetar. Dalam diam, ia melawan gundah yang mencengkeram hatinya. Keputusan ada di tangan-Nya, dan hanya kepada-Nya ia berserah.
Sementara itu,di sudut kota yang lain, di sebuah kamar kecil yang sederhana, Ruqayyah duduk memandangi mushaf Al-Qur’an yang terbuka di pangkuannya. Air mata menggenang di pelupuk matanya.
Bibirnya bergetar, merapal ayat demi ayat yang semakin menenangkan hatinya. Namun, ketenangan itu seakan terhempas setiap kali ia mengingat kenyataan bahwa dirinya telah dijodohkan. (bersambung ke bagian 3)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post