Avesiar – Puisi
_______________
Di Ambang Mahacahaya
Oleh: Mas Ngabehi
_______________
Aku berdiri di ambang Mahacahaya,
bukan sebagai tubuh,
melainkan sebagai kerinduan
yang telah lelah bernama.
Di sana, bayanganku tercerai,
sebab cahaya tak menyisakan bentuk
bagi yang masih ingin diingat.
_______________
Mahacahaya tak menyilaukan mata,
ia meluruhkan “aku”
dari pusat kesadaran.
Yang tersisa hanyalah hening
yang berpendar,
seperti makna
yang tak memerlukan penjelasan.
_______________
Aku ingin melangkah,
namun langkah kehilangan arah;
aku ingin bertanya,
namun pertanyaan meleleh
menjadi pasrah.
Di ambang ini,
pengetahuan menyerah
pada pengenalan
yang tak terucap.
_______________
Wahai Cahaya sebelum cahaya,
aku tak memohon melihat-Mu,
cukup izinkan aku
tak lagi melihat diriku.
Sebab selama bayang ini bertahan,
kebenaran hanya singgah;
namun ketika aku sirna,
Engkau sepenuhnya hadir.
_______________
Kini aku diam
di antara ada dan tiada,
menjadi jendela
tanpa kaca dan bingkai.
_______________
Dan di ambang Mahacahaya itu
aku mengerti—
makrifat bukan puncak perjalanan,
melainkan lenyapnya pengembara
dalam terang
yang Maha Esa.
_______________
Biodata Penulis:
Mas Ngabehi adalah nama pena dari: Dr. H. Sri Satata, M. M. Beliau adalah seorang Dosen dan Pegiat Bahasa dan Sastra, serta literasi nasional. Sudah lebih dari 60 buku ditulisnya. Bergenre fiksi dan ilmiah: kumpulan puisi, kumpulan cerpen, esai, dan berbagai buku ilmiah lainnya. Sebagian besar terdapat dalam link berikut: https://lynk.id/sri_satata













Discussion about this post