Avesiar – Jakarta
Keluarga Nasruddin bukanlah keluarga yang kaya. Selama beberapa waktu, ia bekerja membeli garam di pasar kemudian menjualnya lagi di rumah. Keledai yang ia miliki tidak terlalu besar; setiap kali Nasruddin menumpuk beberapa karung garam di punggungnya, ia segera merasa kelelahan.
Suatu hari, keledai itu terpeleset dan tercebur ke sungai sehingga sebagian garam yang ia angkut larut ke dalam air. Akibatnya beban yang ia bawa menjadi lebih ringan. Semenjak saat itu, si keledai selalu dengan sengaja menceburkan dirinya ke sungai di setiap perjalanan pulang.
Nasruddin memiliki ide untuk menghilangkan kebiasaan baru si keledai. Pada kesempatan berikutnya, ia tidak membeli garam melainkan beberapa karung kapuk.
Kali ini si keledai tetap menceburkan diri, tetapi beban yang ia bawa malah semakin berat karena kapuk menyerap air. Semenjak saat itu, keledai itu tidak lagi menceburkan diri ke sungai setiap mereka pulang dari pasar. (adm/wikipedia)












Discussion about this post