Avesiar – Cerpen dan Puisi
Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
“Ya Rabb, apakah ini takdir yang harus kuterima? Apakah aku harus merelakan sesuatu yang selama ini kutitipkan dalam doa?” gumamnya.
Tangannya perlahan menelusuri lembaran mushaf, seakan berharap menemukan jawaban di antara ayat-ayat suci. Matanya jatuh pada sebuah ayat:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Hatinya bergetar membaca ayat itu. Mungkinkah ini jawabannya? Ia menyeka air matanya, berusaha menenangkan hati yang bergejolak.
Di masjid kampus, Zakariyah masih tenggelam dalam doa. Ia merasakan kedamaian dalam tangisnya. Perlahan, hatinya merasa lebih lapang. Dalam munajat panjangnya, ia memohon agar hatinya dituntun kepada takdir yang terbaik.
“Ya Allah, jika memang ia bukan untukku, maka kuatkan hatiku untuk merelakan. Namun, jika memang Engkau takdirkan kami bersama, mudahkanlah jalannya.”
Di kejauhan, adzan Subuh berkumandang, mengakhiri malam yang panjang dalam sujud dan doa. Ruqayyah menutup mushafnya dengan hati yang masih bertanya, sementara Zakariyah menyeka air matanya, siap untuk menerima apapun yang Allah gariskan untuknya.
Mereka berdua telah menyerahkan segalanya kepada-Nya. Kini, hanya takdir yang akan menjawab doa-doa yang telah mereka panjatkan dalam linangan air mata.
Jawaban Takdir: Keikhlasan dan Hikmah
Matahari senja mewarnai langit Taman Sriwedari dengan semburat jingga yang temaram. Udara sore berembus lembut, membawa ketenangan yang samar-samar merayapi hati setiap insan yang singgah. Riuh rendah anak-anak bermain di kejauhan, pasangan-pasangan berjalan beriringan, dan para pedagang kaki lima mulai bersiap menutup lapaknya.
Di antara keramaian itu, dua sosok yang dulu sering bertukar doa kini berhadapan dalam kebisuan. Ruqayyah dan Zakariyah, tanpa direncana, kembali dipertemukan oleh takdir. Namun, tidak ada lagi tatapan yang berbicara, hanya keheningan yang menyelimuti mereka.
Ruqayyah menundukkan wajahnya. Di balik kerudung lembutnya, ia menyembunyikan rasa yang telah ia kubur dalam-dalam. Perjodohan yang telah ditetapkan keluarganya kini hampir terlaksana. Hatinya masih diliputi pertanyaan yang tak terjawab, tetapi ia memilih untuk pasrah.
Zakariyah menatapnya sekilas, lalu menghela napas panjang. Di hatinya, tidak ada lagi gejolak yang menyesakkan, hanya keikhlasan yang perlahan tumbuh dan bersemi. Cinta yang pernah ia jaga kini bukan lagi tentang memiliki, tetapi tentang merelakan. Sebab, ia tahu bahwa setiap takdir yang tertulis adalah skenario terbaik dari Sang Maha Kuasa.
“Assalamu’alaikum, Ruqayyah,” sapa Zakariyah akhirnya, suaranya tenang namun mengandung makna yang dalam.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” jawab Ruqayyah, lirih namun cukup jelas untuk terdengar.
Sejenak, keduanya terdiam lagi. Seakan tidak ada kata yang perlu diucapkan, karena hati mereka telah saling memahami. Namun, Ruqayyah akhirnya berbicara dengan suara lembut yang sedikit bergetar.
“Bagaimana kabarmu, Akhi? Sudah lama kita tidak berbincang.”
Zakariyah tersenyum tipis. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Aku berharap kabarmu juga demikian, Ukhti.”
Ruqayyah mengangguk pelan. Ada kebahagiaan tersirat dalam ucapannya, namun ada juga kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan. “Aku… telah menerima pinangan itu, Zakariyah.”
Zakariyah menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum yang begitu menenangkan. “Alhamdulillah. Aku yakin, apa pun yang telah Allah takdirkan untukmu adalah yang terbaik. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.”
Ruqayyah menahan napas, berusaha agar air matanya tidak jatuh. Kata-kata itu begitu tulus, begitu ikhlas, dan justru membuat hatinya semakin terenyuh. Ia tahu, di balik ketegaran Zakariyah, ada rasa yang ia relakan.
“Kadang, kita mencintai sesuatu, tetapi Allah punya rencana yang lebih baik. Aku percaya, jika Allah tidak menakdirkan kita bersama, itu karena ada hikmah yang lebih besar. Cinta sejati bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang mendoakan dari kejauhan,” lanjut Zakariyah, suaranya begitu lembut, seakan menenangkan badai dalam hati Ruqayyah.
Ruqayyah menggigit bibirnya, menahan haru yang semakin menyesakkan dada. Ia mengangguk, lalu berkata dengan suara yang hampir berbisik, “Terima kasih, Zakariyah. Untuk semua doa dan kebaikanmu. Semoga Allah mempertemukanmu dengan seseorang yang lebih baik dariku.”
Zakariyah tersenyum. “Dan semoga Allah selalu menjaga langkahmu dalam kebahagiaan dan keberkahan, Ruqayyah.”
Angin sore berembus pelan, seakan menjadi saksi atas perpisahan dua hati yang saling mendoakan dalam diam. Tanpa kata-kata lebih lanjut, mereka memilih untuk berpisah, membawa hati mereka masing-masing dalam ketenangan yang baru.
Di Balekambang, Zakariyah duduk di bawah pohon rindang, menatap langit yang mulai berwarna ungu kebiruan. Dalam hatinya, ia mengulang doa yang telah ia panjatkan berulang kali dalam sujudnya.
“Ya Allah, jika dia bukan takdirku, maka tenangkanlah hatiku dan lapangkanlah dadaku untuk menerima ketetapan-Mu. Jadikan rasa ini sebagai bagian dari doa yang selalu kuserahkan kepada-Mu. Karena aku yakin, Engkaulah sebaik-baik perencana.”
Ia tersenyum. Cintanya kepada Ruqayyah kini telah menjadi bagian dari doanya, bukan lagi keinginannya. Dan dalam hatinya, ia percaya, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya yang berserah diri.
Langit semakin gelap, tapi cahaya di hati Zakariyah semakin terang. Ia bangkit, melangkah dengan penuh ketenangan. Takdir Allah telah menjawab, dan ia telah menerimanya dengan keikhlasan yang utuh.
Cinta yang Tak Pernah Sia-sia
Malam di Masjid Kampus UNS terasa begitu tenang. Cahaya lampu-lampu redup menerangi halaman masjid, memberikan suasana syahdu bagi siapa pun yang datang untuk bersujud kepada-Nya.
Seorang pemuda berdiri di mimbar, dengan tatapan teduh yang penuh ketenangan. Dialah Zakariyah, yang malam ini kembali mengisi kajian Islam.
Tema kajian malam ini adalah Menyikapi Takdir dengan Ikhlas. Dengan suara yang tenang dan penuh hikmah, ia mengawali kajian dengan sebuah pertanyaan yang menusuk kalbu.
“Saudara-saudaraku, pernahkah kita merasa bahwa apa yang kita inginkan tidak selalu menjadi kenyataan? Pernahkah kita merasa kehilangan, lalu bertanya-tanya, mengapa takdir membawa kita ke arah yang berbeda?”
Para hadirin diam, menyimak dengan penuh perhatian. Di antara mereka, ada seorang wanita yang menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca. Dialah Ruqayyah.
Sejak pernikahannya sebulan lalu, hatinya masih sering diliputi perasaan yang sulit ia gambarkan. Ia bersyukur atas takdir yang Allah berikan, tetapi ada sesuatu yang mengendap dalam sanubarinya—sebuah kenangan, sebuah doa yang tak pernah ia hapus dari ingatannya.
Zakariyah melanjutkan, “Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216, ‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’”
Ruqayyah menggigit bibirnya, mencoba menahan gejolak perasaan. Ia teringat malam-malam panjang yang dihabiskannya dalam munajat, memohon petunjuk kepada Allah. Takdir telah menjawab, dan kini ia telah menjadi istri dari seseorang yang dipilihkan keluarganya.
Namun, meskipun ia telah menjalani peran barunya, ia tak bisa memungkiri bahwa ada rasa yang tersimpan rapi dalam hatinya—bukan lagi dalam bentuk keinginan, melainkan doa.
“Ikhlas bukan berarti tidak merasa sakit atau kehilangan,” lanjut Zakariyah. “Tetapi ikhlas adalah ketika kita mampu melepaskan sesuatu karena kita yakin bahwa Allah telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik. Cinta sejati bukan sekadar tentang memiliki, tetapi tentang mendoakan, tentang merelakan, tentang percaya bahwa segala yang Allah takdirkan adalah yang terbaik untuk kita.”
Ruqayyah menutup matanya sejenak, merasakan getaran kata-kata itu dalam hatinya. Ada ketenangan yang perlahan menyelinap dalam jiwanya. Ia menyadari bahwa apa pun yang terjadi, cinta yang ia simpan tidak pernah sia-sia. Cinta yang tumbuh di antara mereka telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih indah—doa yang tak terputus, yang terus mengalir dalam sujud malam.
Usai kajian, Zakariyah turun dari mimbar. Para peserta perlahan bubar, meninggalkan ruangan dengan hati yang lebih tenteram. Ruqayyah tetap duduk di tempatnya, menatap kosong ke arah sajadah di depannya. Ia ingin bangkit, tetapi langkahnya terasa berat.
Tiba-tiba, suara lembut seorang wanita membuyarkan lamunannya. “Ruqayyah, ayo pulang. Sudah malam.”
Ia menoleh dan tersenyum tipis. “Iya, sebentar lagi.”
Ruqayyah bangkit, melangkah keluar dari masjid dengan hati yang lebih ringan. Ia tidak tahu apakah Zakariyah menyadari kehadirannya malam ini. Namun, satu hal yang ia tahu dengan pasti—cinta yang bertumpu pada Allah tidak akan pernah sia-sia.
Di pelataran masjid, Zakariyah menatap langit malam, menarik napas panjang. Ada ketenangan dalam dirinya, ada kepasrahan yang kini benar-benar ia rasakan. Ruqayyah telah menjalani takdirnya, dan ia pun harus melanjutkan langkahnya.
Malam semakin larut, tetapi doa-doa mereka terus mengalir, menembus langit, mengukir kisah cinta yang tidak harus berakhir dalam kebersamaan, tetapi dalam keikhlasan dan ketundukan kepada-Nya. (habis)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post