Avesiar – Cerpen dan Puisi
Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Malam itu, seorang ustaz yang dihormatinya menyampaikan tausiyah tentang hakikat cinta.
“Cinta sejati bukan tentang memiliki,” ujar sang ustaz dengan suara tenang, “melainkan tentang bagaimana cinta itu mendekatkan kita kepada Allah. Jika cinta membuatmu lalai, itu bukan cinta sejati. Jika cinta membuatmu lupa pada Allah, itu bukan berkah, melainkan ujian.”
Azzam menggenggam tasbihnya erat. Kata-kata itu bagai tamparan lembut yang menyejukkan hati. Selama ini, ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana agar Nadia menjadi miliknya, tanpa menyadari bahwa cintanya telah membutakannya dari mengutamakan Allah.
Setelah kajian selesai, seorang sahabatnya, Farid, mendekatinya. “Azzam, bagaimana kabarmu? Aku tahu ini masa-masa sulit bagimu.”
Azzam tersenyum tipis. “Aku sedang belajar untuk ikhlas, Rid. Aku sadar, cinta yang hakiki adalah cinta yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Aku harus berhenti menggantungkan kebahagiaanku pada manusia.”
Farid menepuk bahu Azzam. “Itulah hakikat muhasabah cinta. Kita belajar dari kehilangan, agar kita lebih mencintai Sang Pemilik Cinta.”
Sejak malam itu, Azzam mulai bangkit. Ia memperbanyak ibadah, menambah waktu untuk membaca Al-Qur’an, dan mendalami ilmu agama. Ia tak lagi larut dalam kesedihan, tetapi justru menemukan ketenangan dalam mendekat kepada Allah.
Kini, hatinya lebih lapang, lebih damai, dan lebih yakin bahwa cinta sejati adalah cinta yang tidak pernah mengecewakan, cinta kepada Allah.
Di suatu sore, saat ia kembali duduk di pelataran Masjid Gede Kauman, ia tersenyum sambil menatap langit. “Ya Allah, terima kasih telah mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya.”
Jalan Pulang Menuju-Nya
Malam di Malioboro begitu syahdu. Lampu-lampu jalan berpendar temaram, mengiringi langkah Azzam yang berjalan pelan di antara riuhnya kehidupan kota. Aroma wedang ronde dan jajanan khas Yogyakarta tercium samar, namun hatinya tak lagi terpaut pada hiruk-pikuk dunia.
Ia menatap sekeliling dengan damai, berbeda dari dirinya yang dulu, yang pernah begitu resah dalam kebimbangan cinta. Kini, ia telah menemukan ketenangan sejati dalam genggaman iman.
Bertahun-tahun telah berlalu sejak masa-masa sulit yang pernah ia alami. Kesedihan, kehilangan, dan keikhlasan telah menempa dirinya menjadi pribadi yang lebih matang dalam keimanan. Dulu, ia pernah mengira kebahagiaan sejati ada pada cinta manusia.
Namun, setelah perjalanan panjang dalam muhasabah, ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika hati sepenuhnya bertaut pada Allah.
Pertemuan di Masjid Jogokariyan
Suatu sore, langkah Azzam membawanya ke Masjid Jogokariyan. Masjid itu terkenal dengan kegiatan sosial dan kehangatan jemaahnya. Ia sudah sering menghadiri kajian di sana, tetapi kali ini hatinya terasa lebih ringan. Duduk bersila di saf depan, ia menyimak tausiyah seorang ustaz yang membahas tentang makna cinta sejati.
“Cinta sejati adalah cinta yang membawa kita semakin dekat kepada Allah. Jika sebuah cinta menjauhkanmu dari-Nya, maka itu bukanlah cinta yang hakiki,” ujar sang ustaz dengan suara lembut namun penuh makna.
Kata-kata itu seolah mengulang apa yang pernah dikatakan Nadia bertahun-tahun lalu. Namun, kini Azzam mengerti sepenuhnya. Ia tidak lagi mempertanyakan atau meragukan, melainkan menerima dengan lapang.
Setelah kajian selesai, para jamaah berhamburan keluar. Azzam masih duduk di dalam masjid, merenungkan perjalanan hidupnya. Tanpa sengaja, matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang berbincang dengan beberapa ibu-ibu di serambi masjid.
Wajahnya tenang, tatapannya teduh, dan caranya berbicara penuh kelembutan. Ada sesuatu dalam dirinya yang mengingatkan Azzam pada seseorang—bukan sekadar pada Nadia, tetapi pada makna cinta yang selama ini ia cari.
Melangkah dengan Keyakinan
Azzam tidak terburu-buru mendekati wanita itu. Ia telah belajar bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri. Jika Allah menghendaki, maka jalannya akan terbuka dengan sendirinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa dan menyerahkan segalanya kepada-Nya.
Dalam perjalanan pulang, ia kembali menyusuri Malioboro. Kali ini, bukan dalam kesedihan seperti dulu, tetapi dengan hati yang penuh ketenangan. Ia menyadari bahwa cinta sejati bukanlah sekadar memiliki, tetapi tentang bagaimana cinta itu membawa seseorang lebih dekat kepada Sang Pencipta.
Di sudut jalan, seorang penjual buku tua menyapanya. “Nak, mau cari buku apa?”
Azzam tersenyum. “Ada buku tentang perjalanan menuju ketenangan hati, Pak?”
Si penjual tersenyum bijak, mengambil sebuah buku kecil dari raknya. “Mungkin ini cocok untukmu. Isinya tentang muhasabah cinta.”
Azzam menerima buku itu, membaca sampulnya dengan hati bergetar. Seolah Allah sedang mengingatkannya kembali pada perjalanan yang telah ia lalui. Ia mengangguk mantap dan membeli buku itu.
Saat melangkah pergi, ia berbisik dalam hati, “Muhasabah cinta telah membawaku pulang menuju-Nya. Kini, aku siap melangkah dengan lebih yakin, lebih tenang, dan lebih berserah kepada-Nya.”
Dan dengan itu, perjalanan Azzam benar-benar menemukan ujungnya—bukan dalam kepemilikan seseorang, tetapi dalam kepasrahan kepada Sang Pemilik Segala Cinta. (habis)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post