Avesiar – Puisi
_______________
Takbir Sebagai Lautan Cahaya
Oleh: Mas Ngabehi
_______________
Allahu Akbar—
takbir pertama pecah
seperti fajar yang membelah malam.
Bukan suara yang menggetarkan langit,
melainkan cahaya
yang menggetarkan kesadaran.
_______________
Di setiap gema-Nya,
aku tenggelam perlahan
ke dalam lautan tanpa tepi.
Segala yang besar di mataku
mengecil dan larut,
seperti buih yang kembali
ke samudra asalnya.
Yang tersisa hanyalah Engkau,
Maha Luas
tanpa banding dan batas.
_______________
Wahai Kebesaran yang tak terukur,
ketika aku mengucap-Mu,
aku sedang melepaskan dunia.
Takbir menjadi perahu cahaya,
membawa jiwa melintasi diri
menuju Kehadiran-Mu.
Di sana, keakuan karam
tanpa perlawanan.
_______________
Takbir adalah laut
yang menelan segala selain-Mu.
Di ombaknya, aku kehilangan nama,
di kedalamannya, aku menemukan makna.
Setiap gelombang memanggil pulang:
bahwa tak ada yang agung
kecuali Engkau.
_______________
Kini aku berdiri dalam gema takbir
yang tak pernah selesai.
Bukan lagi sebagai suara di bibir,
melainkan sebagai terang di batin.
_______________
Dan aku mengerti—
ketika takbir menjadi lautan cahaya,
aku bukan lagi penyebut,
melainkan setetes
yang larut seluruhnya
dalam Kebesaran-Mu.
_________________
Biodata Penulis:
Mas Ngabehi adalah nama pena dari: Dr. H. Sri Satata, M. M. Beliau adalah seorang Dosen dan Pegiat Bahasa dan Sastra, serta literasi nasional. Sudah lebih dari 60 buku ditulisnya. Bergenre fiksi dan ilmiah: kumpulan puisi, kumpulan cerpen, esai, dan berbagai buku ilmiah lainnya. Sebagian besar terdapat dalam link berikut: https://lynk.id/sri_satata











Discussion about this post