• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

by Avesiar
30 Maret 2025 | 21:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 7 mins read
A A
Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Ilustrasi. Foto: alkhoirot.net. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Cerpen dan Puisi

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Oleh: Mas Ngabehi

***************

“Ya Rabb, apakah ini takdir yang harus kuterima? Apakah aku harus merelakan sesuatu yang selama ini kutitipkan dalam doa?” gumamnya.

Tangannya perlahan menelusuri lembaran mushaf, seakan berharap menemukan jawaban di antara ayat-ayat suci. Matanya jatuh pada sebuah ayat:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Hatinya bergetar membaca ayat itu. Mungkinkah ini jawabannya? Ia menyeka air matanya, berusaha menenangkan hati yang bergejolak.

Bacaan Terkait :

Kisah Sejati “Kasih Tak Sampai” Layla Majnun, Menjadi Ibrah Kisah Cinta Anak Manusia

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

Di masjid kampus, Zakariyah masih tenggelam dalam doa. Ia merasakan kedamaian dalam tangisnya. Perlahan, hatinya merasa lebih lapang. Dalam munajat panjangnya, ia memohon agar hatinya dituntun kepada takdir yang terbaik.

“Ya Allah, jika memang ia bukan untukku, maka kuatkan hatiku untuk merelakan. Namun, jika memang Engkau takdirkan kami bersama, mudahkanlah jalannya.”

Di kejauhan, adzan Subuh berkumandang, mengakhiri malam yang panjang dalam sujud dan doa. Ruqayyah menutup mushafnya dengan hati yang masih bertanya, sementara Zakariyah menyeka air matanya, siap untuk menerima apapun yang Allah gariskan untuknya.

Mereka berdua telah menyerahkan segalanya kepada-Nya. Kini, hanya takdir yang akan menjawab doa-doa yang telah mereka panjatkan dalam linangan air mata.

Jawaban Takdir: Keikhlasan dan Hikmah

Matahari senja mewarnai langit Taman Sriwedari dengan semburat jingga yang temaram. Udara sore berembus lembut, membawa ketenangan yang samar-samar merayapi hati setiap insan yang singgah. Riuh rendah anak-anak bermain di kejauhan, pasangan-pasangan berjalan beriringan, dan para pedagang kaki lima mulai bersiap menutup lapaknya.

Di antara keramaian itu, dua sosok yang dulu sering bertukar doa kini berhadapan dalam kebisuan. Ruqayyah dan Zakariyah, tanpa direncana, kembali dipertemukan oleh takdir. Namun, tidak ada lagi tatapan yang berbicara, hanya keheningan yang menyelimuti mereka.

Ruqayyah menundukkan wajahnya. Di balik kerudung lembutnya, ia menyembunyikan rasa yang telah ia kubur dalam-dalam. Perjodohan yang telah ditetapkan keluarganya kini hampir terlaksana. Hatinya masih diliputi pertanyaan yang tak terjawab, tetapi ia memilih untuk pasrah.

Zakariyah menatapnya sekilas, lalu menghela napas panjang. Di hatinya, tidak ada lagi gejolak yang menyesakkan, hanya keikhlasan yang perlahan tumbuh dan bersemi. Cinta yang pernah ia jaga kini bukan lagi tentang memiliki, tetapi tentang merelakan. Sebab, ia tahu bahwa setiap takdir yang tertulis adalah skenario terbaik dari Sang Maha Kuasa.

“Assalamu’alaikum, Ruqayyah,” sapa Zakariyah akhirnya, suaranya tenang namun mengandung makna yang dalam.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” jawab Ruqayyah, lirih namun cukup jelas untuk terdengar.

Sejenak, keduanya terdiam lagi. Seakan tidak ada kata yang perlu diucapkan, karena hati mereka telah saling memahami. Namun, Ruqayyah akhirnya berbicara dengan suara lembut yang sedikit bergetar.

“Bagaimana kabarmu, Akhi? Sudah lama kita tidak berbincang.”

Zakariyah tersenyum tipis. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Aku berharap kabarmu juga demikian, Ukhti.”

Ruqayyah mengangguk pelan. Ada kebahagiaan tersirat dalam ucapannya, namun ada juga kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan. “Aku… telah menerima pinangan itu, Zakariyah.”

Zakariyah menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum yang begitu menenangkan. “Alhamdulillah. Aku yakin, apa pun yang telah Allah takdirkan untukmu adalah yang terbaik. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.”

Ruqayyah menahan napas, berusaha agar air matanya tidak jatuh. Kata-kata itu begitu tulus, begitu ikhlas, dan justru membuat hatinya semakin terenyuh. Ia tahu, di balik ketegaran Zakariyah, ada rasa yang ia relakan.

“Kadang, kita mencintai sesuatu, tetapi Allah punya rencana yang lebih baik. Aku percaya, jika Allah tidak menakdirkan kita bersama, itu karena ada hikmah yang lebih besar. Cinta sejati bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang mendoakan dari kejauhan,” lanjut Zakariyah, suaranya begitu lembut, seakan menenangkan badai dalam hati Ruqayyah.

Ruqayyah menggigit bibirnya, menahan haru yang semakin menyesakkan dada. Ia mengangguk, lalu berkata dengan suara yang hampir berbisik, “Terima kasih, Zakariyah. Untuk semua doa dan kebaikanmu. Semoga Allah mempertemukanmu dengan seseorang yang lebih baik dariku.”

Zakariyah tersenyum. “Dan semoga Allah selalu menjaga langkahmu dalam kebahagiaan dan keberkahan, Ruqayyah.”

Angin sore berembus pelan, seakan menjadi saksi atas perpisahan dua hati yang saling mendoakan dalam diam. Tanpa kata-kata lebih lanjut, mereka memilih untuk berpisah, membawa hati mereka masing-masing dalam ketenangan yang baru.

Di Balekambang, Zakariyah duduk di bawah pohon rindang, menatap langit yang mulai berwarna ungu kebiruan. Dalam hatinya, ia mengulang doa yang telah ia panjatkan berulang kali dalam sujudnya.

“Ya Allah, jika dia bukan takdirku, maka tenangkanlah hatiku dan lapangkanlah dadaku untuk menerima ketetapan-Mu. Jadikan rasa ini sebagai bagian dari doa yang selalu kuserahkan kepada-Mu. Karena aku yakin, Engkaulah sebaik-baik perencana.”

Ia tersenyum. Cintanya kepada Ruqayyah kini telah menjadi bagian dari doanya, bukan lagi keinginannya. Dan dalam hatinya, ia percaya, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya yang berserah diri.

Langit semakin gelap, tapi cahaya di hati Zakariyah semakin terang. Ia bangkit, melangkah dengan penuh ketenangan. Takdir Allah telah menjawab, dan ia telah menerimanya dengan keikhlasan yang utuh.

Cinta yang Tak Pernah Sia-sia

Malam di Masjid Kampus UNS terasa begitu tenang. Cahaya lampu-lampu redup menerangi halaman masjid, memberikan suasana syahdu bagi siapa pun yang datang untuk bersujud kepada-Nya.

Seorang pemuda berdiri di mimbar, dengan tatapan teduh yang penuh ketenangan. Dialah Zakariyah, yang malam ini kembali mengisi kajian Islam.

Tema kajian malam ini adalah Menyikapi Takdir dengan Ikhlas. Dengan suara yang tenang dan penuh hikmah, ia mengawali kajian dengan sebuah pertanyaan yang menusuk kalbu.

“Saudara-saudaraku, pernahkah kita merasa bahwa apa yang kita inginkan tidak selalu menjadi kenyataan? Pernahkah kita merasa kehilangan, lalu bertanya-tanya, mengapa takdir membawa kita ke arah yang berbeda?”

Para hadirin diam, menyimak dengan penuh perhatian. Di antara mereka, ada seorang wanita yang menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca. Dialah Ruqayyah.

Sejak pernikahannya sebulan lalu, hatinya masih sering diliputi perasaan yang sulit ia gambarkan. Ia bersyukur atas takdir yang Allah berikan, tetapi ada sesuatu yang mengendap dalam sanubarinya—sebuah kenangan, sebuah doa yang tak pernah ia hapus dari ingatannya.

Zakariyah melanjutkan, “Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216, ‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’”

Ruqayyah menggigit bibirnya, mencoba menahan gejolak perasaan. Ia teringat malam-malam panjang yang dihabiskannya dalam munajat, memohon petunjuk kepada Allah. Takdir telah menjawab, dan kini ia telah menjadi istri dari seseorang yang dipilihkan keluarganya.

Namun, meskipun ia telah menjalani peran barunya, ia tak bisa memungkiri bahwa ada rasa yang tersimpan rapi dalam hatinya—bukan lagi dalam bentuk keinginan, melainkan doa.

“Ikhlas bukan berarti tidak merasa sakit atau kehilangan,” lanjut Zakariyah. “Tetapi ikhlas adalah ketika kita mampu melepaskan sesuatu karena kita yakin bahwa Allah telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik. Cinta sejati bukan sekadar tentang memiliki, tetapi tentang mendoakan, tentang merelakan, tentang percaya bahwa segala yang Allah takdirkan adalah yang terbaik untuk kita.”

Ruqayyah menutup matanya sejenak, merasakan getaran kata-kata itu dalam hatinya. Ada ketenangan yang perlahan menyelinap dalam jiwanya. Ia menyadari bahwa apa pun yang terjadi, cinta yang ia simpan tidak pernah sia-sia. Cinta yang tumbuh di antara mereka telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih indah—doa yang tak terputus, yang terus mengalir dalam sujud malam.

Usai kajian, Zakariyah turun dari mimbar. Para peserta perlahan bubar, meninggalkan ruangan dengan hati yang lebih tenteram. Ruqayyah tetap duduk di tempatnya, menatap kosong ke arah sajadah di depannya. Ia ingin bangkit, tetapi langkahnya terasa berat.

Tiba-tiba, suara lembut seorang wanita membuyarkan lamunannya. “Ruqayyah, ayo pulang. Sudah malam.”

Ia menoleh dan tersenyum tipis. “Iya, sebentar lagi.”

Ruqayyah bangkit, melangkah keluar dari masjid dengan hati yang lebih ringan. Ia tidak tahu apakah Zakariyah menyadari kehadirannya malam ini. Namun, satu hal yang ia tahu dengan pasti—cinta yang bertumpu pada Allah tidak akan pernah sia-sia.

Di pelataran masjid, Zakariyah menatap langit malam, menarik napas panjang. Ada ketenangan dalam dirinya, ada kepasrahan yang kini benar-benar ia rasakan. Ruqayyah telah menjalani takdirnya, dan ia pun harus melanjutkan langkahnya.

Malam semakin larut, tetapi doa-doa mereka terus mengalir, menembus langit, mengukir kisah cinta yang tidak harus berakhir dalam kebersamaan, tetapi dalam keikhlasan dan ketundukan kepada-Nya. (habis)

______________

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen CintaCerpen KehidupanCerpen MotivasiCerpen ReligiKasih Tak SampaiMunajat Cinta
ShareTweetSendShare
Previous Post

Besok Idul Fitri, Yuk Segarkan Niat, Takbir, dan Bacaan Shalatnya Biar Afdal

Next Post

Tips Tetap Segar, Sehat, dan Glowing Saat Silaturahmi Idulfitri

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Buruan, Daftarkan Kuliah PTKIN Jalur Prestasi Tanpa Ujian Tertulis yang Ditutup 6 Maret

Tips Tetap Segar, Sehat, dan Glowing Saat Silaturahmi Idulfitri

Menghadapi Anak Remaja yang Memasuki Masa Pubertas dalam Perspektif Islam

Menghadapi Anak Remaja yang Memasuki Masa Pubertas dalam Perspektif Islam

Discussion about this post

TERKINI

Imbas Serangan AS-Israel ke Iran yang Membuat Selat Hormuz Ditutup, 13 Juta Barel Hilang Setiap Hari

25 April 2026

Fatayat NU Memperingati Harlah Ke-76 dengan Ziarah dan Aksi Sosial Serentak

25 April 2026

Trump Ngebet Minta Iran Diganti Italia di Piala Dunia Sejak Maret, Italia Tidak Sudi

24 April 2026

Negara Asal Merek-merek Handphone yang Pernah dan Masih Diproduksi

24 April 2026

Pemilu Pertama Gaza Sejak Lebih dari Dua Dekade Kosong Akan Berlangsung di Deir al-Balah Sabtu Ini

23 April 2026

Iran Peringatkan Negara-negara Teluk Agar Tidak Mengizikan Wilayahnya Jadi Tuan Rumah Serangan

22 April 2026

Menjalani Usia Paruh Baya yang Identik dengan Midlife Crisis, Kiat Sehat Psikis dan Fisik

22 April 2026

Trump Posting di Truth Social Ngamuk-ngamuk Dianggap Dirayu Netanyahu untuk Perang Lawan Iran dan Kredibilitasnya 32 Persen

21 April 2026

Pematangan Giant Sea Wall Pantura Dipercepat, Ratas Dipimpin Presiden Prabowo

21 April 2026

Negosisasi Putaran Dua Akan Kembali Dimediasi Pakistan dalam Beberapa Jam, Iran Belum Konfirmasi dan Trump Kembali Ancam

20 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video